Suasana pagi di rumah Dina tampak seperti biasa. Papa, Mama, dan Kak Mela duduk di meja makan, sarapan bersama. Dina mengambil roti dari meja makan. “Aku berangkat dulu!” kata Dina, semangat pergi ke sekolah pagi hari. “Iya, hati-hati,” kata Papa dan Kak Mela.  “Kalau tidak ada pelajaran tambahan, langsung pulang, ya,” tambah Mama. “Iya, Ma!” sahut Dina. Sampai di sekolah, Tita teman Dina memberi tahu kabar gembira. “Ada diskon CD game besar-besaran di toko langgananku!” ujar Tita sambil menepuk tangannya. “Asyik!” seru Aldo, teman Dina dan Tita yang juga suka game, datang. “Gimana kalau kita pergi bareng  ke toko itu nanti?” ajak Aldo. “Aduh! Aku baru ingat nanti ada pelajaran tambahan!” keluh Dina. “Berharap saja tidak ada,” kata Aldo dan Tita sambil nyengir lebar.

Ternyata pulang sekolah, pelajaran tambahan di kelas Dina dibatalkan! Dina yang gembira, pergi bersama Tita dan Aldo. “Kalau dari sekolah, kita naik bus 04,” kata Tita. Setelah lama menunggu, akhirnya bus 04 datang juga. “Aneh, nggak biasanya busnya telat,” gumam Tita sambil naik bus. “Yang penting nggak penuh!” kata Dina dan Aldo, yang sudah duduk. Tita mengangkat bahunya dan mengikuti kedua temannya, duduk santai.

Tita menutup game gadget yang dimainkannya. Dia merasa ada yang janggal. “Kenapa, Tita?” tanya Dina yang melihat wajah bingung Tita. “Biasanya perjalanan nggak selama ini dan rutenya berubah,” jawab Tita.  “Aku belum pernah, jadi nggak tahu,” ujar Dina. “Aku tanya supirnya dulu,” kata Tita. Dina melihat ke arah jendela.  Rupanya mereka melewati kuburan.  “Pak supirnya ambil jalan pintas aneh,” gumam Dina. Kemudian Dina mencium bau. Pertama-tama, bau bunga lalu bau gosong, seperti ada yang terbakar. Dina lalu melihat ke belakang ke arah Aldo dan dia bingung. Wajah Aldo pucat pasi seperti orang ketakutan. Aldo melihat ke arah Dina dan dia menghampirinya. Tanpa bicara Aldo duduk di dekat Dina, dan menyodorkan gadgetnya. Dina terbelalak kaget melihat berita di gadget Aldo. BUS 04 TERBAKAR KARENA KECELAKAAN. KORBAN BERJUMLAH  5 ORANG.

Dina melihat sekeliling bus dan mulai menghitung jumlah penumpang. 1…2…3…4…dan pak supir…semuanya 5 orang! Perasaan takut mulai menyerangnya. Tita kembali. Dia menggelengkan kepalanya bingung. “Aku tanya pak supir tapi dia diam saja. Lalu…4 penumpang di bus ini aneh. Aku sempat memperhatikan tadi. Mereka seperti orang sakit, pucat, dan menatap ke depan dengan pandangan kosong,” kata Tita. Aldo menyodorkan berita di gadget pada Tita. Reaksi Tita sama seperti Dina tadi. Dina panik sekarang. Dia tiba-tiba ingat pesan Mama yang menyuruhnya pulang. Maafkan aku, Mama! Aku ingin pulang! Dina menjerit dalam hati.

Tiba-tiba, bus berhenti. Dina melemparkan uang lalu menyambar tangan Tita dan Aldo. Mereka segera turun dari bus. Dina menengok ke belakang dan melihat 5 orang di bus itu menatap lewat kaca jendela dan melambai. Wajah mereka pucat dan sedih. “Dina! Lari!” seru Tita dan Aldo. Dina berlari mengikuti mereka tanpa menengok lagi. Akhirnya, mereka sampai di toko game. Orang-orang bingung melihat 3 anak sekolah yang duduk di lantai, kecapaian habis berlari kencang. Tapi Dina tak peduli. Sejak pengalaman itu, Dina tak mau lagi mengacuhkan pesan Mamanya. Tita dan Aldo enggan membicarakan pengalaman mengerikan mereka, jadi sampai sekarang ketiga anak itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

 

 

Cerita: Seruni         Ilustrasi: Novi Chrisna

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *