“Ayo, kita pergi ke alamat di surat ini,” ajak Ayah kepada Bryan, setelah motornya sudah di-service dan dipasang jok belakang. “Wah, beneran, Yah?” tanya Bryan memastikan. “Lho, iya beneran, dong,” jawab Ayah singkat.

“Tapi, Gang Adjudant ini dimana?” Bryan kembali bertanya. “Tenang saja, kita coba lihat di Maps,” ujar Ayah dengan tenang. Ia lantas mengeluarkan handphone dari saku celananya dan membuka aplikasi Maps. Namun, wajah Ayah nampak kecewa setelah melihat peta di handphone-nya tersebut. “Kenapa, Yah?” tanya Bryan penasaran. “Ayah sudah mengetik Gang Adjudant, tapi tak ada hasilnya,” jawab Ayah yang makin kebingungan.

Bryan pun ikut kebingungan. “Apakah mungkin nama gang itu berganti nama, Ayah? Nama itu kan sudah puluhan tahun lalu,” jelas Bryan. “Wah, iya benar juga! Kamu benar-benar cerdas! Ayah coba cari tahu di internet,” timpal Ayah sumringah.

Benar saja setelah dicari, Gang Adjudant sudah berganti nama menjadi Jalan Kramat II. “Ohh… Ternyata Jalan Kramat II di Kwitang, Senen,” ucap Ayah setengah berteriak. “Tidak jauh dari sini, dong,” ujar Bryan menimpali. Tanpa menunggu lama, Ayah dan Bryan lantas menaiki motor tua itu menuju ke Kwitang. Kini, Bryan tak lagi naik di atas tangki motor. Ia sudah duduk di jok belakang yang baru saja dipasang.

Setengah jam kemudian, Ayah dan Bryan sudah tiba di daerah Kwitang. “Ini dia Jalan Kramat II,” ucap Ayah. Keduanya menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar itu. “Sekarang kita cari rumah bernomor 34,” Bryan menimpali.

Tak jauh dari jalan raya, nampak sebuah rumah tua dengan halaman cukup luas. Ketimbang rumah-rumah yang ada di sekelilingnya, rumah tua tersebut memang sangat berbeda. Rumah-rumah lain sudah bergaya modern. Hanya rumah itu yang desainnya terkesan kuno. Apalagi, cat di dindingnya yang sudah mulai mengelupas. Persis di pagar rumah, ada tulisan nomor 34. Ya, itulah rumah yang sedang dicari Ayah dan Bryan.

“Ayah, ini rumahnya,” teriak Bryan sambil menunjuk ke rumah tua itu. Ayah kemudian menepikan motornya dan menekan bel yang tertempel di pagar. Selang beberapa saat, seorang wanita muda membukakan pagar. Ia mengernyitkan dahinya. “Maaf, Bapak mau bertemu dengan siapa?” tanya wanita itu dengan sopan. “Ehmm… Saya mencari Ibu Siti Hayatmi. Betulkah ini rumahnya?” tanya Ayah. “Betul, saya cucunya,” jawab wanita itu.

“Fitri… Fitri… Siapa itu?” terdengar suara panggilan dari teras rumah. “Ya, Nek. Ini ada yang mencari Nenek,” jawab wanita muda yang ternyata namanya adalah Fitri. “Suruh masuk saja!” teriak si Nenek dari arah teras.

Ayah dan Bryan pun dipersilakan masuk. Ayah sambil mendorong motor masuk ke dalam halaman rumah. Terlihat, seorang nenek duduk di kursi roda di teras rumah. Ayah dan Bryan lalu tersenyum kepada Nenek itu. Namun, sang Nenek justru tidak membalas senyumannya. Mata Nenek malah tertuju kepada motor tua yang dibawa Ayah. Bahkan, matanya seakan tak berkedip saat memerhatikan motor tersebut.

“Maaf, motor itu dapat darimana, ya?” tanya si Nenek. “Motor ini baru saja saya beli dari seseorang. Lalu saya menemukan surat ini di bawah jok,” jawab Ayah sambil menyodorkan secarik surat di dalam amplop yang bertuliskan Siti Hayatmi. (BERSAMBUNG)

 

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *