Setelah lebih dari 14 jam perjalanan dari London, Inggris, menggunakan pesawat, Nicko bersama Ayah dan Bunda tiba di Jakarta pada sore hari. Mereka bertiga langsung menggunakan taksi menuju rumah Nenek.

“Wah, di sini masih banyak pepohonan, ya,” ucap Nicko saat taksi masuk ke dalam kompleks perumahan. “Iya, karena dulunya daerah sini masih hutan,” ujar Ayah.

Taksi kemudian berhenti di depan sebuah rumah nomor 417 bercat biru muda. Halaman rumah itu cukup luas. Tak ada pagar yang membatasi halaman dengan jalanan kompleks. Hanya ada sebuah pohon rindang berdiri tegak di halaman.

Tok.. Tok.. Tok..

Pintu rumah diketok perlahan. Tak lama kemudian, seorang nenek membukakan pintu. Hampir tiap helai rambutnya berwarna putih. Wajahnya pun sudah dihiasi banyak kerutan. “Halo, cucuku,” sapa Nenek itu dengan ramah. Ya, dialah nenek Nicko yang tak pernah ditemuinya sejak Nicko lahir.

“Halo, Nenek,” jawab Nicko sambil mencium tangan Nenek. Ayah dan Bunda pun ikut mencium tangan dan memeluk Nenek.

“Akhirnya, Nenek bisa bertemu dengan cucu kesayangan,” goda Nenek. Nicko pun membalasnya dengan senyuman.

Rumah Nenek nampak tua. Ada banyak perabotan tua di dalamnya. Salah satu yang menarik perhatian Nicko adalah lukisan tua di ruang tamu, bergambar puluhan tentara yang sedang berbaris.

Nicko terlihat serius memandangi lukisan tentara itu. “Lukisan tentara ini dibuat oleh mendiang Kakekmu. Nah, tentara-tentara ini adalah Tentara Republik Indonesia saat melawan penjajahan Jepang,” cerita Nenek yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

“Jadi, Kakek dulu pejuang?” tanya Nicko. “Iya, dulu Kakek adalah tentara pejuang. Sejak merdeka dan pensiun dari tentara, Kakek melukis. Lukisan ini dibuat sesuai ingatan Kakek dulu saat berjuang,” jawab Nenek.

“Besok lagi ya cerita tentang lukisannya, sekarang kita makan dulu, nanti baru istirahat. Sudah jam 8 malam ini,” kata Nenek.

Selepas makan malam, Nicko, Ayah, Bunda, dan Nenek berkumpul di ruang tamu. Waktu menunjukkan pukul 10 malam. “Kamu betah tinggal di London, Nicko?” tanya Nenek. “Betah, Nek, tapi aku pingin tinggal di Jakarta saja,” jawab Nicko. “Iya, nanti kita pindah setelah kamu lulus Sekolah Dasar dan Ayah dipindahtugaskan ke Jakarta,” Ayah ikut menimpali.

“Sudah jam 10 lewat, lebih baik kamu tidur, ya. Jangan lupa buang air kecil dulu. Supaya nanti kamu tidak keluar kamar setelah jam 12 malam,” kata Nenek. “Iya, Nek. Tapi memang kenapa tidak boleh keluar kamar setelah jam 12 malam, Nek?” Nicko balik bertanya. “Ehmm.. Tidak apa-apa, kok. Supaya kamu tidak takut saja malam-malam,” jawab Nenek sambil terbata-bata seperti ada yang hendak disembunyikan.

“Ahh, Nenek. Aku kan sudah kelas 5 SD. Aku sudah biasa mandiri di London,” ucap Nicko sedikit sombong.

Nicko lalu beranjak masuk ke kamar. Ayah dan Bunda tidur di kamar terpisah. Perjalanan yang jauh membuat tubuh Nicko sangat lelah. Ia pun terlelap dalam tidurnya.

Tiba-tiba, Nicko ingin sekali buang air kecil. Ia pun berusaha bangun dari tidurnya. Jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Setengah sadar, Nicko keluar dari kamar dan berjalan perlahan menuju toilet.

Breeek.. Breeek… Breeek…

Sayup-sayup terdengar derap langkah kaki berbarengan. Nicko kebingungan. Matanya mencari-cari sumber bunyi itu. “Ehmm.. Seperti bunyi langkah orang banyak,” gumam Nicko. (BERSAMBUNG)

 

Cerita : JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *