Sejak kecil, Ruka dan teman baiknya Lida, bercita-cita menjadi seorang ahli rancang bangun. Mereka berdua tinggal di negara Glas yang terkenal dengan bangunan tinggi dan megah. Di negara Glas ada sekolah rancang bangun yang bagus. Sekolah itu dinamai Glas juga. Ruka berniat masuk ke sekolah itu. “Ayo, kita masuk sekolah itu bersama-sama, Lida!” ajak Ruka pada Lida. “Menyenangkan sekali jika kita bisa membangun bangunan bersama nanti,” ujar Lida setuju.

Setelah menyelesaikan tes masuk yang sulit, akhirnya Ruka dan Lida bisa  belajar di sekolah rancang bangun Glas. Pelajaran yang harus dimengerti kedua sahabat itu sulit, tapi mereka tetap bersemangat. Ruka dan Lida tidak malas bertanya pada guru-guru dan berdiskusi dengan mereka. Karena rajin, Ruka dan Lida disukai guru-guru di sekolah itu. Hal ini membuat teman sekelas mereka yang bernama Miri tidak suka. Keluarga Miri terkenal karena banyak membangun gedung-gedung di negara Glas, hal ini membuat Miri selalu disanjung di sekolah Glas. Karena inilah Miri jadi sombong.

Waktu berlalu. Pendidikan Ruka, Lida, dan Miri di sekolah Glas hampir selesai. Sebagai tugas akhir, mereka diminta membangun sebuah mercusuar di dekat pantai. Tugas ini boleh dikerjakan sendiri, berdua atau berkelompok. Ruka dan Lida sepakat untuk bekerja sama membangun mercusuar. Miri yang angkuh memilih bekerja sendirian. Suatu hari, Miri melihat Ruka dan Lida kotor terkena lumpur, pasir, dan tanah. Miri menertawakan mereka. “Kalian ini, ahli rancang bangun atau pekerja bangunan?” ejek Miri. “Menurutku, ahli rancang bangun harus mengerti lingkungan alam sekitarnya,” kata Ruka. “Benar, karena di lingkungan itulah nanti dia akan membangun,” tambah Lida. “Menurutku, mempelajari teori saja sudah cukup! Kalian berdua memang aneh. Mercusuarku pasti yang terbaik nantinya!” kata Miri sombong.

Akhirnya, mercusuar Miri, Ruka, dan Lida selesai dibangun. Orang-orang kaget karena mercusuar mereka bertiga dibangun di daerah pantai yang sama. Miri membangun mercusuarnya di daerah pantai yang berpasir, sedangkan Ruka dan Lida membangun mercusuar di daerah pantai yang berbukit. Miri sangat marah pada Ruka dan Lida. “Kalian curang!” serunya. “Kami tidak curang, coba lihat apa yang terjadi dengan mercusuar milikmu nanti,” kata Ruka dan Lida. Tak lama kemudian, Miri terkejut melihat mercusuar miliknya.

“Mercusuar yang kubangun terbenam ke dalam pasir! Kenapa?!” teriaknya bingung. “Kau ingat ketika bertemu kami yang kotor terkena lumpur, pasir, dan tanah? Kami meneliti daerah pasir di pantai ini. Ada pasir hisap, dan mercusuarmu dibangun di atas pasir hisap itu!” jelas Ruka dan Lida. Miri terduduk lemas, dia sadar akan kesalahannya. “Kalian benar. Hal ini tak akan terjadi jika aku mempelajari lingkungan tempat mercusuar milikku dibangun!” katanya.   Miri yang menyesal mengulang kembali pelajarannya di sekolah Glas. Ruka dan Lida membantunya. Miri tersentuh dengan kebaikan hati mereka. Sesudah menamatkan pendidikannya, Miri bekerja sama dengan Ruka dan Lida, dan bangunan yang mereka kerjakan dikagumi semua orang.

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *