Sudah seminggu Heni pindah ke rumahnya yang baru, dan teman-temannya masih ingin mendengar cerita tentang rumah itu. “Di lantai dua rumahku yang baru, ada kamar kosong yang bisa kujadikan ruang rekreasi. Ada televisi besar dan ada banyak buku-buku,” kata Heni. “Waah, jadi ingin main ke rumah baru Heni,” kata Dila sahabat Heni. “Aku baru saja ingin bilang itu! Main ke rumah baruku, yuk!” ajak Heni.

Hari Minggu, Dila dan Irma, teman sekelas Heni yang adalah ketua kelas, datang. “Ayo masuk! Papa dan Mama sedang pergi, jadi aku berdua sama Mbok Yem saja,” kata Heni menyambut mereka. Heni lalu membawa Dila dan Irma masuk ke ruang rekreasi. “Asyiiik! Di sini dingin sekali, ya? Tadi waktu kita jalan di luar panas!” seru Dila dan Irma senang. “Eh iya, padahal aku belum menyalakan AC!” ucap Heni bingung. Waktu berlalu, tapi Mbok Yem belum juga mengantarkan kue dan minuman, padahal tadi Heni sudah pesan untuk langsung diantar ke ruang rekreasi. Heni pergi ke dapur. “Mbok, kok minuman sama makanannya belum diantar?” tanya Heni. “Bukannya Non Heni tadi bilang nggak usah, mau diambil sendiri,” jawab Mbok Yem bingung. “Eh, enggak kok!” kata Heni. “Lho, tadi Mbok denger sendiri Non Heni bilang begitu. Mbok lagi sibuk bikin minuman di dapur, lalu denger Non Heni bilang mau ambil sendiri,” cerita Mbok Yem. “Tapi aku dari tadi di dalam ruang rekreasi sama Dila dan Irma!” kata Heni bersikeras. “Waduh! Yang saya denger tadi suara siapa?” tanya Mbok Yem. “Ih, Mbok! Jangan bikin takut, dong,” kata Heni.

Heni dan Mbok Yem yang membawa nampan berisi makanan dan minuman pergi ke ruang rekreasi. Heni hendak membuka pintu. “Hah? Kok nggak bisa?” ucap Heni mencoba memutar-mutar knop pintu ruang rekreasi, tapi tidak terbuka juga. Akhirnya dia mengetuk pintu. Pintu terbuka, Dila dan Irma yang pucat pasi memandang Heni. “Kalian kenapa?” tanya Heni bingung. “Tadi ada yang mirip kamu di kamar ini Heni…,” jawab Dila. “Kami sedang asyik main game, lalu yang mirip kamu itu masuk dan duduk di sudut, membaca dan diam saja. Lalu barusan kamu yang asli mengetuk pintu dan memanggil nama kami. Kami terkejut dan memandang ke sudut, dia menghilang,” cerita Irma lirih. Heni gemetar ketakutan. Dita sahabatnya dan Irma si ketua kelas yang selalu serius itu tidak mungkin berbohong. “Non, mending cerita sama Bapak dan Ibu. Mbok juga pernah lihat Bapak sama Ibu tapi sebetulnya bukan mereka. Kayaknya ini bermula sejak kamar kosong jadi ruang rekreasi,” kata Mbok Yem sambil memegang pundak Heni.

Malam harinya, Heni bercerita pada Papa dan Mama tentang kejadian menyeramkan tadi siang. “Papa baru ingat kata-kata orang yang menjual rumah ini dulu, katanya kamar kosongnya jangan dijadikan ruangan apapun,” kata Papa. Heni terkejut. Seminggu kemudian Papa membawa seorang yang penampilannya unik melihat ruang rekreasi Heni. “Orang pinter, Non,” jawab Mbok Yem waktu ditanya Heni. Akhirnya Papa dan Mama memutuskan untuk menutup kamar kosong itu, dan tidak pernah ada lagi kejadian aneh.

 

 

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: Novi Chrisna

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *