Misteri Mimpi Petak Umpet

Malam makin larut. Mata Gilang semakin susah untuk terbuka karena rasa kantuk yang luar biasa. “Hoaamm.. Aku tidur, ah,” gumamnya sambil meletakkan joystik game yang sedang dimainkannya.

Besok hari Minggu. Bila keesokannya hari libur, Gilang dibolehkan untuk main game hingga larut malam. Namun, kali ini ia sudah tak kuasa menahan rasa kantuknya. Gilang pun beranjak ke tempat tidur. Secepat kilat, Gilang sudah terlelap dalam tidurnya. Saking nyenyaknya, ia pun bermimpi aneh. “Kita main petak umpet, yuk!” ajak seorang anak tak dikenal yang tiba-tiba muncul di hadapan Gilang. “Ayo, sudah lama aku tak bermain petak umpet,” jawab Gilang. “Kamu yang jaga duluan, ya,” ucap anak tak dikenal yang berpakaian serba putih tersebut. “Baiklah,” timpal Gilang.

Gilang lalu menutup kedua matanya sambil menghadap ke tembok. “Aku hitung sampai 10, ya!” teriak Gilang. “Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Lima.. Enam.. Tujuh.. Delapan.. Sembilan.. Sepuluh! Siap, aku akan mencari kamu!” ujar Gilang sambil membuka matanya. Gilang mulai berjalan memeriksa tiap sudut rumahnya. “Hahaha… Ini kan rumahku, jadi aku tahu persis tiap ruangannya,” kata Gilang dengan percaya diri. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi di dekat dapur. “Nah, kamu ketahuan!” teriak Gilang saat berhasil menemukan tempat persembunyian teman barunya itu.

“Sekarang giliran kamu,” ujar Gilang. Anak tak dikenal tersebut lantas menutup mata dan mulai menghitung. Gilang kemudian mencari tempat persembunyian yang aman. “Aku bersembunyi di sini saja,” gumam Gilang sambil bersembunyi di bawah meja makan yang tertutup taplak panjang. “Siap atau tidak, aku akan mencarimu,” ujar sang anak misterius. Dari bawah meja, Gilang mengintip dan berharap tempat persembunyiannya tak diketahui si anak itu.

Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara adzan berkumandang. Si anak misterius itu nampak terkejut. “Gilang, sepertinya waktuku sudah habis. Aku harus pergi. Kamu mau ikut tidak? Kalau mau ikut, susul aku ke tepi sungai, ya,” teriak anak tersebut berusaha memberitahu Gilang tanpa tahu keberadaan bocah kelas 4 SD itu. Gilang yang mengamati dari bawah meja pun hanya terdiam. Ia bingung dengan anak yang baru dikenalnya itu.

Tiba-tiba,

“Gilang, bangun! Kenapa kamu tidur di bawah meja?” tanya Ibu setengah berteriak. Gilang pun mulai membuka matanya. “Hah, kenapa aku bisa ada di sini?!” ia kebingungan.

“Tadi malam, aku tidur di dalam kamar, kok, Bu,” jawab Gilang terbata-bata. “Lalu kenapa kamu ada di bawah meja seperti ini?” Ibu bertanya kembali. “Ehmm.. Aku tadi mimpi sedang main petak umpet dengan seorang anak tak dikenal berbaju putih. Tapi kenapa jadi sungguhan aku ada di bawah meja, ya?!” jelas Gilang masih kebingungan.

“Anak berbaju putih? Hmm.. Ibu jadi ingat sekarang, beberapa hari lalu ada anak kampung sebelah yang tewas tenggelam dan hanyut di sungai. Tubuh anak itu ditemukan di tepi sungai, nggak jauh dari rumah kita. Ia juga berbaju putih,” cerita Ibu.

“Hah?!” Gilang terkejut bukan main. “Sudahlah, ayo kita bersiap sholat Shubuh, adzan sudah terdengar, tuh,” tutur Ibu. Wajah Gilang nampak pucat dan bingung.

 

Cerita & Ilustrasi: JFK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *