Misteri Boneka Antik

Suatu hari, Lea menemani Mamanya pergi ke sebuah toko barang antik. Di toko, ia melihat sebuah boneka antik bermata hijau. “Mama, lihat! Boneka ini cantik sekali!” seru Lea. “Wah iya, rambutnya berwarna pirang,” tambah Mama. Mama lalu menanyakan harga boneka itu kepada si penjual. “Hanya seratus ribu rupiah,” kata Mama. “Benarkah? Murah sekali, aku mau beli!” Lea berseru gembira. ”Kebetulan ada uang tabungan yang kusisihkan! Boleh, Ma?” tanya Lea. Mama tersenyum, “Tentu saja boleh!”

Lea memajang boneka antik itu di kamarnya. “Kau harus punya nama! Coba kucari dulu nama yang cocok untukmu,” kata Lea sambil mencari di internet. Dia mendapatkan satu nama yang cocok. “Bagaimana kalau Elisa? Bagus kan? Mulai sekarang kau akan kupanggil Elisa,” ujar Lea memandang Elisa dengan bangga. Ia mengambil foto dengan telepon genggamnya. “Aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku, Winda dan Jeni,” ucap Lea.

Di sekolah, Lea menunjukkan foto Elisa. “Boneka antik seperti ini kan seram, ada rohnya!” kata Jeni ketakutan. “Ah masa, mana buktinya?” ucap Lea cemberut. “Aku punya boneka antik. Sekarang bonekanya sudah kusimpan. Anjingku terus  menggonggongi  si  boneka!  Kucingku juga mengeong marah kalau melihatnya!” kata Jeni lagi. “Hiii.. seram!” ujar Winda yang ikut takut. Tapi Lea tidak percaya cerita Jeni.

Hari Rabu malam setelah  les piano, Lea berjalan lemas. “Huuh capek sekali. Melihat wajah cantik Elisa pasti langsung segar!” kata Lea. Lea menyalakan lampu kamarnya. “Kok, lampunya mati, ya?” tanyanya bingung. DUK! “Aduh!” jerit Lea ketika kakinya tersandung sesuatu. Lea berusaha meraih benda yang membuatnya terjatuh. Ternyata, itu Elisa! “Kenapa Elisa bisa ada disini? Tadi pagi kan aku menaruhnya di meja belajarku?” kata Lea. Tiba-tiba, lampu kamar menyala. Lea menjerit kaget melihat jendela kamarnya terbuka lebar dan barang-barang di atas meja belajarnya jatuh ke lantai. “Siapa yang berbuat ini?” bisiknya. Malam hari, Lea terbangun dari tidur dan merasa ada yang memperhatikannya. Entah kenapa, dia tahu kalau itu adalah Elisa! Lea tidak berani menengok dan mencoba untuk tidur lagi.

Lea menceritakan pengalamannya yang menyeramkan pada Winda dan Jeni. “Maaf karena aku tidak percaya ceritamu, Jeni!” kata Lea. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Winda khawatir. “Aku pernah dengar kalau boneka antik seperti Elisa itu tidak mau ditinggal sendirian. Dia harus ditemani,” jelas Jeni.“Aku sudah tidak mau lagi jadi teman Elisa! Seram!” keluh Lea. “Kita pertemukan Elisa dengan bonekaku, Emma.  Emma kusimpan di gudang rumah,” kata Jeni.

Tiga sahabat itu mengambil Emma di gudang. “Lalu bagaimana?” tanya Winda memandang Lea dan Jeni. “Bagaimana kalau kita kuburkan saja Elisa dan Emma, supaya mereka tidak bisa menakuti orang  lagi?” usul Lea. “Aku setuju!” tambah Jeni.Lea, Jeni, dan Winda mengubur dua boneka mengerikan itu di dekat sungai.  Dua hari kemudian, Winda menunjukkan hal mengejutkan di tablet miliknya. “Coba lihat!” ujar Winda. Lea dan Jeni terkejut setelah memperhatikan foto tiga boneka antik yang ditunjukkan Winda. “Ini kan Elisa dan Emma!” seru Winda. “Boneka yang satu lagi namanya Hilda. Menurut cerita, Emma, Elisa, dan Hilda tidak boleh terpisah! Mereka akan saling mencari jika dipisah!” seru Winda lagi.

Pulang sekolah, mereka mengunjungi lokasi tempat menguburkan Emma dan Elisa. “Li..lihat! Ada yang sudah menggali gundukan tanahnya!” jerit Winda ngeri. Jeni dan Lea melongok ke dalam galian tanah yang kosong dan terdiam ketakutan. Apakah Emma dan Elisa mencari Hilda? Ketiga sahabat ini pun tak tahu penyebabnya. (Teks: Seruni/ Ilustrasi : Just For Kids)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *