Helen tinggal di Kerajaan Mara bersama Ayah dan Ibunya. Ayah Helen adalah seorang prajurit. Kala itu, Kerajaan Mara sedang berperang dan Ayah harus pergi ke medan perang. Helen hanya tinggal berdua dengan Ibunya di rumah.

Ketika bulan Desember tiba, hiasan Natal dipasang di koridor dan ruang kelas yang biasanya terlihat muram di sekolah. Teman-teman Helen membicarakan tentang pesta Natal yang meriah. Mendengarnya, membuat Helen menjadi bersemangat. Harapannya, kalau Ayahnya pulang dari medan perang, akan ada pesta Natal yang meriah di rumah.

Sepulang sekolah, Helen mencari Ibunya. “Ibu, sebentar lagi Natal tiba. Ayah akan pulang, kan?” tanya Helen. “Mari berdoa dan berharap yang terbaik, Helen,“ jawab sang Ibu. Helen pun menjadi murung. “Jangan murung, sayang. Ayo, cari pohon cemara dan menghias pohon Natal,” ajak Ibu.

Helen dan Ibu pun pergi ke pasar mencari pohon cemara kecil untuk dipajang di rumah.  Mereka menemukan pohon cemara yang dicari. Ternyata, pohon cemara itu dijual oleh seorang anak perempuan sebaya Helen, bernama Luisa. “Mengapa kau menjual pohon cemara?” tanya Helen. “Apa boleh buat. Ayahku pergi berperang dan Ibuku sakit keras. Aku harus mencari uang untuk membeli obat Ibu,” jawab Luisa lesu.

Mendengarnya, Ibu Helen memberikan uang lebih pada Luisa. “Terima kasih!” seru Luisa terharu. “Aku ingin berteman dengannya,” gumam Helen ketika dia berjalan pulang bersama Ibunya.

Keesokan harinya, Helen kembali ke pasar mencari Luisa, tapi tak ada. “Aku coba lain hari saja,“ ucap Helen berjalan pulang.

Sesampainya di depan rumah, Helen terdiam. Ada kereta kuda. “Helen! Ayah pulang!” seru Ibu. Helen pun berlari menemui Ayahnya. “Helen!” seru Ayah. Helen memeluk Ayahnya sambil berlinang air mata bahagia. Perang telah usai.

Sementara Ayah dan Ibu menyiapkan perayaan Natal di rumah, Helen pergi ke pasar untuk mencari Luisa. Tapi tak kunjung bertemu. Helen berdoa, semoga tak ada hal buruk menimpanya. Helen pun pulang dengan sedih.

Setibanya di rumah, Helen melihat bahan makanan yang disiapkan Ibu. “Mengapa tidak ada ayam kalkun?” tanya Helen. “Ayam kalkun sangat mahal, jadi kita tidak bisa membelinya,” jelas Ibu. “Perang sudah selesai, tapi kerajaan menjadi kesulitan,” tambah Ayah. Helen tertunduk sedih. Tahun ini tidak ada pesta yang meriah.

Sore itu, hujan salju turun dengan lebat. Dari jendela, Helen melihat seseorang berjalan menembus lebatnya salju. Itu Luisa! Kemudian, tiba-tiba dia terjatuh. “Ayah! Ibu!” Helen memanggil orangtuanya meminta tolong. Ayah pun membawa Luisa ke rumah dan merawatnya.

Ternyata, Ayah Luisa meninggal di medan perang dan Ibunya meninggal karena sakit. Uang Luisa habis untuk biaya pemakaman. Dalam keadaan sedih dan lapar, dia berjalan tanpa arah. “Luisa, aku kenal dengan Ayahmu. Dia berpesan kalau terjadi apa-apa dengannya atau Ibumu, aku diminta mengurusmu,” jelas Ayah Helen. Ibu Helen mengangguk sambil tersenyum menyetujui. Helen dan Luisa berpandangan dan menangis terharu. Helen tidak peduli lagi akan pesta yang meriah dan makanan enak. Bukan itu arti Natal yang sebenarnya, tapi kebersamaan dan kasih sayang.

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: JFK

 

 

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *