Apa yang kalian ketahui tentang styrofoam, Kids? Pasti kalian sering mendengar bahwa pembungkus makanan ini berbahaya bagi kesehatan. Selain itu juga, sering dituding sebagai penyebab banjir. Hmm… benarkah demikian? Benar tidaknya tentang rumor tersebut, beberapa waktu lalu Just For Kids, berkunjung ke pabriknya, lho!

Polistirena adalah sebuah polimer dengan monomer stirena, sebuah hidrokarbon cair yang dibuat secara komersial dari minyak bumi. PT Kemasan Cipta Group telah mengembangkan polistirena busa (atau biasa disebut styrofoam) yang terbuat dari General Purpose Polystyrene (GPPS) untuk wadah makanan seperti: kotak makan, nampan makanan, piring, dan mangkuk.
Styrofoam ini sering dianggap berbahaya bagi kesehatan. Menurut Bapak Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph. D, dosen ITB dan juga tenaga ahli dari LAPI ITB, PS foam ini aman meski bersentuhan langsung dengan makanan. Dalam konteks kesehatan, stirena sendiri adalah zat kimia yang
terdapat dalam makanan pokok yang biasa kita konsumsi seperti stroberi, kopi, dan kacang. “Jumlah stirena yang ada dalam kemasan makanan yang terbuat dari polistirena adalah 0 – 39 ppm (part per million). Jumlah ini sama dengan kandungan di dalam kayu manis, daging sapi, biji kopi, stroberi, kacang, dan tepung yang kita konsumsi langsung sehari-hari,” katanya.

Bapak Wahyudi Sulistya, Director of Kemasan Group dan Bapak Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.sc, Ph.D, Scientist/ Researcher dari Labotarory Technology Polimer and Membrane Institute Teknologi Bandung (LTPM ITB)

Sementara polistirena yang sudah menjadi kemasan makanan, hanya mengandung10-43 ppm stirena. Jumlah tersebut masih dalam batas aman sesuai standard WHO dan BPOM Indonesia. Hal ini dapat membantah isu mengenai bahaya kandungan stirena pada kemasan makanan styrofoam terhadap kesehatan. Selain itu GPPS serta HIPS (High Impact Polystyrene) adalah bahan food grade dan aman jika terkena kontak dengan makanan. Namun, tetap harus diingat untuk tidak langsung memasukkan makanan ke dalam styrofoam dalam keadaan panas-panas.

 

Mengenai isu lingkungan, Bapak Zainal menegaskan bahwa polistirena busa merupakan zat organik. “Unsur yang membentuk polistirena busa adalah karbon, oksigen, dan hidrogen. Semua limbah polistirena hanya bisa digunakan 5-10%, karena sisanya adalah udara,” katanya.
Karena produk berbasis polistirena mengapung di atas permukaan air, maka tidak menyebabkan banjir. Selain itu, 95% udara yang terkandung di dalam produk membuatnya tidak bisa tenggelam dan tidak menyumbat saluran air.
“Sementara penyebab banjir adalah pengelolaan limbah yang buruk yang akhirnya menghasilkan penyumbatan di selokan. Sampah yang berat, seperti logam dan kayu bisa membuat permukaan air menjadi dangkal. Bahkan lebih buruknya lagi, dapat menyumbat saluran air. Hal ini merupakan temuan terbaru dari tim kami saat survei limbah sungai ke lebih dari sepuluh sungai besar di Jawa,” terang Bapak Zainal.
Selain itu, produksi kemasan PS Foam membutuhkan energi yang lebih sedikit. Bahan ini 50% lebih hemat energi jika dibandingkan kemasan berbahan kertas yang dilapisi lilin dan 30% lebih hemat energi jika dibandingkan pembungkus makanan dari PLA (berbahan mentah jagung).  Produk yang dibuat dari polistirena busa menggunakan air jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sejumlah alternatif lainnya, dimana bahan ini empat kali lebih sedikit dibandingkan pembungkus makanan dari PLA. (Retno)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *