Lisa dan Dina selalu berjalan pulang dari sekolah bersama-sama karena rumah mereka berdekatan. Suatu sore di hari Sabtu, Lisa yang sedang berjalan bersama Dina teringat sesuatu.

Saat itu, mereka sedang melewati jalan Kelabu. “Dina, jangan lewat jalan ini!” kata Lisa. “Oh ya, ini jalan si hitam galak!” seru Dina kaget.

Si hitam galak adalah anjing peliharaan berwarna hitam di sebuah rumah besar yang ada di jalan Kelabu. Rumah besar itu adalah satu-satunya rumah di jalan itu. Nama anjing itu bukan hitam galak, tapi Dinda dan Lisa menamai anjing itu hitam galak karena perilakunya yang menyeramkan.

Si hitam galak selalu menggonggong setiap ada orang lewat dari balik pintu pagar rumah besar. Bahkan katanya pernah ada kejadian si hitam galak berlari keluar dari kandang dan mengejar seorang anak!

Ketika akan berbalik dan meninggalkan jalan Kelabu, Lisa dan Dina bertemu dengan Pak Ben penjaga rumah besar tempat si hitam galak tinggal. Pak Ben orangnya ramah dan baik, Lisa dan Dina sering bertemu dengannya di mini market kompleks.

Pak Ben membawa kandang binatang yang kosong. “Selamat siang, Pak Ben,” sapa Lisa dan Dina. Pak Ben balik menyapa. Tidak seperti biasanya hari ini Pak Ben murung. Rupanya, si hitam galak sudah mati.

Pak Ben dekat dengan anjing itu, karena itulah dia sangat sedih. Dari Pak Ben, Dina dan Lisa tahu kalau nama anjing itu Hitam. Lisa dan Dina menemani Pak Ben meletakkan kandang yang dibawanya di sebuah lahan kosong. Tadinya kandang itu milik Hitam.

“Waktu masih hidup, Hitam suka bermain di sini. Entah kenapa… Bapak merasa harus meletakkan kandang ini di sini,” kata Pak Ben dengan suara lirih.  Melihat Pak Ben, Lisa dan Dina jadi merasa sedih. Setelah menghibur Pak Ben, Lisa dan Dina segera berjalan pulang.

Tiga hari kemudian, Lisa mengunjungi Dina di rumahnya. “Lisa, kamu kenapa? Wajahmu pucat!” tanya Dina. “Aku tadi pergi ke lahan kosong tempat Pak Ben meletakkan kandang si Hitam. Di lahan kosong itu banyak tanaman liar bagus dan aku bermaksud memetik beberapa untuk dijadikan herbarium pembatas buku. Tapi, tiba-tiba aku mendengar sesuatu, seperti suara gonggongan! Suara itu mirip sekali dengan suara gonggongan Hitam! Dan mungkin aku salah lihat, tapi kandang si Hitam berguncang sendiri!” cerita Lisa pada Dina.

Dina memutuskan untuk pergi ke lahan kosong tempat kandang si Hitam berada, setelah Lisa membujuknya, memastikan bahwa dia tidak salah. Tapi ketika sampai di sana, kandang si Hitam sudah tidak ada. Dina menemani Lisa memetik tanaman liar. Tidak terdengar gonggongan anjing.

Pada suatu kesempatan, Dina dan Lisa bertemu dengan Pak Ben lagi. Rupanya, Pak Ben yang mengambil kandang si Hitam. Pak Ben bercerita tentang keadaan sebenarnya, mengapa si Hitam bisa jadi galak.

Rupanya, anjing itu tidak diberi kebebasan oleh pemiliknya. Pak Ben sayang pada Hitam karena itu sebisanya dia selalu mengajak anjing itu bermain di lahan kosong. “Boleh dibilang si Hitam dipelihara hanya untuk pamer saja, karena harganya mahal,” kata Pak Ben.

Dina dan Lisa tersentuh mendengar cerita Pak Ben dan iba pada si Hitam. Apa mungkin si Hitam ingin menarik perhatian Lisa karena mau bermain lagi? Lisa dan Dina tak akan pernah tahu.

Tapi, ada sesuatu yang bisa dilakukan Dina dan Lisa. “Pak, kami mengerti sekarang kenapa seekor anjing berperilaku buruk. Kami pasti akan memberitahukan kepada teman-teman kami, agar kejadian si Hitam tidak terulang lagi…,” janji Dina dan Lisa.

 

 

 

Cerita: Seruni   Ilustrasi: Novi Chrisna

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *