Faisal bersama kedua orangtuanya baru saja tiba di pelabuhan Jepara, Jawa Tengah. Mereka hendak berlibur di kepulauan Karimunjawa. “Akhirnya, kita sampai juga di Jepara,” ujar Ayah. “Iya, aku senang!” timpal Faisal.

“Eits, kamu jangan senang dulu. Kita masih harus naik kapal selama 3 jam,” tutur Ibu. Faisal dan Ayah sepertinya tidak mendengar ucapan Ibu. Mereka berdua sudah berjalan menuju kapal cepat alias speedboat. “Ayo Ibu, kita naik!” ajak Faisal yang dengan cekatan sudah berada di atas kapal. Ketiganya pun berangkat menuju Karimunjawa.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba awan kelabu datang. Perlahan-lahan langit menjadi gelap. Angin mulai bertiup kencang. Ditambah lagi, ombak laut yang bergejolak. “Aduh, cuacanya memburuk,” keluh Ibu. “Tenang saja, kita akan mencoba untuk menghindar dari terjangan badai ini,” ujar Ayah sambil memegang kemudi.

Faisal hanya diam terpaku. Sedari tadi, ia tak mau melepaskan tangan Ibunya. Keadaan makin mencekam. Apalagi, matahari sudah terbenam dan hari berganti malam.

Untungnya, awan kelabu bergerak menjauh. Badai pun berlalu begitu saja. “Syukurlah, badainya tak berlangsung lama,” ucap Ayah. “Asyik, kita jadi ke Karimunjawa!” ujar Faisal. “Iya dong, tapi sepertinya kita tersasar,” kata Ayah.

Ayah kebingungan mencari arah menuju Karimunjawa. Kompas penunjuk arah rusak akibat diterjang ombak. “Kita harus bagaimana, nih?” ujar Ibu dengan wajah panik.

Wajah Faisal pun yang tadinya senang berubah menjadi sedih. Liburan ke pulau yang diimpikannya terancam gagal. Saat kepanikan melanda, tiba-tiba muncul setitik cahaya dari kejauhan. Cahaya itu bergerak memutar dari kanan ke kiri. “Sepertinya itu ada mercusuar, berarti kita sudah sampai ke daratan,” kata Ayah. Ia lantas mengemudikan kapal mendekati sumber cahaya. Ternyata memang benar, cahaya tersebut berasal dari mercusuar di sebuah pulau. Tak jauh dari situ, ada dermaga kecil.

Tak lama kemudian, Ayah sudah menambatkan kapalnya di dermaga. Ayah, Ibu, dan Faisal lalu turun dari kapal. Seorang pria tak dikenal datang menghampiri. “Apakah kalian tidak apa-apa? Tadi bukankah ada badai?” tanya pria tak dikenal itu. “Iya Pak, untungnya badai tidak berlangsung lama dan ada cahaya mercusuar yang menuntun kami ke pulau ini,” jawab Ayah.

“Mercusuar? Tak ada mercusuar di sekitar sini!” ucap pria itu heran. “Lho, tadi ada mercusuar di ujung pulau ini,” jawab Ayah sambil menengok dan menunjuk ke arah tempat mercusuar itu berdiri.

Haaahhh… Kemana mercusuar itu?” Ayah terkejut bukan main. Ibu dan Faisal pun ikut kaget. Tak ada mercusuar di ujung pulau. Padahal, beberapa menit lalu, mercusuar tersebut masih berdiri tegak dan cahaya lampunya menyala.

“Iya, aku tadi juga melihat mercusuar, kok,” Faisal membela Ayahnya. “Dulu memang ada mercusuar di ujung pulau ini. Tapi, 3 tahun lalu, badai dan ombak besar menghancurkan mercusuar. Pak Agung, sang penjaga mercusuar juga ikut menghilang ditelan ombak,” cerita pria tak dikenal. Mendengar penjelasan tersebut, Ayah, Ibu, dan Faisal saling berpandangan. Lalu, ke mana mercusuar penyelamat tadi?

 

Cerita: JFK     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *