Dua hari usai operasi jantung, namun Kania masih belum sadar juga dari pingsannya. “Aku ada dimana, kenapa ruangan ini serba putih dan tidak ada siapa-siapa selain aku?” tanya Kania berulang-ulang.

Kania pun berjalan keluar. Saat membuka pintu, ada sinar putih yang sangat menyilaukan mata. Kania pun menutup pintu itu kembali. Lalu ia berjalan menuju ruangan-ruangan lain.

Perlahan Kania mendengar isakan tangis anak kecil. “Hai, kenapa kamu di ruangan ini sendirian? Kenalkan namaku Kania, namamu siapa?” sapa Kania ramah mengulurkan tangannya pada anak laki-laki tersebut.

“Aku Gumaya, aku sudah lama di ruangan ini,” ucap Gumaya sembari menghapus air matanya. “Kenapa kau disini dan mengenakan baju berwarna biru itu? Aku juga pernah mengenakan baju yang serupa denganmu ketika tiba disini,” ucap Gumaya.

“Bagaimana kalau kita ke kaca besar di sebelah sana?” ajak Gumaya menggandeng tangan Kania.

Setiba di depan jendela kaca yang sangat besar, Kania dan Gumaya melihat jelas aktivitas banyak orang. Kania melihat jelas dirinya terbaring, ditunggui oleh Ayah, Ibu, dan Kak Lisa. “Dulu aku juga mengalami hal yang sama seperti dirimu,” tutur Gumaya.

“Lalu, kenapa kau bisa berada di ruangan yang serba putih ini?” tanya Kania sedikit bingung. “Saat itu, setelah beberapa lama usai operasi, aku tersadar dan berada di dalam ruangan putih ini hingga sekarang dan tak bisa keluar lagi,” jelas Gumaya panjang lebar.

“Aku tidak mau terkurung seperti-mu! Ayah, Ibu, Kak Lisa, ini aku. Ini aku Kania!” teriak Kania sambil menggedor-gedor jendela kaca di depannya. “Kenapa kalian tidak mendengar teriakanku!” seru Kania lebih keras lagi.

Gumaya hanya terdiam. Perlahan tubuh Gumaya menghilang menjadi asap putih. Tubuhnya mulai melayang menuju pintu besar yang pernah dibuka oleh Kania. Kania yang sedang histeris, terdiam melihat tubuh Gumaya yang terbang melayang menuju pintu tersebut.

“Kania, aku akan pergi ke alam yang lain. Sebaiknya kembalilah kepada orangtuamu, mereka menunggumu!” ujar Gumaya yang terus melayang menuju pintu yang amat menyilaukan tersebut. “Pergi  Kania cepat… cepat… cepat..,” seru Gumaya sambil berteriak.

Kania segera berlari sekencang-kencangnya sebelum Gumaya membuka pintu itu. “Huuup..!” Kania masuk ke dalam kamar tempat ia tersadar pertama kali, dan ia mendengar suara riang dari Gumaya, “Aku bebassssss…”

Bersamaan dengan hilangnya Gumaya, kamar tempat Kania berada pun berputar membuat Kania pingsan kembali. “Dimana aku? Dimana aku? Dimana aku?” seru Kania lirih.

“Ayah, Kania sudah sadar!” jerit Ibu sembari menangis tak percaya melihat putri kesayangan mereka sadar dari operasinya. “Kamu ada di antara keluargamu, Nak. Kamu baru sadar setelah 5 hari pasca operasi,” ucap Ayah yang segera memeluk Kania.

“Terimakasih, Tuhan, aku sudah Kau kembalikan kepada keluargaku. Selamat jalan Gumaya, kau telah menemaniku beberapa saat di ruangan putih itu..,” ucap Kania lirih sembari membalas pelukan sayang kedua orangtuanya.

 

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *