Pak Yudi mempunyai tiga orang anak, Anggun, Nanang, dan Ikbal. Dari ketiganya, Nanang mempunyai sifat yang sangat berbeda.

Nanang suka sekali mengganggu hewan peliharaan tetangga. Nanang pernah dijewer Mak Utit gara-gara ayam Mak Utit mati karena jatuh ke dalam sumur setelah dikejar-kejar Nanang.

Siang itu, bersama teman-temannya, Nanang bermain sepakbola di halaman rumah Pak Mahmud. Seekor kucing hitam datang melintas. Tanpa pikir panjang, Nanang segera mengincarnya. Ia menendang bola sekuatnya ke arah kucing hitam tersebut.

Kucing hitam menjerit melengking kesakitan dan jatuh terpental. “Ha..ha..ha..! Horee..!” Nanang tertawa puas.

Begitulah sifat dan kelakuan Nanang setiap hari. Meski kedua orangtuanya selalu menasehati, tidak juga jera. Ia selalu mengganggu semua hewan yang dijumpai.

Hari itu, hari Jum’at. Seperti biasanya sepulang sekolah, Nanang bermain bersama teman-temannya. Kebiasaan Nanang mengganggu hewan masih terus berlanjut.

Hari itu Nanang bermain cukup lama, hampir menjelang Maghrib baru pulang. Sampai di rumah, ia langsung mandi kemudian shalat Maghrib. Setelah shalat Maghrib biasanya ia berdzikir dan berdoa, tapi kali ini Nanang langsung pergi ke kamar.

Menjelang Isya’ Ikbal mencari kakaknya. “Kak, ayo shalat!” panggil Ikbal. “Ya, sudah tidur!” gumam Ikbal. “Bu, Kak Nanang sudah tidur!” lapor Ikbal. “Ya sudah, biar nanti Ibu yang bangunkan, mungkin kecapaian main seharian!” jawab Ibu.

Dalam tidurnya, Nanang bermimpi menjadi seorang pemburu. Ia membayangkan dirinya menjadi seorang jagoan yang tidak terkalahkan. Semua hewan penghuni hutan dapat ia taklukkan.

Saat berburu, tanpa sengaja salah satu anak panahnya mengenai seekor ular naga yang sangat besar dan ganas. Ular naga tersebut sangat marah dan menoleh ke arah Nanang. Ular naga membuka mulutnya lebar-lebar dan menyemburkan hawa panas. Tiba-tiba tubuh Nanang terasa ringan dan tersedot masuk ke dalam mulut ular naga tersebut. Nanang berusaha keras untuk melepaskan diri namun selalu gagal.

“Tolong …tolong…!” Nanang berteriak ketakutan. Teriakan Nanang sampai terdengar Pak Yudi. Pak Yudi bergegas ke kamar Nanang dan membangunkannya.

“Nanang…Nanang…bangun! Kamu mimpi buruk ya! Coba sekarang kamu ingat, apa kamu pernah melakukan kesalahan sehingga kamu mimpi buruk?” tanya Pak Yudi.

“Nanang tadi juga belum shalat Isya’ kan! Ayo shalat dulu, nanti tidur lagi!” ajak Ayahnya.

Keesokan harinya, ketika keluar kamar, Nanang melihat seekor kucing hitam. Tanpa pikir panjang, sifat usilnya langsung keluar. Ia mengambil bola dan menendangnya ke arah kucing tersebut. Kucing terpental dan menabrak guci hingga pecah. Bolanya terus melayang dan mengenai jendela sampai pecah. Nanang ketakutan dan lari keluar rumah.

Tanpa sengaja, Nanang menginjak seekor kucing cokelat yang sedang berada di depan pintu. “Meoong…!” Kucing langsung mencakar dan menggigit kaki Nanang. Nanang terjatuh kaget dan tidak dapat menahan keseimbangan.

“Tolong…tolong…!” teriak Nanang. Kaki Nanang luka dan mengucurkan darah. Ibu yang berada di belakang segera mendatanginya. Nanang kemudian dibawa ke rumah sakit.

“Ayah…Ibu…, badan Nanang sakit semua!” rintih Nanang.

“Nanang bersyukurlah, lukamu tidak terlalu parah. Makanya jangan suka usil lagi. Jangan suka mengganggu hewan dan menakalinya!” Pak Yudi menasehati putranya.

“Ya, Ayah, maafkan Nanang. Nanang berjanji tidak akan usil lagi dan mengganggu hewan-hewan lagi!” ucap Nanang.

“Alhamdulillaah, semoga Allah selalu menyayangi kita semua, aamiin,” ujar Pak Yudi.

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *