Moli dan Gigantia

Di hutan negeri Lunda, tinggal seekor monyet bernama Moli dan bunga bangkai bernama Gigantia. Oleh karena bisa berbicara bahasa manusia, Moli dikucilkan teman-temannya. Adapun, Gigantia si bunga bangkai dibenci karena mengeluarkan bau menyengat.

 Pada suatu hari, Moli mendengar suara keras dari pintu rumahnya. “Lagi-lagi ada yang melempari pintuku dengan lumpur. Pasti ulah monyet lain yang membenciku,” ucap Moli sambil membersihkan pintu rumahnya. Untuk mengusir kemarahan, Moli berjalan-jalan ke daerah Timur hutan. “Wah, wilayah Timur hutan indah sekali. Tapi, aku mencium bau aneh,” ujar Moli sambil mencari asal bau itu.

 Tak lama, Moli bertemu dengan sebuah bunga besar. “Apakah kau yang mengeluarkan bau ini? Aku tidak pernah melihat bunga sebesar dirimu. Namaku Moli. Maukah kau jadi temanku?” tanya Moli pada si bunga besar. “Namaku Gigantia. Kau tidak membenci bauku yang menyengat?” ucap Gigantia heran. “Sama sekali tidak. Aku bisa berbicara bahasa manusia, lalu apakah kau membenciku?” Moli balik bertanya. “Tentu saja tidak,” sergah Gigantia. Moli dan Gigantia pun menjadi sahabat baik.

Beberapa minggu kemudian, seorang wanita tua jatuh pingsan di dekat rumah Moli. Ia pun segera menolongnya. Ketika si wanita tua sadar, Moli menanyakan keadaannya. “Anda tidak apa-apa?” tanya Moli. “Kau bisa bicara bahasa manusia? Ini keajaiban! Mungkin kau bisa menolongku,” pinta si wanita tua.

Ternyata, wanita tua itu adalah Ratu Negeri Lunda. Ia mengembara untuk mencari obat bagi putrinya yang tertidur karena menghirup bau racun. “Yang Mulia, mungkin temanku Gigantia bisa menolong tuan putri. Aku yakin Gigantia punya bau yang bisa mengalahkan bau racun,” saran Moli.

Moli memberitahukan permasalahan sang ratu kepada sahabatnya. Gigantia pun bersedia menolong dengan senang hati. Kabar ini pun segera diberitahukan kepada sang Ratu. Kemudian, Ratu membawa putrinya ke hutan daerah Timur, tempat Gigantia tinggal. Setelah bertemu dengan Gigantia, Ratu mendekatkan tubuh putrinya ke bunga raksasa tersebut. Gigantia juga menundukkan tubuhnya agar dekat ke wajah tuan putri yang tertidur.

Tidak lama kemudian, tuan putri terbangun dari tidur panjangnya. Ratu Negeri Lunda menangis terharu. Moli dan Gigantia pun ikut senang. “Terima kasih, Moli, Gigantia. Tanpa kalian, putriku tidak mungkin sembuh. Kalian mungkin berbeda dari yang lain, tapi semua yang ada di dunia ini memiliki keistimewaan masing-masing,” ucap ratu negeri Lunda.

Kabar tentang Moli dan Gigantia yang berhasil menolong tuan putri, tersebar ke seluruh penjuru hutan. Perlahan-lahan, para penghuni hutan mulai ingin tahu tentang kedua sahabat tersebut. Setelah mengenal keduanya, para penghuni hutan pun menjadi kagum. Bagi mereka, Moli dan Gigantia tetap aneh, tapi, mereka tidak lagi dikucilkan. Seluruh penghuni hutan pun menerima mereka dengan senang hati.

 

Cerita: Seruni   Ilustrasi : JFK

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *