Leli dan Ana terkejut. Ini gawat sekali! Mereka akan pentas di gedung berhantu! “Geno pasti senang mendengar hal ini!” kata Leli sambil memijit dahinya, pusing.

Benar sekali dugaan Leli. Begitu mendengar apa yang terjadi, Geno tersenyum senang dan berkata, “Kalian jangan khawatir, syaratnya cuma satu, jangan takut! Sudah pasti tidak akan diganggu!”

“Dengan konsentrasi penuh pada drama yang akan kami pentaskan, tentu saja tidak ada waktu buat takut!” kata Leli. Tetapi, Ana tidak yakin.

Akhirnya, hari pementasan drama tiba! Setelah latihan yang berat, Leli, Ana, dan teman-temannya siap menghibur penonton dengan bakat mereka berakting. Siang hari, jauh sebelum jam pementasan drama, Leli berkeliling gedung teater Melati.

“Ini ruang ganti pemain drama, ya? Lebih luas dari yang ada di gedung Pusaka!” seru Leli senang. BRAK! Tiba-tiba, terdengar suara dari luar. Leli segera memeriksa arah suara itu. “Rupanya, pintu penghubung jalan masuk ke panggung dan ruang ganti tertutup! Aneh, padahal tidak ada orang selain aku?” gumam Leli.

Tiba-tiba, Leli merasa ada yang memperhatikannya dari ruang ganti! Dengan segera, Leli membuka pintu penghubung dan berlari ke panggung. BRUK! “Aduh!” Leli menabrak seseorang. Rupanya Ana! “Ana! Kamu yang menutup pintu penghubung tadi, ya?” tanya Leli. “Ha? Bukan! Aku baru saja datang dengan Dodi,” ucap Ana.

Dodi adalah anggota klub drama yang akan berperan sebagai salah satu pemandu sorak. Leli pun terdiam. “Ada apa, Leli? Kau seperti habis melihat hantu?” tanya Ana gelisah. “Tidak apa-apa, kok! Tenang saja, aku lupa tadi sudah menutup pintu! Ayo kita konsentrasi untuk pementasan drama nanti sore!” ucap Leli.

Suara tepuk tangan bergemuruh di teater gedung Melati. Pementasan klub drama Leli dan teman-temannya sukses! Selesai pementasan, ibu guru Mela mengadakan makan malam bersama untuk para pemain drama. “Kalian boleh mengundang teman-teman dari sekolah kita yang datang menonton,” ujar ibu guru Mela memberikan kejutan besar.

Geno, Bobi, Elgi, dan Bidu sangat gembira karena diundang untuk makan bersama. “Terima kasih, ya, Leli, bu guru Mela.  Dramanya bagus sekali!” kata mereka.

Tiba-tiba, Ana berseru khawatir, “Dodi hilang! Aku mencarinya di mana-mana, tapi tidak ketemu!” “Apa?!” seru Leli. Mereka semua segera mencari Dodi.

“Dodi… di mana kau!?” seru Leli. Krieeeet….tiba-tiba pintu ruang ganti terbuka. Leli memberanikan diri untuk masuk. “Dodi?” ucap Leli sangat terkejut. Dia melihat Dodi tergeletak di lantai, tersembunyi dalam kostum-kostum dan dekorasi panggung. “Dodi! Kamu tidak apa-apa?!” tanya Leli panik. “Hmm..? Wah, rupanya aku ketiduran! Jam berapa ini?” ujar Dodi yang bangun dan mengusap matanya. “Astaga, kami semua khawatir sekali!” ujar Leli seraya mengusap dahinya lega.

“Aku melihat Hendi, anggota klub drama kita pergi ke ruang ganti. Aku bermaksud memberitahunya mengenai undangan ibu Mela. Tetapi, setelah masuk ke ruang ganti, Hendi tidak terlihat di mana pun! Tiba-tiba, pintu ruang ganti tertutup! Aku mencoba membukanya tapi terkunci! Aku yang sudah lelah dan  mengantuk akhirnya memilih untuk tidur saja,” cerita Dodi. “Jangan-jangan, itu hantu gedung Melati yang menyamar jadi Hendi!” seru Bobi dan Geno.

“Se..sebenarnya aku juga mengalami hal aneh di ruang ganti…,” kata Leli. “Kalau begitu..ini semua karena hantu penulis itu!” seru Ana ketakutan. “Itu tidak mungkin. Kalian semua hanya tegang dan lelah, jadinya membayangkan yang tidak-tidak. Mari kita makan dan menikmati keberhasilan kita. Ibu sangat bangga pada klub sastra! Ibu juga sangat berterima kasih pada kalian yang sudah meluangkan waktu untuk menonton,” kata ibu guru Mela. “Terima kasih kembali, ibu guru,” kata Leli dan kawan-kawannya.

Setelah makan malam, mereka semua bisa berpikir jernih kembali. Pintu yang aneh pasti rusak, dan foto hantu itu? Kesalahan cetak, itulah jawabannya!

 

Selesai

 

Cerita: Seruni   Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *