Cara belajar siswa hampir di seluruh Indonesia telah berubah selama setahun ini, sejak pandemi Covid-19 menyerang. Yang tadinya belajar tatap muka di kelas, sekarang harus dilakukan secara digital dari rumah. Termasuk teman-teman kita yang tinggal di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kids.

Berhubung akses internet yang minim dan belum banyak tersebar di NTT, sebagian besar sekolah Happy Hearts Indonesia di sana telah menyesuaikan dengan sekolah kelompok kecil dimana guru melakukan kunjungan berkala ke rumah anak murid sejak April 2020.

“Pertama kami melakukan shift secara bergantian setiap harinya menurut kelasnya. Pada semester dua, awalnya kami melakukan shift, saat ada larangan, kami melakukan belajar di rumah. Kami datang ke sekolah untuk mengambil tugas, dan hanya ketua kelompok saja yang datang ke sekolah,” kata Beatriks Jesika Ladam, murid kelas 6 di SDK Roe, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Selama periode ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Sumba Barat Daya, dan Kupang mengirimkan tim lokal untuk melakukan pembersihan menggunakan desinfektan di gedung sekolah baik fasilitas interior maupun eksterior. Area dengan kasus Covid-19 yang lebih rendah atau tidak ada sama sekali memungkinkan sekolah untuk beralih operasi dari pembelajaran di rumah ke pembelajaran di sekolah dengan menerapkan protokol 3M, yaitu mencuci tangan, menjaga jarak dan menggunakan masker.

Peraturan dan penyesuaian ini menyebabkan periode pembelajaran di kelas menjadi lebih pendek sehingga kehadiran/absensi murid menjadi lebih rendah. Dampak langsung lainnya yang Happy Hearts Indonesia alami adalah konstruksi yang lebih lambat, tertundanya pelatihan manajemen sekolah dan pelatihan guru, serta upacara peresmian sekolah pada tahun 2020.

Penegakan protokol kesehatan selama pandemi yang ketat mengharuskan setiap murid untuk mencuci tangan dan tidak melepas masker selama jam belajar di sekolah

“Tahun 2020 merupakan tahun yang sulit untuk Happy Hearts Indonesia. Tidak ada yang tahu bahwa pada bulan Maret 2020, virus Corona menyebar di Indonesia. Karena hal ini, beberapa acara galang dana harus dibatalkan, konstruksi melambat, peresmian sekolah dan acara volunteering juga tertunda,” ujar Ibu Sylvia Beiwinkler, CEO Happy Hearts Indonesia.

Ia menambahkan, walaupun beberapa acara galang dana secara offline di tahun 2020 tertunda, Happy Hearts telah berhasil menyelenggarakan acara galang dana “Back to School Golf Tournament” di Royale Jakarta Golf Club pada bulan November 2020. “Di samping itu, Happy Hearts Indonesia berkolaborasi dengan partner dan donatur dalam melaksanakan penggalangan dana secara online , seperti “One Happy Indonesia Collection” dengan One Fine Sky dan “OPPO Find X2 Auction” dengan OPPO Indonesia, Patrick Owen, dan Prestige Indonesia,” ujarnya.

Di tahun 2020, Happy Hearts Indonesia membangun lebih banyak perpustakaan dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan ditutupnya gedung sekolah pada saat pandemi, peran perpustakaan menjadi sangat vital dalam memberikan pendidikan literasi untuk anak murid, terutama untuk anak murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD).

“Dari awal pandemi sampai dengan saat ini, perpustakaan tetap buka dengan waktu tertentu dan mengikuti protokol kesehatan. Perpustakaan telah ikut membantu sekolah dalam memberikan pendidikan literasi, terkhusus anak-anak usia PAUD sampai dengan SD, dimana mereka tetap mendapat ruang dan fasilitas yang berkaitan dengan akses literasi dan kegiatan yang sifatnya menghibur,” ujar Kak Kiki Mariana, Community Development Manager di Sumba, NTT.

Dana yang terkumpul di tahun 2020 adalah sebesar 8,8 Milyar Rupiah, atau setengah dari dana yang terkumpul di tahun 2019. Dengan dana tersebut, Happy Hearts Indonesia telah membangun kembali 21 sekolah dan 5 perpustakaan, memberikan dampak langsung kepada 2,297 anak di Indonesia dan 7,920 masyarakat.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *