Nani tertawa terbahak-bahak ketika menonton video  teman-temannya yang di-upload di internet. Di video itu, diam-diam salah satu temannya memberikan lem di sebuah kursi, kemudian teman mereka yang duduk di kursi kebingungan karena pakaiannya lengket. “Kenapa ketawa malam-malam?”  tanya Kak Fera, kakak Nani masuk ke kamar Nani. “Lihat dong videonya! Lucu banget!”  ujar Nani menunjukkan video temannya pada Kak Fera. “Harusnya kamu kasihan sama teman kamu yang dijadikan korban lelucon. Gimana kalau kamu yang jadi dia? Apa bisa ketawa?” kata Kak Fera pada Nani. “Kakak nggak punya selera humor!” gerutu Nani.

Di sekolah, Nani bertemu teman-teman jahilnya. Merekalah yang suka meng-upload video jahil yang lucu. “Kami kehabisan ide lucu, nih. Kamu punya ide nggak, Nani?” tanya teman-teman jahilnya. “Ada,” Jawab Nani sambil nyengir lebar, lalu menceritakan idenya. “Ayo, kita jalankan!” seru teman-teman jahilnya bersemangat.

Bel pulang sekolah berbunyi dan dengan bersemangat teman-teman sekelas Nani dan Nani sendiri membereskan buku pelajaran mereka. Tapi Mina teman Nani bingung mencari buku catatan sejarahnya. “Aduh dimana, ya?” ujar Mina bingung. Sampai semua anak pulang, Mina masih mencari bukunya. “Kamu mencari apa, Mina?” tanya Nani. “Buku catatan sejarahku hilang, aku menaruhnya di laci meja tadi, tapi tidak ada!” jawab Mina panik. “Ini dia!” ujar Nani menyerahkan buku catatan sejarah Mina. Wajah Mina bengong kebingungan. Tepat pada saat itu, Nani dan teman-teman jahilnya tertawa. “Maaf ya, Mina, cuma bercanda, kok! Aku yang mengambilnya dari laci mejamu tadi!” kata Nani sambil tertawa. “Kamu jahat! Nggak lucu!” seru Mina sambil mengambil buku catatannya dengan kasar, lalu berlari pulang. Sejak itu Mina tidak pernah mau berbicara dengan Nani.

“Nah, itulah akibatnya. Kamu jadi sedih, kan?” kata Kak Fera ketika Nani menceritakan kemarahan Mina. “Iya, Kak Fera. Setelah Mina marah, aku baru merasa bahwa semua kejahilan yang kuperbuat tidak lucu dan merugikan. Aku dan teman-teman jahilku cuma ingin membuat tertawa orang lain dan mencari pengikut di media sosial,” kata Nani menyesal. “Nah, bagaimana kalau mengajak orang-orang di media sosial berbuat sesuatu yang berguna untuk kebaikan?” usul Kak Fera. Kak Fera benar, dan Nani punya ide!

Waktu itu, Nani sudah minta maaf pada Mina, tapi Mina tidak mau menerima maaf Nani. Beberapa minggu kemudian Mina menghampiri Nani dan berkata, “Nani, aku lihat video kamu dan teman-temanmu, hebat deh!” Nani dan teman-temannya yang sudah tak jahil lagi meng-upload video dengan tema baru, yaitu ‘Sebelum dan Sesudah’. Mereka mencari tempat-tempat yang kotor dengan sampah dan membersihkannya. Pertama Nani meng-upload video ‘Sebelum’ yaitu tempat yang masih kotor dengan sampah. Lalu Nani dan teman-temannya membersihkan tempat itu, dan setelah bersih, tempat itu divideokan dengan nama ‘Sesudah’. Rupanya, Mina tergugah dengan niat baik Nani dan teman-temannya. “Maaf, aku keras kepala, tidak mau memaafkanmu,” kata Mina. “Tidak apa-apa, akulah yang keterlaluan,” kata Nani sambil tersenyum. Sejak itu, Mina menjadi salah satu teman-teman ‘Sebelum dan Sesudah’ Nani, dan mereka mendapatkan banyak pengikut di media sosial!

 

 

 

Cerita: Seruni        Ilustrasi: Agung

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *