Di masa pandemi, banyak kegiatan anak menjadi terbatas, ya, Moms.  Apalagi di tengah melonjaknya kasus Covid-19 belakangan ini, orangtua semakin mengetatkan aktivitas anak di luar rumah. Setelah pemerintah memberlakukan kembali sekolah online, anak-anak semakin tak bisa dilepaskan dengan teknologi yakni gadget. Namun, bagaimana caranya agar anak tetap bisa aktif bergerak dan tidak terpaku pada gadget?

Dr. Mesty Aruotedjo, Sp.A, Dokter Spesialis Anak & Founder @tentanganakofficial mengatakan, orangtua harus memastikan bahwa anak menggunakan gadget-nya untuk sesuatu hal yang positif. Seperti kita ketahui, screen time gadget pada anak adalah masalah yang kerap dikeluhkan para orangtua selama pandemi. “Agar anak tidak terpaku terus dengan gadget, orangtua perlu membuat jadwal aktivitas harian anak. Dengan begitu, selain tahu jadwal aktivitas anak, orangtua juga jadi tahu jadwalnya sendiri. Kapan kita perlu mendampingi anak, kapan kita perlu memiliki waktu kualitas bersama anak, kapan anak belajar, kapan bermain, kapan melakukan aktivitas fisik, dan sebagainya,” urai Dr. Mesty dalam acara talk show Instagram Live bertajuk “Jangan Panik! Kenali Cara Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Tengah Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan oleh Anak Siaga Hansaplast dan Tentang Anak, Minggu (18/07).

Dr. Mesty Aruotedjo, Sp.A, Dokter Spesialis Anak & Founder @tentanganakofficial

Jadwal Screen Time

Hal senada disampaikan oleh Analisa Widyaningrum, Psikolog dan CEO @apdcindonesia. Di masa pandemi ini, katanya, banyak orangtua yang khawatir. “Kok anak saya jadi susah ngomong, ya? Apakah karena kebanyakan pakai gadget? Kok, anakku obesitas, apa mungkin karena ruang gerak terbatas? Banyak yang mengeluhkan hal itu,” ujarnya.

Ia melanjutkan, anak-anak sekarang adalah generasi digital, jadi tak mungkin melepaskan mereka dari gadget. Namun, orangtua bisa membantu anak memanfaatkan gadget dengan baik, salah satu caranya dengan membuat jadwal screen time. “Jadwal ini sangat membantu, jadi ada batasan kapan anak bisa memakai gadget, jangan sampai anak kurang gerak karena asyik terus sama gadget-nya sampai lupa waktu. Selain itu, orangtua perlu memfilter apa yang boleh dikonsumsi anak melalui gadget-nya. Banyak kok permainan di gadget yang edukatif,” katanya.

Untuk mengajarkan anak agar patuh pada jadwal sreen time yang telah disepakati, Analisa menganjurkan orangtua untuk tidak sekadar melarang anak. “Untuk itu, orangtua bisa menggunakan bantuan alarm di ponsel atau aplikasi tertentu. Misalnya katakan, “Kalau alarm sudah bunyi berarti waktu nonton YouTube atau main game-nya habis ya, Dek. Atau, pakai bantuan jam. Misalnya, kalau jarum panjangnya di angka 2 berarti sudah selesai main gadget-nya. Bila diajarkan pelan-pelan, anak usia 4 atau 5 tahun akan mengerti. Apalagi pada anak usia 6 tahun ke atas, mereka sudah bisa memahami sesuatu atau diajak untuk berkomitmen sebab pada usia ini, anak berada dalam tahap operasional konkrit ,” anjur Analisa.

Analisa Widyaningrum, Psikolog dan CEO @apdcindonesia

Ajak Anak Bergerak

Di luar jadwal screen time, seperti yang ditegaskan oleh Dr. Mesty, orangtua perlu memastikan jadwal aktivitas harian anak diselingi dengan aktivitas motorik kasar seperti bermain atau bergerak. Meski di rumah saja selama pandemi, katanya, pastikan anak bisa bergerak secara bebas. Caranya, orangtua harus memastikan lingkungan rumah aman. Misalnya, melindungi sudut meja dengan pengaman, menutup stop kontak di rumah, menciptakan ruang bergerak di rumah untuk anak bisa beraktivitas, misalnya melompat, dan sebagainya.

“Jangan sedikit-sedikit melarang anak, terutama pada anak di bawah usia 5 tahun. Itu hanya akan menghambat anak bergerak. Tak dipungkiri, banyak anak yang perkembangan motorik kasarnya jadi terhambat di masa pandemi ini karena ruang geraknya dibatasi. Padahal, anak-anak sedang butuh-butuhnya bereksplorasi,” ujar Dr. Mesty.

Dian Ayu Lestari, HansaMom dan Selebriti

Seaman apapun lingkungan rumah diciptakan, terkadang kecelakaan kecil terjadi dan susah untuk dihindari. Hal ini juga dialami oleh Dian Ayu Lestari, Selebriti. “Anakku Langit usianya 4 tahun. Aku biarkan ia aktif bergerak. Sudut meja aku kasih pengaman, barang pecah belah aku amankan. Aku biarkan dia mengeksplor isi rumah, seperti main skuter dan sepeda dalam rumah. Tapi ya, ada aja momen heboh, dia jatuh atau terluka. Kayak waktu itu, dia nabrak pintu, jatuh dan lututnya berdarah,” cerita Ayu.

Sebagai Ibu, Ayu melakukan hal pertama yang penting, yakni tidak panik. Langkah awal, ia peluk anak dan tenangkan, lalu memeriksa luka dan segera melakukan pertolongan pertama. “Aku selalu sedia kotak pertolongan pertama di rumah,” katanya.

Tangani Luka Anak dengan Tepat

Ketersediaan kotak pertolongan pertama di rumah, sangat dianjurkan oleh Dr. Mesty. “Di masa pandemi, banyak orangtua khawatir untuk datang ke rumah sakit, kalau tidak terlalu mendesak. Jadi, orangtua harus menjadi dokter pertama di rumah. Penting untuk menyiapkan kotak pertolongan pertama. Antara lain berisi cairan antiseptik, plester, obat luka, obat-obatan penurun panas, termometer, dan juga di masa pandemi ini perlu disediakan oksimeter,” kata Dr. Mesty.

Lebih lanjut, ia mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua dalam menangani luka.

– Jika luka ringan/tidak dalam. Bersihkan dengan air mengalir, lalu berikan cairan antiseptik dan tutup dengan plester. “Studi menunjukkan menutup luka bisa membuat penyembuhan luka menjadi lebih baik dan lebih cepat,” katanya. Pilihlah cairan antiseptik yang tingkat toleransinya baik untuk anak, yakni tidak nyeri. “Jika cairan antiseptik yang menimbulkan nyeri, bisa saja terjadi reaksi inflamasi yang berlebihan. Jadi, orangtua perlu bijak memilih cairan antiseptik untuk anak,” katanya.

– Jika terjadi perdarahan pada luka,  hentikan perdarahan terlebih dahulu. “Misalnya terjadi perdarahan di tangan. Tinggikan tangan lalu tekan lukanya supaya perdarahan berhenti terlebih dulu (biasanya dalam waktu 5 menit). Setelah itu bersihkan dengan air mengalir, berikan cairan antiseptik lalu ditutup dengan plester.

– Kalau terjadi luka yang cukup dalam misalnya luka tusuk, sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. “Misalnya ada pisau/kawat/benda tajam yang menancap, jangan dicopot sendiri, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” tegasnya.

Perlu Bantuan Dokter

Selain itu, orangtua perlu mengenali tanda-tanda kapan anak perlu dibawa ke dokter. “Jika dalam waktu 5 menit, perdarahan pada luka tidak juga berhenti, langsung bawa ke fasilitas kesehatan. Selain itu, jika misalnya setelah dilakukan pertolongan pertama timbul bengkak, kulit makin merah, timbul nanah, atau muncul demam, sebaiknya anak segera di bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” imbuh Dr. Mesty.

Terkait pertolongan pertama pada luka anak, Mom Dian Ayu Lestari mengaku selalu menyediakan Hansaplast Spray Antiseptik tanpa rasa nyeri yang  mengandung PHMB (Polyhexamethylene Biguanide) yang efektif melawan kuman dan bakteri, Hansaplast plester karakter Marvel untuk melindungi luka dari kotoran dan bakteri, serta salep luka yang membantu proses penyembuhan luka dan kulit yang rusak.

“Menolong banget. Anakku nggak takut diobati karena cairan antiseptiknya nggak pedih di kulit. Terus, anakku paling suka dengan Hansaplast plester karakter misalnya Spider-Man atau Iron-Man. Jadi pas dia nangis, aku alihkan dengan plester dan bikin tangisnya berhenti.  Dia jadi sibuk milih plester dan bilang mau jago dan kuat lagi kayak Iron Man. Sekarang, malah kalau jatuh padahal nggak luka, langsung nyari cairan antiseptik dan plester di kotak pertolongan pertama, aku biarkan saja. Yang penting, dia nggak panik kalau jatuh, hehe…” tutup Ayu.

Foto: Efa

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *