Moopoo adalah seorang pemuda biasa yang ramah dan riang. Ia bekerja sebagai tukang servis payung keliling. Moopoo menyukai pekerjaannya. Ia juga senang bercakap-cakap dengan ibu-ibu langganannya. Moopoo senang sekali mendengarkan cerita suka duka ibu-ibu tersebut.

Suatu hari, seorang penyihir tua mengamati Moopoo yang sedang bekerja. Ketika Moopoo sendirian, penyihir tua itu mendekatinya dan berkata, “Moopoo, aku senang melihat sifatmu yang ramah dan riang. Aku ini seorang penyihir. Aku ingin pensiun sebagai penyihir. Apa kau bersedia, jika aku mewariskan ilmu sihirku kepadamu?” tanya si penyihir. “Boleh, terima kasih. Nanti, aku bisa menyihir batu menjadi cokelat, supaya bisa membuat anak-anak gembira!” kata Moopoo dengan riang. “Tentu saja. Tetapi, ilmu sihirku tidak boleh digunakan untuk berbuat jahat!” pesan si penyihir tua.

Berbulan-bulan lamanya, Moopoo belajar ilmu sihir hingga akhirnya dia lulus. Si penyihir tua bahkan memberikan buku dan tongkatnya.

Suatu pagi, Moopoo keluar rumah untuk mempraktekkan ilmu sihirnya. Ia bertemu dengan beberapa anak yang sedang bermain kelereng. “Sim salabim, abracadabra!” Moopoo menyihir beberapa batu menjadi cokelat. Waaaah…anak-anak itu berebut memungut cokelat dengan gembira.

Malam harinya, Moopoo merenung di tempat tidurnya. “Ternyata, jadi tukang sihir lebih menyenangkan daripada jadi tukang servis payung!” ujar Moopoo.

Lama kelamaan, semakin banyak orang yang tahu kalau Moopoo bisa sihir. Hidup Moopoo mulai tidak tenang. Pagi, siang, dan malam, orang-orang datang ke rumahnya meminta tolong.

Beberapa orang bahkan meminta hal yang aneh. Misalnya saja, yang bermata sipit minta dibesarkan. Yang bermata besar minta dikecilkan. Yang bertubuh pendek ingin tinggi, yang bertubuh tinggi ingin dikurangi tingginya. Moopoo pun terpaksa menolak permintaan mereka.

Suatu hari, Moopoo tidak tahan lagi menghadapi banyaknya permintaan. Ia pun pergi dari rumahnya. Setelah berjalan jauh, ia beristirahat di tepi sungai. Seorang pemancing datang dan duduk di dekatnya. Mereka bercakap-cakap. Moopoo mengatakan bahwa ia sedang mencari pekerjaan.

“Carilah pekerjaan yang kamu sukai. Hidup kita tidak sampai 100 tahun!” nasihat si pemancing. “Aku suka memancing dan pekerjaan ini kulakukan, walau ada orang yang mengatakan pekerjaan ini membosankan!” kata si pemancing lagi. “Wah, nasihatmu sangat bagus!” seru Moopoo.

Moopoo berjalan lagi. Ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Ia akan tetap menyihir, tetapi berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Jadi, tidak ada orang yang kenal padanya dan ia bisa menyihir sesuka hatinya. Moopoo pun kembali menjalani hari-harinya dengan riang.

Setelah dua minggu berlalu, suatu malam, Moopoo merasa sangat kesepian. Ia tidak kenal siapa-siapa. Ia hanya menyaksikan wajah-wajah gembira orang yang menerima kejutan sihirnya. Tetapi, mereka tidak tahu bahwa Moopoo yang melakukan sihir itu. Moopoo merindukan saat-saat ia jadi tukang servis payung. Saat-saat ia saling berbagi cerita dengan ibu-ibu pelanggannya.

Maka, Moopoo pun pulang ke kampungnya, ke rumahnya lagi. Ia kembali menjadi tukang servis payung. Ia pun bisa bercakap-cakap dengan ibu-ibu pelanggannya. Ketika orang-orang memintanya melakukan sihir, Moopoo tersenyum dan menggelengkan kepala. “Aku hanya akan menyihir di pesta ulang tahun anak-anak,” kata Moopoo.

Moopoo menerima undangan-undangan pesta ulang tahun anak-anak. Ia menyihir banyak kelinci dari topinya. Ia menyihir air putih di gelas anak-anak menjadi es krim yang lezat. Moopoo senang bisa membuat anak-anak gembira.

Sekarang, Moopoo adalah penyihir yang riang dan juga tukang servis payung yang ramah. Ia sudah melakukan pekerjaan yang disukainya. Sudahkah kamu melakukan apa yang kamu sukai dan membuat orang lain gembira, Kids?

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

 

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *