MOBIL TAK BERTUAN

Hari Minggu pagi, Neli dan Wida, berjanji untuk menonton film bersama di rumah Riri. Tetapi, satu jam berlalu, Wida belum datang juga.

Akhirnya, terdengar suara pintu kamar Riri diketuk. “Halo!” seru Wida. “Wida! Akhirnya kamu datang juga!” ucap Riri dan Neli. Mereka bertiga lalu menonton film komedi bersama.

Setelah film selesai, Riri bertanya pada Wida, “Kenapa kamu terlambat? Nggak ada masalah kan?” “Tenang saja, tidak terjadi apa-apa. Aku terlambat karena mendengarkan cerita Kak Dedi. Dia menceritakan sesuatu yang seru dan mengerikan!” kata Wida. Kak Dedi adalah kakak laki-laki Wida. Dia seorang mahasiswa yang sedang magang di sebuah perusahaan di luar kota.

“Jangan-jangan tentang hantu?” bisik Riri. Wida mengangguk. “Ceritakan!” seru Neli penasaran. “Ini cerita tentang mobil tidak bertuan! Mobil yang tidak ada pemiliknya!” kata Wida. “Haaa? Apanya yang mengerikan dari mobil yang tidak ada pemiliknya?” kata Neli protes. “Kamu ini! Orang belum cerita sampai akhir, sudah protes!” celetuk Riri sebal. “Ayo lanjutkan, Wida!” kata Riri lagi.

“Di parkiran bawah tanah gedung tempat Kak Dedi bekerja, ada sebuah mobil sedan yang sudah diparkir sangat lama hingga berdebu. Orang bilang, mobil sedan itu dijadikan tempat tinggal hantu, dan tidak ada yang berani mengambil! Jangankan mengambil, mendekat saja tidak berani!” Wida bercerita. “Kenapa bisa begitu?” tanya Riri.

“Seorang karyawan gedung pernah melihat orang aneh berpakaian putih berjalan di parkiran bawah tanah. Karena ingin tahu, si karyawan mengikutinya diam-diam. Orang aneh itu berjalan ke arah mobil sedan tak bertuan di parkiran itu….lalu menghilang! Setelah itu, tercium aroma melati dan kemenyan!” mata Wida membelalak ngeri. “Iiiiih!” jerit Riri dan Neli ketakutan.

“Mobil tak bertuan ini membuat takut pekerja di kantor Kak Dedi. Sekarang banyak dari mereka yang tidak mau membawa mobil pribadi lagi ke kantor dan memilih naik kendaraan umum karena takut parkir di bawah tanah! Ternyata, mobil tak bertuan ini digunakan sebagai persembahan untuk makhluk halus agar mereka tidak membuat keonaran di gedung besar atau gedung apa pun yang baru dibangun!” Wida mengakhiri ceritanya.

“Ngeri juga ya…,” kata Neli. “Riri, perumahanmu Kota Mandiri yang sukses kan? Menurut sebuah sumber di internet, ada hotel yang sedang dibangun di sini!” kata Wida antusias. “Siapa tahu kita bisa menemukan mobil tidak bertuan di daerah pembangunan hotel!” seru Neli. “Hotel itu namanya Hotel Pelangi. Tetapi setahuku, pembangunannya sudah berhenti sejak tiga tahun yang lalu!” ujar Riri.

Riri, Wida, dan Neli saling berpandangan. “Ayo kita ke lokasi pembangunan hotel!” kata mereka.

Tiga sekawan itu bersepeda menuju lokasi pembangunan Hotel Pelangi.  Bangunan hotel yang terbengkalai itu tampak mencekam walaupun hari masih siang. Riri, Neli, dan Wida terdiam.

“Selamat siang!” sebuah suara mengejutkan tiga sekawan itu. “Huaaaaa!” mereka menjerit ketakutan.  “Aduh, maaf mengagetkan kalian. Bapak cuma mau menyapa,” kata seorang bapak penjual gorengan berwajah ramah. “Bapak selalu berjualan di sini?” tanya Riri. “Cuma siang hari saja. Kalau sudah malam, Bapak takut. Hotel Pelangi ini ditinggalkan pembangunannya karena banyak kejadian buruk terjadi pada para pekerjanya. Daerah ini dulunya tanah makam. Tadinya Bapak tidak percaya. Tapi pada suatu malam, Bapak melihat sosok putih berjalan, lalu menghilang,” cerita si bapak.

Setelah si bapak gorengan pergi, Riri, Wida, dan Neli dengan hati-hati memasuki wilayah Hotel Pelangi yang terbengkalai. “Itu…mobil tak bertuan! Benar-benar ada!” Wida menunjuk sambil gemetar. Tak jauh dari tempat tiga sekawan itu berdiri, terlihat sebuah mobil sedan berdebu. Riri mendekat dengan hati-hati. Entah kenapa, dia tidak lagi takut…hanya merasakan rasa ingin tahu yang sangat kuat. Wida dan Neli pucat. “……B 1225 WFL,” kata Riri. “Hah?!” seru Neli dan Wida bingung. “Plat nomor mobil ini B 1225 WFL. Ayo kita pulang sekarang,” ajak Riri setelah memotret  plat nomor mobil sedan itu dengan telepon genggamnya.

Sesampainya di rumah, Riri bercerita pada ayah dan ibunya tentang mobil sedan tak bertuan dan plat nomor yang dipotretnya. Ayah dan ibu Riri sangat terkejut. “Kemarin Pak RW baru saja datang dan bertanya apakah kita pernah melihat mobil sedan dengan plat nomor yang sama seperti di fotomu!” kata ibu Riri. “Haaaah?!” seru Riri, Neli, dan Wida.

Ternyata, mobil sedan itu mobil curian! Pihak berwajib meminta bantuan Pak RW untuk menemukannya. Riri, Wida, dan Neli berjasa karena ikut membantu menyelesaikan kasus pencurian mobil itu.

Seminggu kemudian di sekolah, teman-teman memuji keberanian Riri, Wida, dan Neli karena sudah membantu pihak berwajib menemukan mobil sedan yang dicuri.

“Ini karena cerita dari kakak Wida juga, yang membuat kami penasaran akan mobil tidak bertuan! Tadinya kami berharap akan menemukan hantu seperti yang ada di kantor Kak Dedi, iya kan, Wida?” kata Riri dan Neli, merendah pada teman-teman mereka yang sangat kagum.

Namun Wida hanya terdiam. Dia tampak kecewa. “Ada apa, Wida?” tanya Riri dan Neli. Wida menghela nafas, “Cerita Kak Dedi ternyata tidak benar! Hari Minggu yang lalu jatuh pada tanggal satu April kan?”

“April mop?! Hari lelucon dan tipuan sedunia?! Jadi, Kak Dedi mengarang cerita mobil tak bertuan, khusus untuk lelucon April mop?!” jerit Riri dan Neli. Teman-teman sekelas pun tertawa mendengarnya. “Eh, tapi, bagaimana tentang cerita bapak gorengan waktu itu?” bisik Neli. “Haah.. kepalaku pusing! Mending belajar dengan rajin dan giat agar sukses!” seru Riri. “Setuju!” timpal Wida. (Cerita: Seruni / Ilustrasi: JFK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lupa beli edisi terbaru yaa...