“Selamat pagi!” sapa Leli ceria pada beberapa temannya ketika tiba di ruang kelas. Akan tetapi, teman-teman Leli malah mengacuhkannya. Mereka sedang bergerombol di meja di depan papan tulis. Meja itu adalah meja Geno, teman sekelas Leli yang sangat menyukai cerita hantu.

“Hiii! Seram sekali! Aku mau tutup mata saja!” seru Ana, salah satu sahabat Leli di klub sastra. “Percuma tutup mata, sekali lihat, foto ini akan ada di pikiranmu terus menerus!” seru Bobi, teman sekelas Leli yang hobi makan. “Aku menyesal telah melihat foto mengerikan ini! Pasti nanti malam nggak bisa tidur!” keluh Bidu, si kacamata yang pintar. “Mending nggak bisa tidur, kamu bisa belajar, Bidu! Kalau aku, sudah pasti istirahat siang nanti nggak berani pergi ke toilet sendirian!” kata Elgi si kutu buku .

Leli mendekat perlahan tanpa ketahuan yang lain, lalu berkata dengan suara pelan, “Heiiii…, kalian semua sedang apa, sih? Masa ucapan selamat pagi dari ketua klub sastra yang terkenal, malah kalian abaikan begitu saja?” “HUAAA!” mereka semua menjerit kaget. “Hahahaha!” Leli tertawa terbahak-bahak.

“Leli jahat, ah! Kita semua kan lagi ketakutan, kamu malah bikin kaget!” gerutu Ana. “Ternyata, ketua klub sastra, jahil, ya?” Geno terkekeh geli. “Apa sih yang seram, aku pingin tahu?” tanya Leli penasaran. “Foto hantu! Ini bukan main-main, kamu pasti takut!” kata Geno sambil menyerahkan sebuah foto pada Leli.

Leli melihat dan memperhatikan foto itu. “Bagaimana? Seram kan?” tanya Ana, Bobi, Bidu, dan Elgi. “Ini kan foto panggung teater di gedung Melati. Gedung Melati itu gedung serba guna tua. Tapi, kini sudah dipugar dan diperbaiki,” kata Leli, jelas-jelas mengecewakan teman-temannya. “Haduuuuh! Si Leli nggak tahu sama sekali tentang orbs, ya?” tanya Geno pada Ana, Bobi, Bidu, dan Elgi. “Orbs dari kata orb? Bentuk bulat penuh? Apa sih maksudnya?” tanya Leli bingung.

“Coba lihat foto di tanganmu baik-baik, Leli. Foto itu menangkap adanya orb di panggung teater gedung Melati! Sebutan orb di dunia para pemburu hantu bukan hanya berarti bentuk bulat penuh! Kata orb juga bisa berarti lingkaran roh, bukti nyata adanya hantu!” terang Geno.

“Jadi, bentuk bulatan kecil putih yang ada di foto ini adalah hantu?” tanya Leli yang sudah menemukan bulatan kecil di foto teater gedung Melati. Geno pun mengangguk yakin. “Berarti, cerita bahwa teater di gedung Melati berhantu itu, benar, ya?” bisik Ana. “Kami belum pernah dengar! Ceritakan, dong!” kata Bobi, Elgi, dan Bidu.

“Kejadiannya 50 tahun yang lalu. Ada seorang penulis drama yang sangat bangga dengan karya barunya. Dia sangat berharap karyanya itu dapat dipentaskan di gedung Melati. Harapannya terkabul ketika si pemilik gedung Melati mau mementaskan karyanya. Di hari pementasan, penonton yang datang sangat banyak! Si penulis sangat bahagia…,” Ana pun bercerita.

“Aku tahu apa yang terjadi kemudian! Saking bahagianya, dia tewas! Dan hantunya terus tinggal di gedung Melati!” kata Bobi yakin. “Huuuu! Mana ada yang seperti itu!” seru Elgi dan Bidu.

“Hei, kalau ada orang bercerita, tunggu sampai selesai, dong! Nggak sopan, deeeh!” keluh Leli. “Hehe, iya maaf…,” kata Bobi.

“Kulanjutkan ceritanya. Dengar baik-baik. Sampai dimana tadi..oh iya, pementasan drama si penulis. Pementasan drama yang diatur oleh pemilik gedung Melati, sukses besar! Tetapi, diakhir pementasan, si pemilik gedung menyatakan ke seluruh penonton kalau drama yang baru saja mereka tonton adalah..karyanya! Bukan karya si penulis malang itu!” kata Ana dengan penuh emosi.

“Jahat sekali si pemilik gedung Melati!” seru Geno, Bobi, Elgi, dan Bidu. “Karena sedih, penulis malang yang perasa itu jatuh sakit lalu meninggal. Rohnya tidak bisa tenang dan terus menerus menghantui gedung Melati!” Ana pun mengakhiri ceritanya. “Kasihan sekali…,” kata Geno, Bobi, Elgi, dan Bidu.

“Yah…untung saja pementasan drama kita bulan depan bukan di gedung Melati, tetapi di gedung Pusaka!” seru Ana lega. “Oh iya, klub sastra kalian akan mementaskan drama! Aku nonton, ya!” kata Geno. “Kami mau nonton juga!” seru Bobi, Elgi, dan Bidu! “Asyiik! Terima kasih ya, Teman-teman!” seru Leli dan Ana gembira.

Waktu berlalu, hari pementasan drama klub sastra Leli dan teman-temannya semakin dekat. Pada suatu hari, ibu guru Mela, guru bahasa Indonesia yang juga pembimbing klub sastra berkata pada Leli dan teman-teman yang bergabung di klub. “Anak-anak dengan sangat menyesal kita tidak bisa mementaskan drama di gedung Pusaka, karena sound system mereka rusak. Tapi, jangan khawatir, kita bisa pentas di gedung Melati!” kata ibu guru Mela.

 

Bersambung…

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *