Kuni si kucing kuning menguap. Ia mencoba tidur siang, tapi tak bisa. “Ini semua gara-gara kalian, Cokelat dan Belang!” gerutu Kuni pada dua hewan lain yang sedang mengobrol dengan suara keras. Cokelat adalah seekor anjing liar berbulu cokelat. Sedangkan Belang adalah seekor kucing dengan bulu belang tiga. “Hei Kuni, rumah kosong ini tempat tinggal kami. Kau pulang saja ke rumah tuanmu, di sana kau bisa tidur siang tanpa diganggu,” kata Belang. “Aku sedang marahan dengan tuanku. Jadi aku mau tinggal di sini saja!” seru Kuni. Cokelat tertawa dan berkata, “Pasti kaulah yang sedang dimusuhi oleh tuanmu!”Wajah Kuni merah padam. Ia pun menceritakan semuanya. Pemilik Kuni, Emma, marah karena Kuni bermain dengan gelang emas kesayangannya. Akibatnya, gelang itu hilang.

“Mengapa tidak kau cari gelang Emma?” tanya Belang. “Aku tidak tahu harus mencari ke mana,” Kuni bersikeras. “Kau hanya tidak mau berusaha lebih keras,” Belang menasehati. “Kucing rumah memang pemalas,” kata Cokelat meremehkan Kuni. “Aku bukan pemalas! Hari ini gelang emas Emma pasti akan kutemukan,” tekad Kuni. Ia segera pergi dari rumah kosong. “Kalau gelang emas Emma tidak ketemu, aku pasti akan ditertawakan oleh Belang dan Cokelat,” Kuni bergumam.

Tiba-tiba, Kuni mendengar suara dengung seekor lebah. “Berisik!” seru Kuni kesal. Lebah itu terbang di depan Kuni sambil menangis. “Maafkan aku, namaku Bibi. Aku sangat lapar tapi tak bisa menemukan bunga untuk dihisap nektarnya,” kata si lebah.“Di sini memang tak ada bunga yang mekar. Kecuali bunga yang tumbuh di rumah kaca keluarga tuanku,” jelas Kuni. “Aku tadi terbawa oleh sebuah mobil hitam dan tahu-tahu sudah berada di sini,” kata Bibi mulai menangis lagi. Suaranya bising sekali. Kuni menghela nafas. Ia tahu rasanya lapar, sangat menyiksa! “Tak ada jalan lain, aku akan mengantarmu ke rumah kaca. Kau bisa makan nektar bunga sepuasnya,” seru Kuni. “Horeee… Terima kasih!” ujar Bibi senang.

Sesampainya di rumah kaca, Bibi terbang dan hinggap di bunga-bunga. Setelah selesai, Bibi terbang dengan gembira. “Aku kenyang sekali! Kau sangat baik, Kuni. Nah, apa yang bisa kulakukan sebagai tanda terima kasih?”  tanya Bibi. “Aku ingin menemukan gelang emas milik Emma, tapi aku tak tahu hilangnya di mana,” jawab Kuni sedih.“Sepertinya, aku tahu di mana gelang itu. Tadi aku melihat benda berkilau saat tersesat,” kata Bibi yakin. “Benarkah?!” seru Kuni kaget. Ternyata, gelang Emma jatuh di parit tak jauh dari rumah kaca. “Aku harus mengambilnya!” seru Kuni. Ia segera turun ke parit.

Belang dan Cokelat melihat Kuni, mereka berdua bingung. “Kuni, apa yang kau lakukan?” tanya Belang dan Cokelat.“Aku menemukan gelang Emma!” jawab Kuni yang nampak kotor terkena air parit. Belang dan Cokelat kagum atas keberanian dan kebaikan Kuni. “Kami sangat takut dengan parit yang kotor dan bau.  Tapi, kau tanpa ragu masuk ke dalamnya demi mengambil gelang emas itu!” kata Belang.“Kau juga sudah menolong Bibi yang kelaparan!” tambah Cokelat. “Kalau aku tidak menolong Bibi, gelang emas Emma tidak akan ketemu. Kita memang harus banyak berbuat baik,” seru Kuni bangga. Emma terkejut saat melihat Kuni datang sambil menggigit gelang emasnya. Dia memeluk Kuni sambil tertawa bahagia. Kuni dan Emma pun berbaikan lagi. (Cerita: Seruni/ Ilustrasi: Fika)

 

 

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *