Obstructive sleep apnea (OSA) merupakan gangguan pernapasan yang terjadi saat tidur akibat sumbatan jalan napas di bagian belakang tenggorokan. Pada kondisi OSA, jalan napas tertutup selama 10 detik atau henti napas sejenak, diikuti dengan penurunan kadar oksigen di dalam tubuh. Meski lebih sering terjadi pada orang dewasa, tak menutup kemungkinan gangguan tidur ini terjadi pada usia anak-anak.

Menurut Konsultan Laring Faring Departemen THT-KL FKUI RSCM, Dr. dr. Fauziah Fardizza, Sp.THT-KL (K), FICS,, mendengkur saat tidur belum tentu menandakan gangguan OSA. Namun, kita patut waspada jika dengkuran tersebut terdengar keras serta diikuti henti napas sejenak. “Mendengkur yang benar adalah bunyi napas teratur. Mendengkur itu adalah tertutupnya sebagian jalan napas. Sedangkan sleep apnea tertutupnya total jalan napas selama 10 detik yang kemudian diikuti dengan penurunan kadar oksigen,” jelas dokter yang juga berpraktek di RS Pondok Indah.

Selain dengkuran keras dan henti napas sejenak, gejala OSA juga ditandai dengan batuk-batuk serta tersedak saat tidur. Pada anak – anak ditandai dengan bernapas melalui mulut, biasanya anak-anak akan gelisah selama tidur karena berusaha mencari posisi yang nyaman untuk bernapas. Terkadang juga ditemui pada bagian belakang hidung anak terdapat kelenjar adenoid yang dapat mempengaruhi hambatan jalan napas. Kelenjar adenoid ini biasanya akan menghilang ketika anak berusia 7 hingga 8 tahun.

Dokter Fauziah menyebutkan kondisi obesitas atau kegemukan dapat meningkatkan faktor risiko OSA. Obesitas juga dapat memicu penumpukan lemak di daerah belakang faring sehingga dapat menghambat aliran napas saat tidur. “Ketika penderita sleep apnea mendengkur semakin keras dan henti napas yang diikuti dengan tersedak, biasanya asam lambung juga akan tersedot ke atas dan itu akan mengakibatkan daerah atas menjadi bengkak. Semakin bengkak, semakin jalan napas tertutup,” terangnya.

Menurut dokter Fauziah, bagi yang obesitas penanganan pada penderita OSA dapat dilakukan dengan cara modifikasi gaya hidup untuk menurunkan berat badan. OSA juga dapat ditangani dengan bantuan beberapa alat medis, salah satunya adalah melalui alat bantu Continous Airway Pressure (CPAP) untuk memasukkan tekanan udara pada saluran napas. Selain itu, terdapat pula penanganan OSA melalui pembedahan, seperti cautery assisted palato stiffening operation (CAPSO) untuk mengangkat uvula yang panjang di daerah langit-langit lunak serta concha reduction untuk mengempeskan struktur lekukan bagian dalam hidung yang membesar. Penanganan OSA melalui pembedahan pada anak dapat dilakukan dengan pengangkatan amandel dan adenoid.

(Foto : Ist)

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *