Misteri Restoran Ramai ( Bag.1 )

“Kakak bingung, deh!” kata Femi, Kakak Ani pada suatu hari. Ani dan Kak Femi sedang sarapan pagi bersama-sama. Papa dan Mama mereka sedang bertugas di Eropa selama tiga bulan. “Kenapa, Kak?” tanya Ani. “Ani tahu kan restoran Ayam Terbang yang baru saja buka di ruko dekat rumah?” tanya Kak Femi. “Ooh.. yang ramai sekali itu, ya?” jawab Ani. “Iya! Kakak pikir aneh, lho…,” kata Kak Femi lagi.  “Kenapa aneh, Kak?” tanya Ani bingung. “Kakak sudah coba ayam masakan restoran itu minggu lalu, tapi rasanya benar-benar tidak enak! Lebih enak masakan Mbok Min kita!” gerutu Kak Femi. “Eh, Kak Femi kok nggak beliin Ani sekalian sih ayamnya? Kan Kakak janji waktu itu mau makan bareng sama Ani!” kata Ani. “Oh iya, ya! Maaf, Kakak lupa, hehehe.. Tapi, malah bagus kan? Ayamnya nggak enak, kamu pasti kecewa. Lagipula sayang uangnya juga!” kata Kak Femi sambil mengunyah roti. “Huuuh.. si Kakak!” kata Ani cemberut. Kak Femi melihat jam tangannya. “Ayo, cepat berangkat ke sekolah. Nanti terlambat, lho!” katanya pada Ani. “Pergi dulu ya, Kak,” ujar Ani yang segera mengambil tas sekolahnya dan pergi ke sekolah.

Ketika Ani sampai di ruang kelas, pelajaran hampir dimulai. Budi dan Egi, sahabat Ani melambai padanya. “Nanti istirahat siang, kita ke perpustakaan, ya!” kata Budi dan Egi. Jam istirahat siang di sekolah, Ani menyusul Budi dan Egi, yang berada di perpustakaan. Ani menemukan kedua sahabatnya itu duduk di dekat jendela. Mereka sedang asyik membahas sesuatu. “Ada apa sih kalian? Asyik sekali,” tanya Ani. “Coba lihat buku apa yang dibeli Egi kemarin!” kata Budi. Egi mengacungkan buku berjudul ‘Restoran-restoran Menyeramkan’, dan berkata pada Ani, “Aku yakin kau pasti takut masuk restoran yang selalu ramai kalau baca buku ini!”  “Aku tahu. Restoran-restoran yang ramai tapi makanannya tidak enak itu menggunakan dukun untuk menarik pelanggan kan?” kata Ani pada Egi. Budi terkejut dan bertanya, “Kamu tahu dari mana cerita itu, Ani?” “Aku baca dari internet,“ jawab Ani. Wajah Egi tampak sedikit kecewa. “Yaaah.. salah satu cerita seramnya sih begitu! Tapi ada yang lebih menyeramkan lagi!” kata Egi kemudian. Kriiiiing… Tiba-tiba, bel tanda masuk kelas berbunyi. “Haaah.. cepat sekali!” keluh Budi dan Egi. “Kalian lupa, ya? Tadi pelajaran matematika kan selesainya terlambat,” kata Ani. “Oh iya!” seru Budi dan Egi. Lalu Ani, Budi, dan Egi berlari ke kelas. “Nanti pulang sekolah, kami ceritakan yang paling seram! Kita bertemu di halaman!” kata Egi dan Budi sebelum duduk di kursinya.

Seusai sekolah, Ani, Egi, dan Budi duduk di halaman sekolah. “Dari cerita-cerita yang aku baca di buku ‘Restoran-restoran  Menyeramkan’ ada satu yang paling membuatku merinding!” kata Budi sambil mengunyah bekal bawaannya. “Budi, bicara sambil makan itu tidak baik. Aku akan menggantikanmu berbicara,” kata Egi. Budi menghela nafas kesal. Egi lalu melanjutkan. “Ani, Budi dan aku setuju dengan kisah yang paling menyeramkan di buku itu, judulnya tumbal atau korban!” cerita Egi. “Korban? Apa maksudnya?” tanya Ani. “Ada restoran yang mengambil korban demi ramainya pengunjung! Biasanya yang menjadi korban adalah pekerja di restoran itu sendiri!” kata Egi lagi. “Para pekerja restoran itu akan mengalami kecelakaan  atau sakit yang misterius!” bisik Budi dengan gaya menyeramkan. Ani mulai takut! Kecelakaan dan penyakit? Mengerikan sekali! Ketika jam menunjukan pukul empat sore, Ani, Egi, dan Budi pulang ke rumah masing-masing.

Ketika Ani sampai di rumah, Mbok Min bercerita. “Gawat sekali, Non Ani! Ada kecelakaan di depan restoran Ayam Terbang!” ujar Mbok Min. Jantung Ani berdegup lebih keras dari biasanya. “Jangan-jangan.. restoran Ayam Terbang mengorbankan orang agar pengunjung datang terus,  seperti apa yang diceritakan Egi dan Budi…,” kata Ani dalam hati. ( Bersambung… )

(Cerita: Seruni/ Ilustrasi: Just For Kids)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *