Ketika pindah sekolah yang baru, Dini mendapat teman baru bernama Winda. Tidak butuh waktu lama bagi Dini untuk akrab dengan Winda karena Dini mengagumi Winda. Dini adalah murid yang pintar dalam pelajaran. Tapi dia sama sekali bingung kalau disuruh mengarang atau membuat cerita.

Sedangkan Winda yang hanya punya nilai biasa saja di pelajaran, sangat berbakat dalam mengarang. Winda sudah banyak memenangkan lomba mengarang. Karena inilah Dini sangat kagum pada Winda. Winda senang sekali karena Dini menyukai cerita-cerita karangannya. Bahkan Winda pernah memberikan kumpulan cerita-cerita pendek karangannya sebagai hadiah ulang tahun untuk Dini.

Sebentar lagi ujian sekolah tiba, Dini merasa cemas. Tapi ternyata Winda lebih cemas dari Dini. “Belakangan ini aku nggak bisa tidur,” keluh Winda. “Mungkin kamu terlalu cemas, Winda. Ujian memang susah, tapi kita harus menghadapinya. Kalau kamu kesulitan, aku bantu kamu belajar, ya,” kata Dini. “Terima kasih, ya, Dini! Bagaimana kalau hari Sabtu nanti aku pergi ke rumahmu untuk belajar?” tanya Winda antusias. “Boleh! Aku senang sekali!” angguk Dini setuju.

Hari Sabtu, Winda belajar bersama Dini. Dini senang sekali karena Winda dengan cepat bisa mengerti jawaban pelajaran yang ditanyakannya. “Wah, hebat deh, Winda! Kamu pasti lancar ujiannya nanti!” kata Dini kagum. “Terima kasih, Dini, kurasa…aku bisa begini karena musik ini, deh!” kata Winda. Dia lalu memperdengarkan sebuah musik dari gadget-nya. Musik itu indah pada permulaan, tapi lama kelamaan berubah menjadi menyeramkan. “Katanya musik ini bisa membuat pintar!” seru Winda. Dini berpura-pura antusias, tapi sebenarnya tidak percaya.

Dini mulai khawatir ketika mengetahui bahwa ternyata banyak teman-teman sekelasnya yang seperti Winda, mempercayai musik misterius yang didengarnya untuk membuat pintar. “Winda, teman-teman, tolong hentikan ini semua! Aku takut kalian kena masalah nanti!” mohon Dini. “Mudah bagimu berbicara begitu Dini, kau kan pintar!” kata Winda, dan beberapa teman lain yang juga mengiyakan.  Dini yang sedih, hanya bisa diam saja.

Seminggu sebelum ujian, Dini mendengar berita yang mengejutkan. Winda dan teman-teman yang mendengarkan musik, berjalan sambil tidur! Untung saja keluarga mereka berhasil menyadarkan Winda dan teman-teman! Dini segera menengok Winda di rumahnya.

“Winda, kau baik-baik saja?” tanya Dini. “Aku baik-baik saja Dini, maaf ya, aku waktu itu berkata kasar padamu,” jawab Winda. “Tidak apa-apa,” kata Dini. “Musik yang aku dan teman-teman dengar, kuunduh dari sebuah akun jejaring sosial. Pemilik akun itu tampak seperti anak yang pintar. Dia sering memperlihatkan nilai-nilainya yang bagus,” cerita Winda.

“Aku sudah sempat mencari tahu, tapi ketika kemarin kulihat lagi, ternyata akun itu sudah hilang. Kurasa dia orang yang jahat. Karena itulah kita harus selalu berhati-hati,” kata Dini. “Kurasa hanya ada satu jalan untuk menjadi pintar sepertimu Dini, tidak malas belajar,” kata Winda. “Itulah yang kulakukan selama ini!” angguk Dini sambil tersenyum.

 

 

 

Cerita: Seruni            Ilustrasi: Novi Chrisna

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *