Di tengah membaiknya kasus Covid-19 di Indonesia dengan penurunan kasus, masyarakat Indonesia tetap tak boleh lengah menjaga kesehatan. Apalagi di musim penghujan saat ini, ada ancaman penyakit lain yang mengintai, yakni demam berdarah atau dengue. Kasus dengue memang cenderung meningkat selama musim hujan. Sebab, pada musim hujan biasanya ada banyak bermunculan genangan air tempat berkembang-biaknya nyamuk Aedes aegypti pembawa virus dengue.

Di Indonesia sendiri, kasus dengue masih cukup tinggi. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) jumlah kasus dengue dari awal tahun hingga bulan 12 April 2022 mencapai 32.213 kasus dan jumlah meninggal dunia mencapai 323 orang. Sementara itu, jumlah kasus pada tahun 2021 mencapai 73.518 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 705 kasus.

Nah, untuk memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran publik dalam mengantisipasi dan mencegah penyebaran dengue, PT. Takeda Indonesia menyelenggarakan Diskusi Media dengan menggandeng Kementerian Kesehatan Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan Komunitas Dengue Indonesia pada Selasa (19/04) secara virtual di Jakarta.

Kampanye Foto Jentik Jari

Andreas Gutknecht, General Manager PT Takeda Indonesia mengatakan “Penurunan kasus COVID-19 menjadi saat untuk kita melihat kembali dengue, penyakit yang bisa menyebabkan sakit parah, penyebaran yang cepat melalui nyamuk pembawa virus dengue; dan saat ini  belum ada pengobatan spesifik untuk dengue. Di Takeda, kami berkomitmen untuk berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya dengue dan juga pentingnya pencegahan yang inovatif untuk melindungi masyarakat luas yang berisiko terkena dengue.”

Pada kesempatan tersebut, Takeda Indonesia juga mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam upaya waspada dengue dengan melakukan posting foto Jentik Jari, yang menandakan bahwa kesadaran akan bahaya dengue perlu ditingkatkan, dan bahwa dengue ada di sekitar kita.

Musim Penghujan, Tingkatkan Risiko

“Pada musim penghujan seperti sekarang ini, dengue menjadi penyakit yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Kami sangat mendorong partisipasi dan kolaborasi semua pihak dalam mencegah dan menangani endemi demam berdarah di Indonesia. Karena itu, kami mengapresiasi Takeda Indonesia atas partisipasinya dalam mengingatkan kembali serta mengedukasi masyarakat kita mengenai dengue serta upaya preventif yang akan dilakukan,”  ungkap dr. Asik Surya, MPPM, Koordinator Substansi Arbovirosis, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RepubIik Indonesia.

Pemerintah sendiri telah menargetkan penurunan angka kematian akibat dengue menjadi 0,5% pada 2025 dari 0,9% di tahun 2021. Pemerintah terus melanjutkan kampanye pencegahan dengue melalui program 3M plus – Menguras, Menutup, Mendaur Ulang berikut berbagai kegiatan pencegahan lainnya seperti memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat di pintu dan ventilasi serta memberikan larvasida di tempat penampungan air. Namun demikian, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat di tengah pandemi seperti saat ini adalah membedakan gejala penularan COVID-19 dan Dengue.

Kenali Gejala Dengue

Gejala dengue, diuraikan oleh Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A(K), Ketua UKK Infeksi & Penyakit Tropis, Ikatan Dokter Anak Indonesia, sangatlah mirip dengan gejala COVID-19, yaitu seperti demam tinggi,  nyeri di sejumlah bagian tubuh, lesu, dan muncul ruam, hilang nafsu makan, diare, mual muntah dan gelisah. Meskipun begitu, ia mengatakan bahwa ada beberapa tanda yang bisa dicermati, seperti demam mendadak tinggi dan terus menerus, ini merupakan tanda awal dari dengue. Selain itu, dengue dapat disertai kulit muka kemerahan, tidak nyaman pada cahaya terang. Dan juga, demam tidak turun atau segera naik lagi meskipun telah mmeberikan  obat penurun panas, minuman yang berasa dan dikompres hangat.

Penyakit demam berdarah ini, ujar Dr. Anggraini rentan menyerang semua kelompok umur, namun anak-anak adalah kelompok rentan yang alami severe dengue (demam dengue berat). “Sehingga orangtua memiliki peran yang penting dalam mencermati dan mengenali beberapa tanda bahaya dengue. Selain itu, kita bisa melakukan pemeriksaan darah sehingga ada konfirmasi diagnosa bahwa ini adalah demam dengue,” katanya.

Jika tanda bahaya tersebut muncul, jangan tunda lagi, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Adapun tanda bahaya yang mesti diwaspadai antara lain:

  • Tidak ada perbaikan setelah suhu turun.
  • Menolak makan dan minum
  • Sakit perut yang hebat
  • Muntah terus-menerus dengan atau tanpa darah.
  • Lemah, lesu, ingin tidur terus, perubahan perilaku
  • Mengantuk, kebingungan, dan kejang.
  • Perdarahan (timbul bintik-bintik merah di daerah kulit muka-leher-dada/punggungatas, timbul mimisan atau gusi berdarah, BAB berwarna hitam, muntah hitam, menstruasi mendadak lebih banyak )
  • Susah bernapas.
  • Pucat, tangan atau kaki dingin/berkeringat
  • Tidak buang air kecil lebih dari 4 – 6 jam

3M Plus dan Inovasi Vaksin Dengue

Ditambahkan oleh Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) selaku Ketua Komunitas Dengue Indonesia, pandemi COVID-19 belum usai, sehingga ini menjadi double burden, dimana ada dua masalah infeksi yang hadir pada waktu bersamaan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita semua untuk lebih pintar dalam mencegah demam berdarah. “Maka sinergi seluruh kalangan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang bahaya dan pencegahan demam berdarah menjadi penting. Setiap anggota keluarga diharapkan dapat mengenali jenis nyamuk Aedes aegypti yang menularkan dengue. Terlebih lagi upaya pencegahan Demam Berdarah tidak hanya 3M plus tetapi juga inovasi pencegahan lain seperti dengan vaksinasi serta upaya untuk mendorong seluruh kalangan masyarakat untuk lebih waspada dan lebih pintar dalam mencegah demam berdarah,” ungkapnya.

Sejauh ini, Pemerintah telah memetakan penanganan dengue melalui Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025 yang berfokus pada 6 langkah strategis. Salah satu langkah strategis yang dikedepankan Pemerintah adalah inovasi karena merupakan kunci keberhasilan dalam  upaya pencegahan penyebaran dengue. Inovasi pencegahan ini termasuk pengembangan vaksin dengue yang tentunya aman dan dapat melindungi populasi anak dan juga dewasa yang berisiko terhadap dengue diakibatkan empat stereotipe dengue, tanpa melihat riwayat dengue sebelumnya. Hal ini juga harus sesuai dengan rekomendasi WHO bahwa ketersediaan vaksin dengue bisa mendorong keberhasilan pengendalian penyakit tersebut.

“Vaksinasi merupakan salah satu inovasi dalam strategi pencegahan penyebaran dengue yang sangat mungkin dilakukan di masa depan karena masyarakat secara luas sudah terbiasa dengan pelaksanaan vaksinasi. Hal ini tidak terlepas dari program vaksinasi COVID-19 yang telah diselenggarakan sebanyak tiga kali secara gratis oleh Pemerintah, kesadaran masyarakat akan pentingnya vaksinasi sudah sangat baik. Karena itu, kami berharap opsi untuk vaksinasi dengue bisa menjadi semakin luas dan angka kasus Dengue maupun kematian akibat dengue dapat turun sejalan dengan target Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025,” tutup Dr. Asik Surya, MPPM.

Foto: Efa

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *