Puka si anjing, melihat kalender yang ada di dinding, dan menghela napas. “Sebentar lagi hari Natal tiba,” katanya. “Betul sekali, dan itu berarti sudah hampir setahun kau tinggal di apartemen ini,” sebuah suara membuat Puka tersadar dari lamunannya, dan dia menengok ke belakang.

Rupanya, itu Bulo si kucing. Sebetulnya, apartemen ini bukan rumah Puka. Karena sesuatu hal, Puka kabur dari rumahnya. Puka yang jadi sebatang kara ditemukan oleh Bulo. Karena kasihan, Bulo mengajaknya tinggal bersama di apartemen. Untung saja majikan Bulo menyukai Puka. “Ada yang harus kubicarakan denganmu, Puka,” kata Bulo. Wajah kucing itu serius, membuat Puka bingung.

Rupanya, pembicaraan Puka dan Bulo sangat mengejutkan. “Tak lama lagi majikanku dan aku akan pindah dari apartemen ini, Puka. Kami akan tinggal bersama nenek dan kakek majikanku, dan mereka tidak menyukai anjing,” kata Bulo sedih. “Jadi, aku tidak bisa lagi tinggal bersamamu?” tanya Puka. “Iya, Puka,” jawab Bulo murung. “Padahal sebentar lagi hari Natal, tapi aku tidak punya siapa-siapa!” lolong Puka sedih. “Itu tidak benar, Puka. Kau punya rumah. Kau saja yang lari dari rumahmu, kan? Kembalilah ke rumahmu,” kata Bulo. “Itu tidak mungkin, Bulo. Majikanku pasti membenciku!” Dan Puka pun menceritakan mengapa dia memutuskan kabur dari rumahnya.

Puka ingat semuanya. Waktu itu hari Natal akan tiba dan majikan Puka sangat gembira karena bisa membeli pohon natal yang sudah lama diinginkannya. Tapi suatu malam, Puka tidak sengaja menjatuhkan pohon natal itu ke perapian. Pohon natal itu terbakar habis. Puka yang sedih dan takut, tidak berani menghadapi majikannya. “Kau mengerti kan sekarang, Bulo? Aku tidak bisa pulang ke rumah. Mana mungkin aku bisa membeli pohon natal?!” tangis Puka. “Kalau begitu Puka, berikan majikanmu pohon natal yang kau buat sendiri,” kata Bulo dengan mata berbinar. “Apa maksudmu?” tanya Puka.

Bulo mengajak Puka masuk ke dalam kamar majikannya. Di dalam kamar itu ada tumpukan buku yang sangat tinggi. “Kau pernah bercerita padaku kalau majikanmu suka membaca tapi tidak punya uang untuk membeli buku? Majikanku tidak memerlukan buku-buku ini lagi. Kita bisa memberikan hadiah natal dan pohon natal pada majikanmu sekaligus!” kata Bulo.

Mulanya, Puka sama sekali tidak punya keberanian untuk berhadapan dengan majikannya. “Bagimana caranya mencairkan suasana?” tanya Puka. “Kau bisa memulai dengan menuliskan kata ‘Aku minta maaf’ Puka,” Bulo memberi semangat. Puka mempercayakan semuanya pada Bulo yang cerdik, menuruti sahabatnya itu.

Seminggu kemudian, majikan Puka menemukan hal yang mengejutkan di depan rumahnya. Ada tumpukan buku-buku yang tinggi, dan tumpukan buku itu dibentuk seperti pohon natal! Pohon natal buku itu juga dihias dengan lampu-lampu yang berwarna-warni. Ada tulisan ‘MAAFKAN AKU, DARI: PUKA’.

Tak lama kemudian, Puka muncul dari balik pohon natal buku. Majikan Puka sangat gembira melihat Puka. Dia bergegas keluar rumah dan berlari merentangkan tangannya menyambut Puka. Puka menggonggong gembira. Rupanya, majikan Puka sudah lama memaafkan Puka, dan dia ingin Puka kembali!

Bulo melihat mereka dengan bahagia. “Bulo, terima kasih, tanpa bantuanmu aku tidak mungkin bahagia!” kata Puka terharu. “Bahagia tidak jauh dari jangkauanmu Puka, asal kau mau berusaha mendapatkannya!” ucap Bulo sambil melambai pada sahabatnya. “Jangan lupa mengunjungiku!” kata Puka membalas lambaian tangan Bulo.

 

 

 

 

Cerita: Seruni  Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *