Bila dulu YouTuber bukanlah profesi yang dianggap menjanjikan, maka kini sebaliknya. Banyak anak ketika ditanya terkait cita-citanya, menjawab akan menjadi seorang YouTuber terkenal seperti Atta Halilintar, Ria Ricis, dan sebagainya.

Seiring dengan perkembangan teknologi digital, tak mengherankan jika generasi Alpha mempunyai cita-cita menjadi Youtuber, Gamer atau Content Creator. Hal ini juga terbukti oleh hasil survei yang dilakukan oleh Mydoremi, sebuah fun-edutainment untuk anak mengasah bakat dan kreativitasnya.

Survei menyasar orangtua yang memiliki anak usia 4 – 12 tahun.  Responden menyatakan bahwa anak mereka 48% bercita cita sebagai profesional ( dokter, arsitek, astronot, guru, atlet, chef dan insinyur), 20 % sebagai seniman, penyanyi, desainer fashion, model dan 13% sebagai “gamer & youtuber”, serta 5% pengusaha.

Orangtua Harus Dampingi Anak

Dalam webinar bertajuk “Ayah Bunda Dukung Anak Berkreasi di Dunia Digital” dalam rangka memperingati Hari Anak Sedunia yang digelar oleh Mydoremi, Sabtu (26/11/22) secara hybrid, Psikolog Anna Surti Ariani, S. Psi, M. Si menyatakan bahwa adalah penting bagi orangtua untuk mendukung bakat dan minat anak, termasuk ketika si kecil menyatakan ketertarikannya untuk eksis di dunia digital. Untuk itu, orangtua perlu mendampingi anak dalam setiap prosesnya.

Para pembicara dalam webinar yang digelar oleh Mydoremi secara hybrid

“Untuk memiliki akun, YouTube memiliki batasan yakni minimal usia 13 tahun. Artinya, jika si anak di bawah usia tersebut, maka orangtua sepenuhnya terlibat sehingga akun tersebut sudah diketahui oleh orangtuanya. Dan, dalam menentukan konten, orangtua hendaknya mengajak anak untuk berdiskusi sehingga dari sana ada interaksi dua arah, orangtua bisa mendengar pendapat anak, begitu juga sebaliknya,” ujar Anna Surti.

Pahami Fitur Teknologi

Ia juga menyarankan, agar bisa mendampingi anak berkreasi di dunia digital, orangtua setidaknya belajar untuk memahami fitur-fitur teknologi. “Misalnya, mematikan komentar netizen di media sosial atau Youtube sehingga yang tersaring adalah hanya komentar yang positif dan membangun. Selain itu, dari sisi emosional anak, penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak bahwa segala sesuatu memerlukan proses. Jadi, latih anak untuk tidak gampang menyerah, mulai dari membuat konsep, menyiapkan baju, lokasi, dan sebagainya sehingga produk siap untuk ditayangkan. Dari sana, anak diajarkan untuk banyak bersabar,” terang Anna.

Ajaklah Anak Berdiskusi

Tak hanya itu, untuk mengasah sisi kognitif anak, orangtua harus sering mengajak anak berdiskusi. “Orangtua perlu menggali ide-ide dari si anak untuk berkreasi. Perlu dimunculkan ide-idenya, misalnya dengan banyak bertanya kira-kira bajunya seperti apa, skenarionya bagaimana, kira-kira siapa yang pas untuk dikasih tontonan ini, dan sebagainya,” urai Anna Surti.

Psikolog Anna Surti bersama anak-anak Mydoremi

Lebih lanjut Anna menyatakan, orangtua juga perlu memberikan pujian dan komentar positif saat anak mengutarakan pendapatnya dengan baik.

Cerita Ralia Rules dan Mama Ayu

Hadir dalam kesempatan tersebut, Ralia Rules, seorang Youtuber cilik dan merupakan putri dari Ryan The Masiv, bercerita manfaat positif yang ia peroleh melalui kegiatannya membuat channel YouTube. Gadis manis berusia 9 tahun ini telah memulai akun YouTube sejak berusia 4 tahun.

“Idenya dari aku sendiri. Dulu suka lihat-lihat YouTube terus jadi pengin punya sendiri. Aku tuh suka nyanyi dan pengin jadi penyanyi,” imbuh Ralia yang telah memiliki single berjudul “Agar Aku Berguna” ini seraya tersenyum.

Ralia Rules, YouTuber Cilik menunjukkan bakat menyanyinya

Lebih lanjut, Ralia mengaku sangat menikmati proses dirinya bisa berkreasi apapun dari hobinya itu. Tak hanya menyanyi, ia juga jadi belajar akting. Semua itu lalu disalurkan melalui akun YouTubenya. Bagi Ralia, mengekspresikan diri melalui saluran YouTube membuat ia tumbuh menjadi anak yang semakin percaya diri dan gampang bergaul.

Hal ini ditegaskan pula sang ibunda, Mama Ayu. “Dari dulu Ralia memang percaya diri, ia sudah terbiasa tampil di depan umum. Sekarang setelah memiliki akun YouTube, ia jadi semakin percaya diri untuk membuat konten. Sekarang ini dia lagi semangat-semangatnya belajar mengedit, misalnya di platform TikTok,” imbuh Mama Ayu.

Ibu dari dua orang anak ini menambahkan bahwa sejak awal hadirnya channel YouTube Ralia, sebagai orangtua ia terlibat aktif mendampingi anak memikirkan kreativitas apa yang ingin ditayangkan. Sebagai orangtua, ia juga tetap mengawasi segala kegiatan Ralia di dunia digital serta menjaga pengaturan waktunya sehingga tidak mengganggu aktivitas sekolah.

“Penting bagi orangtua untuk terus memonitor tumbuh kembang anak. Apalagi di jaman serba digital ini, orangtua harus lebih ekstra untuk mengawasi. Dan, jika anak tertarik untuk eksis di dunia digital, sebagai orangtua juga harus konsisten. Kalau anaknya sudah mau, kita juga harus konsisten turut menjaga audiens yang mengikuti akun YouTube anak kita, apakah itu ibu-ibu, anak-anak, atau remaja, kita juga bertanggung jawab untuk menghadirkan tayangan sesuai kebutuhan mereka,” kata Mama Ayu.

Yudha Apriliano (content creator), yang membantu Ralia dalam pembuatan konten turut menambahkan tugas utama orangtua adalah mencoba mendengarkan anak apa yang ingin diekplorasi dan tentunya perlu mengikuti perkembangan tren sehingga bisa membuat konten yang menarik.

Mydoremi Hadirkan Wadah untuk Anak Berkreasi

Jika Moms dan Dads memiliki anak yang tertarik untuk ‘terjun’ di dunia digital, ada kabar baik nih. Menjawab keresahan orangtua yang bingung bagaimana membimbing anak anak untuk eksis di dunia digital melalui proses yang positif, Mydoremi sebagai wadah edutainment akan membantu anak untuk mengasah bakat dan minatnya secara lebih spesifik, tentunya dengan cara menyenangkan.

Diutarakan oleh Cisca Chang, Co-founder Mydoremi, akan ada banyak program bagi anak-anak usia 4-12 tahun untuk mengeksplorasi bakat dan kreativitasnya.

“Mydoremi membuat kegiatan pembelajaran yang fun melalui Mydoremi Youtuber Class, di mana anak-anak diajarkan untuk bisa memulai membuat YouTube channel-nya sendiri dengan mengasah kreativitasnya, dilatih percaya diri dan kemampuan berbicara di depan umum serta melakukan syuting pembuatan video / kontennya sendiri. Kita punya studio sendiri, anak-anak bisa lihat bentuk studio seperti ini lhi, terus ada green screen, jadi mereka bisa belajar praktik secara langsung tidak hanya teori,” imbuh Cisca Chang.

Mydoremi Kids On Stage

Asyiknya lagi, konten yang dibuat bisa disesuaikan dengan bakat ataupun hobi dari anak-anak itu. Setelah melalui proses edukasi di Mydoremi Youtuber Class, anak-anak akan mendapatkan kesempatan untuk bisa ikut dalam penampilan Mydoremi Kids On Stage Lagu Anak-anak yang akan tayang setiap Sabtu jam 4 sore di Mydoremi Musical Garden Youtube Channel.

Kepedulian Mydoremi Musical Garden Youtube Channel untuk menampilkan performance anak-anak yang menyanyikan lagu anak-anak Indonesia seperti Naik Kereta Api, Lihat Kebunku , Balonku Ada Lima, Aku Anak Indonesia merupakan jawaban kurangnya konten untuk mengangkat lagu anak-anak Indonesia jaman dulu yang punya nilai edukasi tinggi. Keterangan lebih lanjut bisa diakses melalui website mydoremi.id.

Mengingat untuk eksis di dunia digital ini memiliki dampak positif dan negatif, orangtua diharapkan tidak hanya harus bisa menguasai teknologi yang sudah lebih fasih digunakan oleh anak, tetapi juga mendampingi selama proses kreatifnya agar anak tidak hanya bisa mengekspresikan dirinya, sekaligus waspada dengan tantangan dan ancaman yang menyertainya.

Bentuk dukungan lengkap dari orangtua niscaya akan mengembangkan potensi terbaik anak sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, percaya diri dan mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dengan bisa menunjukan bakatnya dengan berkreasi di dunia digital.

Foto: dok. Mydoremi

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *