Jajan sembarangan, jarang makan sayur dan buah, malas cuci tangan, alergi, infeksi adalah beberapa penyebab anak terkena penyakit dan gangguan pencernaan. Menurut dokter spesialis anak konsultan gastroenterologi Frieda Handayani, yang berpraktek di RSPI menyebutkan ragam penyakit dan gangguan pencernaan yang sering terjadi pada anak usia sekolah.

Diare. Diare merupakan frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan tinja yang cair. Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, dan parasit. Selain itu, diare juga bisa disebabkan oleh malabsorpsi, keracunan makanan, gangguan kekebalan tubuh, alergi, sindrom usus pendek, toksin, dan penggunaan antibiotik. Penanganan diare di rumah dapat dilakukan dengan terus memberikan makan dan minumam sedikit demi sedikit tapi sering, oralit, dan suplemen zinc. Diare yang tak berhenti dan sudah mengarah ke dehidrasi sebaiknya dibawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Konstipasi atau sembelit. Konstipasi merupakan kondisi saat frekuensi buang air besar kurang dari dua kali seminggu, diikuti dengan mengejan hingga kesakitan, serta bentuk tinja yang keras dan bulat. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh perubahan pola makan. Anak yang tak diajarkan untuk rutin buang air besar juga berkontribusi menimbulkan konstipasi. Penanganan konstipasi dapat dilakukan dengan mengevakuasi tinja, mengajarkan anak untuk rutin buang air besar tepat waktu setiap hari atau toilet training, mengonsumsi serat, dan pemberian NaCl. Jika konstipasi terus berlanjut, segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis.

GERD. Refluks gastroesofageal atau GERD juga dapat terjadi pada anak. Biasanya GERD terjadi karena terdapat tekanan dari bawah kerongkongan atau otot kerongkongan yang melemah. GERD juga dapat dipicu intoleransi makanan, kelainan anatomi lambung, dan stres. Gejala GERD pada anak dapat berupa panas bagian dada atas, sakit menelan, sering batuk, serak atau mengi, sendawa berlebih, mual, asam lambung terasa di tenggorokan, gejala refluks semakin terasa saat tidur. Penanganan GERD di rumah dapat dilakukan dengan meninggikan kepala anak saat tidur dengan dua bantal. Jangan biarkan anak langsung tidur setelah makan. Tunggu waktu selama dua jam untuk kemudian berbaring. Anak juga disarankan untuk makan dengan porsi kecil dan sering, batasi minuman bersoda, makanan berlemak, gorengan, kafein, serta olahraga teratur.

Intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa merupakan gangguan pencernaan karena tubuh tidak dapat memproses laktosa secara optimal di dalam usus halus. Gejala yang timbul dapat berupa diare, kembung, nyeri perut, muntah, sering flatus, merah di sekitar anus, dan tinja berbau asam. Gejala ini biasanya muncul setelah anak mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa. Adapun makanan yang mengandung laktosa di antaranya susu, keju, yogurt, dan makanan yang mengandung olahan susu.

Apendisitis atau radang usus buntu. Radang usus buntu adalah peradangan yang terjadi pada usus buntu atau apendiks. Radang usus buntu biasanya dipicu karena terjadi hambatan di pintu rongga usus buntu, infeksi saluran pencernaan, tinja atau parasit menyumbat rongga usus buntu, dan cedera perut. Gejala yang timbul dapat berupa gejala di sakit area pusar, perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut kanan bagian bawah, mual dan muntah, serta demam di atas 37,5 derajat Celcius. Jika mengalami gejala tersebut segera ke dokter untuk mengetahui penanganan yang tepat. Biasanya dokter akan menentukan apakah ditangani dengan pengobatan atau perlu operasi.

Gastritis atau radang lambung. Radang lambung terjadi karena ketidakseimbangan asam di dalam lambung. Kondisi ini dapat dipicu oleh infeksi bakteri, infeksi berat, konsumsi obat penurun panas, stres, makanan terlalu pedas, terlalu berbumbu, berlemak, dan iritan. Radang lambung ditandai dengan gejala kembung, mual, muntah, dan sakit perut. Penangan radang lambung dapat dilakukan dengan pengobatan oleh dokter dan perubahan gaya hidup sehat seperti makan makanan bernutrisi tinggi dan rajin berolahraga.

Irritable Bowel Syndrome (IBS). IBS merupakan gangguan sistem pencernaan yang lebih sensitif. Kondisi ini membuat kontraksi pada otot saluran cerna sehingga lebih mendorong makanan yang melewati rongga usus. Dinding dalam otot saluran cerna juga bereaksi lebih terhadap stimulan ringan seperti produk susu dan stres. IBS dapat menyebabkan kram, diare, dan juga konstipasi. Hingga saat ini belum diketahui penyebab IBS. Beberapa penelitian menunjukkan, makan makanan yang iritan membuat usus lebih sensitif. Ada pula studi yang menyebut terlalu banyak serat, terutama yang tidak larut dalam air, juga mengiritasi usus. Penanganan untuk IBS dapat dilakukan dengan membuat catatan makanan untuk mengetahui makanan atau stimulan yang memicu IBS, melakukan pola makan yang sehat, tidur yang cukup, dan olahraga yang teratur.

(Ilustrasi : Novi)

 

 

 

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *