Misteri Warung Makan di Tengah Hutan

“Ahhh.. Bekal makananku ketinggalan!” teriak Riko. Dika yang berada di sampingnya, kaget bukan main. “Kita makan bekalku saja,” ucap Dika. Kedua sahabat itu lalu makan bekal di dalam tenda. Hari itu, Riko, Dika, dan teman-teman anggota Pramuka lainnya sedang berkemah di pinggir hutan. Ada pelatihan sekaligus pelantikan bagi anggota baru Pramuka. Kebetulan, Riko dan Dika ditempatkan di satu tenda.

Setelah acara api unggun di malam hari selesai, seluruh anggota Pramuka kembali ke tendanya masing-masing untuk beristirahat.  “Perutku masih lapar,” ujar Riko meringis. “Aku juga, gara-gara bekalku dibagi dua, jadi kita makannya sedikit, deh,” timpal Dika. “Kita cari makan, yuk!” ajak Riko. “Hah?! Mau cari makan di mana? Kita ada di pinggir hutan, lho! Sepi dan sereeem…,” kata Dika.

Riko tak menggubris omongan sahabatnya itu. Ia mengintip dari celah tenda. Di luar gelap gulita. Satu-satunya penerangan hanya dari bara sisa api unggun. “Dika, coba lihat! Ada cahaya lampu di kejauhan,” ucap Riko kegirangan. “Itu pasti warung,” kata Riko lagi. “Ahh, masa di tengah hutan ada warung?!” ujar Dika tak percaya. “Ayo, kita ke sana!” ajak Riko menggenggam tangan Dika, lalu berjalan keluar dari tenda dan menuju sumber cahaya.

Keduanya melewati pepohonan besar di sisi kanan dan kiri. Cahaya bulan tak mampu menerangi mereka karena terhalang dedaunan yang rimbun di atas pohon. “Benar, kan! Ada warung makan,” ujar Riko sambil menunjuk warung makan yang terang benderang di tengah hutan.

Ada 3 orang laki-laki dewasa yang sedang duduk di kursi, persis di depan warung. Sepertinya mereka sedang menikmati minuman dalam gelas yang berada di atas meja. Entah apa yang diminumnya, tapi minuman itu berwarna kemerahan. Sesosok perempuan muncul dari balik warung dan membawakan piring berisi makanan.

“Tunggu, Riko!” bisik Dika sambil menarik sahabatnya itu ke balik pohon untuk bersembunyi. “Ada apa?” tanya Riko penasaran. “Coba lihat orang-orang itu! Kaki mereka tidak menapak ke tanah,” jelas Dika. Riko mengucek matanya. Benar saja, kaki keempat orang itu tidak menyentuh tanah. “Jangan-jangan, hantuuuu…,” Dika dan Riko berteriak berbarengan. Kedua anggota Pramuka itu pun langsung balik badan dan berlari menuju tenda. Keempat orang misterius di warung makan, menengok bersamaan sambil tertawa penuh misteri.

Sesampainya di tenda, Riko dan Dika langsung masuk ke dalam selimut. Suara langkah kaki memecah keheningan. Suaranya makin terdengar mendekat ke tenda mereka. Tiba-tiba, pintu tenda dibuka.“Aaaarrghhh…,” Riko dan Dika berteriak kencang. “Ini Kak Dodi,” seru orang tersebut. Kak Dodi adalah kakak pembina Pramuka yang ikut dalam acara kemah ini.

“Kami kira hantu, Kak,” ujar Riko sambil menahan rasa takutnya. Ia pun menceritakan warung makan di tengah hutan kepada Kak Dodi. “Ehm.. Sebenarnya Kakak percaya nggak percaya. Tapi kata penduduk kampung sini, orang yang berkemah di sini dan makan di warung itu pada malam hari, keesokannya akan menghilang entah kemana,” cerita Kak Dodi.

“Ya, sudahlah. Untung kalian berdua tidak apa-apa. Lain kali kalau butuh makanan, datang ke tenda Kakak, ya. Jangan masuk ke hutan seenaknya,” ujar Kak Dodi menasehati. “Iya, Kak!” jawab Riko dan Dika serentak. Keduanya lantas berusaha untuk tidur, sambil menghilangkan bayangan orang-orang misterius di warung makan itu dari pikiran mereka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *