Ayah dan Ibu Elisa adalah pianis terkenal dan sejak umur 3 tahun Elisa sudah diajarkan untuk menjadi seorang pianis. Elisa mulai ikut kompetisi piano sejak usia 8 tahun. Kini usia Elisa 12 tahun dan dia belum pernah kalah di semua kompetisi piano yang diikutinya. Semua orang memuji Elisa. Namanya diakui oleh lingkungan musisi dan orang awam.

Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-13, Elisa mengikuti kompetisi piano yang terpenting di perjalanan karirnya. Kompetisi ini akan diikuti oleh peserta luar negeri juga. Elisa yang percaya diri, yakin dia akan meraih juara pertama. Tapi ternyata, dia hanya meraih juara 2. Elisa sangat kecewa, dan dia kehilangan semangat untuk bermain piano.

Ayah dan Ibu Elisa juga teman-temannya menghibur Elisa. Tapi Elisa marah dengan berita dan omongan orang yang membahas kekalahannya. “Tapi aku tetap suka pada musik. Kurasa, untuk sementara ini aku akan mencoba untuk menciptakan lagu,” kata Elisa.

Suatu hari Elisa mendengar kabar kalau rumah kosong di sebelahnya sudah terisi, dan rasa tertariknya makin tergugah karena beberapa hari kemudian sebuah mobil box menurunkan piano dan membawanya ke dalam rumah. Piano itu bukan piano tegak, tapi piano konser, grand piano. Piano ini hanya dimiliki oleh pianis! Lalu pada suatu kesempatan Elisa mendengar alunan piano dari rumah. Dia mengenal gaya permainan piano ini. “Ini permainan piano dari anak yang meraih juara 1 di kompetisi piano!” kata Elisa.

Suatu ketika Elisa mendengar sebuah permainan duet satu bagian dari rumah sebelah. Rupanya si juara 1 sedang berlatih! Elisa yang saat itu sedang berada di piano, segera menyambung permainan duet itu. Rupanya si juara 1 mengetahui hal itu dan tak lama kemudian mereka berduet. Elisa yang mulanya menyimpan kekesalan pada si juara 1 sekarang mulai tertarik padanya. “Aku ingin tahu seperti apa dia,” kata Elisa.

Keesokan harinya Elisa berkunjung ke rumah si juara 1. Elisa menekan bel rumah dan kemudian dia mendengar suara langkah kaki dan sebuah suara yang tidak biasa…seperti bunyi benda yang beradu dengan lantai. Pintu dibuka dan seorang anak perempuan sebayanya muncul. Tapi anak itu tidak memandang langsung ke wajah Elisa, dan anak itu memegang tongkat di tangan kirinya. “Namaku Elisa, kaukah yang bermain piano?” tanya Elisa. “Ya, namaku Gina, maaf jika aku aneh…aku tidak bisa melihat dari lahir,” jawab Gina.

Elisa benar-benar terkejut. “Aku sangat menyukai suara piano, dan bertekad untuk menjadi seorang pianis. Banyak yang meremehkan karena aku buta. Tapi aku tidak mau menyerah. Aku harus menunjukkan pada mereka bahwa aku bisa. Akhirnya aku mendaftar kompetisi yang kau ikuti juga, dan aku bisa meraih juara 1,” cerita Gina. “Gina..mulanya aku kesal karena kalah. Aku juga kesal padamu. Tapi semua itu bodoh. Kini setelah aku mengingat kembali permainan pianomu, ada yang kurasakan. Penjiwaanmu ketika memainkan lagu kompetisi sangat luar biasa. Sedangkan aku hanya memainkan lagu itu dengan teknik yang hebat dan perasaan sombong,” kata Elisa. Dia kagum pada Gina.

Sejak itu Elisa dan Gina bersahabat. Mereka saling bertukar pikiran dan mengasah kemampuan. “Elisa kau sangat pintar berimprovisasi kalau memainkan lagu,” kata Gina. “Sebetulnya aku menyukai komposisi lagu,” Elisa berkata jujur. Dan Elisa mendapat ide. “Gina, kini aku tidak peduli menang atau kalah. Aku ingin menciptakan lagu, dan kuharap kau mau memainkan musik karyaku?” tanya Elisa. “Aku akan senang sekali!” Gina  menjawab dan tersenyum bahagia.

 

 

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *