Keesokan pagi, saat sarapan, mata Bryan nampak bengkak. Ibu yang melihatnya, langsung terkejut. “Bryan, kenapa mata kamu?” tanya Ibu khawatir. “Ehmm.. Tadi malam aku susah tidur, Bu,” jawab Bryan dengan lemah.

“Tadi malam aku melihat motor tua yang baru dibeli Ayah, jalan sendiri,” lanjut Bryan. Ayah pun terkejut saat mendengarnya. “Sebenarnya, Ayah juga sudah curiga dengan motor tua itu. Harga lebih murah, si pemilik lamanya pernah bilang supaya Ayah harus berhati-hati dengan motor itu,” jelas Ayah.

Selesai sarapan, Ayah kemudian mengajak Bryan pergi ke bengkel untuk memeriksa motor tua. Karena belum ada jok di belakang, dengan sangat terpaksa, Bryan duduk di atas tangki bensin. Ia juga sebenarnya merasa agak takut dengan motor tersebut.

Di tengah perjalanan, tak sengaja Bryan menoleh ke belakang. Alangkah kagetnya Bryan saat melihat seorang pria berpakaian tentara Belanda zaman dulu, sedang duduk di bagian belakang motor. “Ayaaaah!” teriak Bryan dengan kencang.

Ayah yang sedang mengendarai motor, langsung kaget. Motornya agak oleng, namun untungnya Ayah berhasil menepi dan berhenti. “Bryan, kamu kenapa tiba-tiba teriak?” tanya Ayah. “Aku tadi melihat ada orang ikut dibonceng di belakang Ayah,” jawab Bryan.

Ayah langsung menoleh ke belakang. Tapi, tak ada siapa-siapa yang ikut di atas motor. “Mana, tidak ada!” ujar Ayah. “Tapi tadi ada, laki-laki pakai baju tentara zaman dulu,” ucap Bryan bersikukuh. “Ya sudahlah, mungkin tadi hanya bayangan saja,” kata Ayah berusaha menenangkan.

Keduanya lalu melanjutkan perjalanan menuju bengkel yang tak jauh dari rumah. Setibanya di bengkel langganan Ayah, motor tua itu langsung dibongkar oleh sang montir. Satu persatu bagian dilepasnya. Tiap bagian dibersihkan. Bila ada yang rusak, si montir tersebut langsung melapor pada Ayah.

Ketika jok dibuka, si montir lalu memanggil Ayah. “Pak Adit, ada amplop di bawah jok ini,” kata si montir sambil menunjukkan amplop tersebut kepada Ayah. Ayah kemudian mengambil amplop tua yang lusuh tersebut. “Ini kepunyaan siapa, ya?” tanya Ayah penasaran kepada Bryan. “Dibuka saja, Yah!” timpal Bryan yang juga ikut penasaran.

Ayah lalu membuka amplop itu dengan perlahan. Di dalamnya ada selembar kertas surat yang sudah mulai berubah warna menjadi kecokelatan. Tinta tulisannya pun agak memudar meski masih bisa dibaca. Ayah lantas membacanya perlahan.

Siti Sajangkoe..

Maafkan akoe, akoe haroes pergi menghadap komandan. Akoe akan bilang ke dia, bahwa akoe tidak ikoet poelang ke Belanda. Akoe akan menetap di sini dan menikahimoe.

Toenggoelah akoe di roemah. Secepatnja, akoe akan kembali.

Salam,

Frans

Ayah dan Bryan langsung beradu pandang. “Sepertinya motor ini dulunya adalah motor milik Frans, orang Belanda yang jatuh cinta dengan gadis Indonesia. Tapi mereka sepertinya tidak pernah bersatu, buktinya surat ini masih ada di motor,” tutur Ayah. “Wah, pantas saja aku tadi melihat ada penampakan tentara Belanda duduk di belakang motor,” timpal Bryan.

“Lalu kita harus bagaimana, Yah?” tanya Bryan. “Sepertinya, kita harus menyampaikan surat ini kepada gadis bernama Siti,” ucap Ayah. Di bagian depan amplop tertulis;

Oentoek:

Siti Hayatmi

Gang Adjudant 34

Batavia

“Jadi, kita harus ke alamat ini?” tanya Bryan. Ayah mengangguk pelan. (BERSAMBUNG)

 

 

Cerita: JFK      Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *