Kalau bisa memilih, tak ada satupun yang mau sakit. Terlebih di tengah kondisi pandemi saat ini. Namun, terkadang musibah itu datang tanpa bisa kita prediksi, begitu pun dengan kuman, bakteri, atau virus yang masuk ke dalam tubuh.

Itu pula yang dialami oleh Dewi Ratnasari. Dewi yang seorang Lifestyle Blogger ini mengisahkan bahwa dirinya terpaksa dirawat di rumah sakit dan berurusan dengan jarum suntik, obat, dan sebagainya akibat bakso yang ia telan pada suatu hari selepas Idul Fitri, Mei 2021 lalu. “Sebenarnya, pas bulan puasa itu saya sudah merasa capek banget dengan semua kegiatan rumah, mulai dari persiapan, masak banyak makanan, sampai cuci piring yang never ending. Terus, saya juga kurang tidur,” kisahnya seperti yang ia tuangkan dalam blog Ratnadewi.me.

Hingga akhirnya Lebaran datang dan sederetan acara Halalbihalal menyapanya. Saat itulah ia lengah dan kalap, tergoda mencicip aneka makanan yang menggoda lidah. Sehabis mengonsumsi bakso, ia panas tinggi. Suhu badannya mencapai lebih dari 38 derajat Celsius. Merasa bahwa itu hanya demam biasa, ia lalu mengonsumsi parasetamol (obat penurun panas). Namun, selepas dari 3 hari, demam-nya masih naik turun, belum stabil. Akhirnya didorong oleh badan yang lemas karena makanan tak bisa masuk dengan baik ke dalam lambung akibat mual muntah, ia pun memutuskan untuk ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter mendiagnosis ia terkena penyakit tipes dan DBD. Trombositnya hanya mencapai puluhan, dari yang seharusnya 150. “Terus, kata dokter, di perut saya banyak bakterinya makanya mual dan pengin muntah terus kalau terisi makanan,” cerita ibu seorang anak ini. Stamina yang kurang fit ditambah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri inilah yang membuat Dewi akhirnya ambruk.

Gejala Demam Tifoid

Penyakit tipus atau biasa disebut awam sebagai ‘tipes’ yang dialami Dewi, dalam dunia medis disebut demam tifoid. Penyakit ini termasuk ke dalam food borne disease, yakni penyakit yang bisa ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi mikroorganisme. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan terdapat lebih dari 200 penyakit karena menyantap makanan yang telah tercemar mikroorganisme, salah satunya demam tifoid.

Tipus atau demam tifoid, diterangkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Suzy Maria, Sp.PD-KAI., merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Penyakit akut ini memiliki gejala demam yang meningkat secara bertahap tiap hari serta lebih tinggi pada malam hari, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan dan lemas, serta munculnya ruam. Pada anak-anak, tifoid disertai sering mengalami diare, sementara orang dewasa cenderung mengalami konstipasi.

“Pertama-tama, bakteri Salmonella typhi akan menginfeksi saluran cerna, sehingga menimbulkan gejala seperti sakit perut, diare, atau malah sulit buang air besar (BAB). Lalu bakteri akan masuk ke aliran darah sehingga terjadilah gejala demam,” jelas dr. Suzy pada acara edukasi kesehatan sekaligus peluncuran kampanye #SantapAman yang diselenggarakan oleh Sanofi Pasteur Indonesia dalam rangka Hari Kesehatan Nasional, beberapa waktu lalu.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Suzy Maria, Sp.PD-KAI

Menyerang Segala Usia

Di Indonesia sendiri, demam tifoid termasuk penyakit endemik sebab prevalensi demam tifoid yang cukup tinggi yaitu mencapai 500 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Demam tifoid bisa menyerang segala usia. Berdasarkan studi yang dilakukan di daerah kumuh di Jakarta, diperkirakan insidensi demam tifoid adalah 148.7 per 100.000 penduduk per tahun pada rentang usia 2 – 4 tahun, 180.3 pada rentang usia 5–15 tahun dan 51.2 pada usia di atas 16 tahun. Dari data tersebut, bisa disimpulkan bahwa anak usia 5 tahun ke atas rentan terkena tipus , sebab pada usia ini, anak-anak suka jajan makanan atau minuman baik di dekat rumah ataupun di sekolah.

Namun, bukan hanya anak-anak saja yang suka jajan, remaja dan orang dewasa pun juga. Jujur deh, berapa kali dalam sehari kita diterpa oleh godaan makanan menggiurkan, hanya lewat smarphone kita? Melihat review makanan yang dilakukan oleh artis, influencer atau seseorang dan menjadi viral, membuat kita tergoda untuk juga ikut mencicipinya. Langsung deh buka aplikasi, pesan dan wuzzzz… tak berapa lama makanan sudah diantarkan di depan pintu rumah. Apalagi berdasarkan data, sejak pandemi perubahan pola perilaku dalam pembelanjaan masyarakat terutama makanan secara online, meningkat hingga sebanyak 97 persen.

Risiko Makanan Terkontaminasi, Selalu Ada

Ya, makan sesuatu yang lezat adalah salah satu cara kita menikmati hidup. Apalagi belakangan ini kondisi Covid-19 membaik sehingga aturan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) diperlonggar.  Aktivitas berangsur normal dengan sedikit batasan dan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Yang paling menonjol dengan kondisi baru ini, terlihat tempat-tempat makan kembali ramai dikunjungi orang-orang yang sangat merindukan suasana makan di tempat (dine in). Bagi pecinta kuliner, momen ini tentu akan dimanfaatkan  untuk mencicipi aneka makanan, setelah setahun lebih ‘tertahan’ akibat pandemi. Di sini lah, pentingnya melakukan santap aman agar terhindar dari risiko penyakit yang tak diinginkan.

Mencicipi kuliner yang sedang viral ataupun melakukan review makanan sedang menjadi tren di kalangan anak muda

Santap aman seperti apa? Bicara tipus, stigma yang melekat di masyarakat tentang penyakit ini umumnya adalah jajan atau makan sembarangan. Hal ini tidak salah, juga tidak sepenuhnya benar. Mengapa? Sebab, di manapun kita jajan, risiko makanan terkontaminasi, selalu ada. Baik itu makanan yang kita beli dari penjaja pinggir jalan, warung, rumah makan atau restoran mewah sekalipun. Seperti yang diuraikan oleh dr. Suzy. “Kalau yang steril itu alat-alat kedokteran di rumah sakit. Makanan dan minuman tak mungkin steril, wajar sekali terkontaminasi bakteri, yang kalau tertelan oleh kita akan bisa menjadi penyakit,” imbuhnya.

Rantai Penularan

Chef dan pecinta kuliner, William Gozali yang akrab disapa Willgoz, yang turut hadir di acara yang sama pun tak menyangkal hal ini. “Mencoba berbagai kuliner termasuk memasak menu baru yang sedang tren merupakan hal yang menyenangkan. Namun, nggak ada yang menjamin mau dine in di warung kaki lima maupun di restoran mewah, bakteri bisa hilang. Sebab rantai makanan untuk sampai ke mulut kita itu, panjang sekali. Kita nggak bisa tahu seperti apa proses kebersihannya, mulai dari mempersiapkan bahan makanan, proses pengolahan, penyajian, pengemasan, penyimpanan makanan,” katanya.

Chef dan pecinta kuliner, William Gozali

Tak hanya itu, proses pengantaran makanan pun tak kalah berperan besar – baik yang disiapkan sendiri, dibeli, maupun melalui pemesanan dan diantar oleh kurir. “Bisa saja kontaminasi sudah terjadi di salah satu proses tadi,” katanya.

Seseorang yang terinfeksi penyakit demam tifoid, bisa menularkannya kepada orang lain lagi. “Orang yang terinfeksi akan menularkan melalui kotorannya/feses. Misalnya, dia sehabis BAB tidak cuci tangan dengan bersih, lalu memegang gagang pintu, misalnya, dan gagang pintu tersebut dipegang juga oleh orang lain. Nah, orang ini lalu makan tanpa mencuci tangannya, atau kurang bersih, dia pun akhirnya ikut terinfeksi,” ujar dr. Suzy.

Atau yang lebih parah, bila orang terinfeksi demam tifoid namun tidak menunjukkan gejala dan terlihat sehat. Maka ia akan berfungsi sebagai carier (pembawa). “Seandainya yang terinfeksi ini adalah seorang food handler di sebuah rumah makan misalnya, ia buang kotoran dan tidak mencuci tangan dengan bersih, tapi tetap bekerja mempersiapkan makanan atau peralatan makan, maka ia bisa menginfeksi orang lain lagi,” jelas dr. Suzy.

Hal sama berlaku di rumah tangga. Jika yang mempersiapkan makanan (misalnya ibu) terinfeksi tifoid, dan makanan yang telah terkontaminasi dimakan seluruh anggota keluarga, maka semua bisa ikut tertular.

Jaga Kebersihan

Cuci tangan, peralatan makan, serta permukaan meja atau wastafel di dapur saat memasak

Demam tifoid ini, dilanjutkan oleh dr. Suzy, dapat dicegah dengan cara menjaga sanitasi serta higienitas, juga menghindari kontak dengan penderita, serta menjaga imunitas tubuh tetap terjaga dengan baik.  “Sebelum makan, selalu pastikan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sampai bersih. Percuma bila proses hingga penyajian makanan terjaga kebersihannya, namun yang mengasup makanan tidak memperhatikan kebersihan tangan, maka akan rentan terinfeksi,” ungkapnya. Namun, mengingat Indonesia masih merupakan negara endemik tifoid, maka vaksinasi merupakan langkah optimal serta efektif untuk mencegah demam tifoid.

Kenapa Harus Vaksin?

Ya, tak banyak yang tahu bahwa tipus bisa dicegah melalui vaksinasi. Selama ini, banyak orang mengira bahwa vaksin tifoid hanya diberikan kepada anak balita saja. Faktanya, vaksin tifoid bisa diberikan mulai usia dua tahun ke atas. Berarti, bisa pula diberikan kepada siapapun termasuk anak-anak di atas 2 tahun, remaja, dewasa bahkan lansia.  Untuk mendapatkan perlindungan maksimal, vaksin tifoid ini diulang setiap 3 tahun sekali.

Vaksin tifoid injeksi polisakarida Vi memberikan perlindungan terhadap penyakit tifoid sebesar 74% (foto hanya ilustrasi)

Ditegaskan oleh dr. Suzy, seseorang yang pernah terkena demam tifoid bukan berarti kebal, ia tetap akan bisa terinfeksi lagi suatu saat. Kejadian tipus berulang ini pernah dialami oleh Sabila (23 tahun). Wanita yang berprofesi sebagai karyawan ini mengalami demam tifoid pertama kali sewaktu masih duduk di kelas 3 SD. “Sehabis 2 hari kemah Sabtu-Minggu, badan panas, mungkin kecapekan ditambah makan sembarangan,” katanya.  Ia pun, terpaksa dirawat di rumah sakit selama seminggu.

Rupanya, ia belum sepenuhnya bebas dari demam tifoid. “Waktu SMA, aku kena tipus lagi. Waktu itu aku lagi suka jajan cimol, makanan pinggir jalan dekat sekolah. Eh, tahu-tahu mendadak panas, ditambah staminaku kurang fit karena mau ujian. Kirain waktu itu cuma demam biasa, tapi 5 hari kok nggak sembuh-sembuh. Badan lemas banget, mual dan muntah. Makannya waktu itu cuma bubur, yang lunak-lunak. Tersiksa banget, deh,” katanya.

Ia pun sempat kembali dirawat di rumah sakit selama seminggu. Namun, pasca pulang dari rumah sakit, ia tetap harus banyak beristirahat dan tak melakukan hal berat. “Sebulan setelah pulang dari rumah sakit, baru aku ngerasa kondisi badanku benar-benar pulih,” katanya.

Komplikasi Hingga Kematian

Ya, penyakit demam tifoid tak boleh dipandang remeh. Jika tak ditangani dengan benar, penderita bisa mengalami komplikasi bahkan kematian. “Demam tifoid yang ringan umumnya akan sembuh dengan antibiotik. Namun, bila penyakitnya berat dan penanganannya tidak adekuat, atau terlambat diberikan antibiotik, ada potensi bahaya yang bisa menyebabkan komplikasi berat seperti perdarahan pada usus atau usus bocor. Bisa juga menyebabkan zat-zat racun sampai ke otak sehingga si penderita tidak sadarkan diri. Komplikasi tifoid berat bisa mengakibatkan kematian dan ini bukan hanya teori,” tegas dr. Suzy.

Data WHO sendiri memperkirakan 11 – 20 juta orang sakit karena demam tifoid dan mengakibatkan kematian sebanyak 128.000 – 161.000 orang setiap tahunnya di seluruh dunia. Itulah mengapa, vaksin penting dilakukan! Cara kerja vaksinasi untuk penyakit tifoid yaitu meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan infeksi bakteri Salmonella typhi. Salah satu jenis vaksin tifoid yang umum digunakan adalah vaksin tifoid injeksi polisakarida Vi. Data setelah pemantauan selama 20 bulan menunjukkan vaksin tifoid jenis ini memberikan perlindungan terhadap penyakit tifoid sebesar 74%.

“Sangatlah penting untuk memutus rantai penularan demam tifoid karena bisa berbahaya. Vaksin diperlukan untuk menjadi perisai bagi tubuh agar kita tidak menularkan penyakit ini kepada orang-orang yang kita sayang atau siapapun yang ada di sekitar kita,” pungkas dr. Suzy.

Santap Aman

Kepedulian akan pentingnya edukasi masyarakat tentang penyakit yang diakibatkan makanan atau minuman yang terkontaminasi seperti demam tifoid maupun Hepatitis A ini pula yang mendorong Sanofi Pasteur, sebuah perusahaan biofarmasi global yang fokus pada kesehatan manusia, untuk menggencarkan kampanye bertajuk “Santap Aman”.

dr. Dhani Arifandi T, Head of Medical Sanofi Pasteur Indonesia

“Di Sanofi Pasteur, kami berkomitmen menjadi mitra kesehatan terpercaya yang menyediakan perlindungan kesehatan berkualitas melalui vaksin dan mengedukasi berbagai pihak mengenai pentingnya vaksinasi. Di kampanye #SantapAman, kami mengajak semua pihak agar senantiasa menjaga higienitas saat menyiapkan makanan, rutin mencuci tangan, dan selangkah lebih maju dengan memberikan perlindungan untuk diri serta keluarga dari risiko penularan penyakit melalui makanan dengan melakukan vaksinasi tifoid agar kita lebih tenang saat menyantap makanan favorit,” ujar dr. Dhani Arifandi T, Head of Medical Sanofi Pasteur Indonesia.

Kampanye #SantapAman dilakukan melalui edukasi mengenai pentingnya perlindungan diri terhadap penyakit tifoid melalui media sosial @KenapaHarusVaksin. Vaksinasi tifoid dapat dilakukan di semua fasilitas kesehatan. “Silakan hubungi terlebih dahulu rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang Anda tuju untuk ketersediaan vaksin tifoid,” ujar dr. Dhani.

Sebelum melakukan vaksinasi tifoid, sebaiknya pastikan Moms, Dads atau si kecil dalam kondisi sehat. So, tunggu apalagi, mau santap aman makanan lezat dan bebas khawatir? Putuskan rantai demam tifoid dengan vaksinasi sekarang juga!

Foto: Freepik, dok. Inkemaris

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *