Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang putri yang cantik, tapi suka bersikap semena-mena. Dia selalu membuat keputusan yang menyusahkan rakyat dan tidak pernah menghargai pekerjaan orang lain. Semakin lama, negara yang dipimpinnya hancur.

Hingga pada suatu hari, rakyat meminta pertolongan pada seorang peri. “Tolong kami peri, lakukan sesuatu. Kami tidak tahan lagi dengan tuan putri yang memerintah dengan sesuka hati!” seru rakyat. Peri yang bijak iba pada penderitaan rakyat, lalu mengutuk sang putri menjadi sebuah boneka lusuh. “Wahai putri, mulai sekarang kau akan merasakan bagaimana rasanya sendirian, susah, miskin, dan terbuang,” kutuk si peri.

Sejak saat itu, perjalanan sang putri dari zaman ke zaman sebagai boneka lusuh dimulai. Dia selalu mencoba mendekati orang-orang, berkata bahwa dia adalah seorang putri yang dikutuk. Tapi, semua yang didekati sang putri selalu lari ketakutan. Sang putri pun hanya bisa meratapi nasibnya.

Pada suatu hari, hujan lebat  turun dan seorang nenek pedagang kue datang ke rumah kosong tempat tinggal sang putri. “Permisi, ijinkan saya berteduh di sini,” seru si nenek. “Nenek aneh. Coba aku kejutkan,” gumam sang putri. “Silakan, Nek,” jawab sang putri sambil menunjukkan wujud boneka lusuhnya. Si nenek terdiam heran memandang sebuah boneka yang bisa berbicara. Tiba-tiba, si nenek tertawa, “Terima kasih. Aku senang ternyata rumah kosong ini dihuni oleh boneka cantik, tapi sayang sekali sedikit lusuh,” candanya. Sang putri terkejut. “Mengapa Nenek tidak takut padaku?” tanya sang putri. “Kau tidak jahat padaku, jadi mengapa aku harus takut?” kata si nenek. Sang putri terharu, dalam hati dia berjanji akan membantu kalau si nenek dalam kesulitan.

Si nenek bercerita pada sang putri. “Aku menjual kue untuk membantu cucuku yang ingin sekolah, tapi tidak punya uang,” kata nenek sedih. Tiba-tiba, sang putri mendapat ide. “Nek, aku bisa membantumu!” seru sang putri.

Nenek dan sang putri lalu berkeliling kota bersama. Mereka membuat pertunjukan boneka ‘Nenek dan Sang Putri’. Dalam pertunjukan itu, si nenek akan duduk bersama sang putri, dan mereka berdua mendongeng untuk orang-orang.

Tak disangka, banyak orang menyukai pertunjukan mereka. Sampai suatu hari, mereka tampil di televisi  dan menjadi bintang besar. Si nenek memiliki banyak uang dan tidak perlu lagi bersusah payah menjual kue. “Akhirnya, aku bisa menyekolahkan cucuku sampai setinggi yang dia inginkan,” ucap si nenek sambil menangis terharu.

Suatu hari, peri yang telah mengutuk sang putri mendatanginya. “Putri, karena kau telah berbuat baik, maka kutukanmu berakhir. Kau bisa menjadi manusia lagi,” ujar peri. Tapi sang putri menolak. “Wahai Peri, biarkan wujudku seperti ini. Perjalanan bertemu dan menolong orang lain ternyata sangat menyenangkan. Aku ingin memulai perjalananku lagi!” seru sang putri bersemangat. (Teks: Seruni/ Ilustrasi: Fika)

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *