Widi bergegas mandi karena sudah pukul 4 sore. Ia sudah tidak sabar untuk segera pergi ke pasar malam di lapangan bersama teman-temannya.

“Widi, kamu sedang mandi? Cepat dong, Kakak juga mau mandi!” seru Kak Ita, kakak perempuan Widi, menunggu di balik pintu kamar mandi. “Sebentar! Aku sedang keramas!” teriak Widi.

”Kamu tuh mau ke mana? Tidak biasanya kamu mandi jam segini,” tanya Kak Ita. ”Aku mau ke pasar malam bersama teman-temanku. Kakak juga tidak biasanya mandi jam segini, seseorang mau datang ya?” seru Widi terkekeh.

Tidak lama usai shalat Maghrib, Widi bergegas keluar rumah menunggu Wahyu, Neyla, dan Wigo untuk pergi bersama ke ke Pasar Malam. ”Cepat! Kita harus pergi sekarang agar pulangnya tidak telat!” ujar Wigo.

”Wah, ramai sekali pasar malamnya. Kita mau main apa dulu?” tanya Neyla. ”Bagaimana kalau kita masuk rumah hantu?” tanya Wigo. Semuanya mengangguk setuju, lalu menuju ke loket rumah hantu. Wigo berada di urutan pertama, disusul Widi, Neyla, dan Wahyu. Mereka semua berjalan perlahan masuk ke rumah hantu. Suasana menyeramkan dan bau dupa mulai mewarnai keseraman dari rumah hantu. ”Aku takut…” seru Neyla sambil memegangi Widi erat. ”Tenang Ney, belum ada setannya kok. Lagi pula aku kan ada di belakangmu,” sahut Wahyu menenangkan temannya.

”Hiiiii hi hi hi mau ke mana kalian anak-anak?” ucap pocong putih yang sekonyong-konyong muncul di hadapan mereka. ”Ahhhhhhhhhhhh….” teriak Widi melengking. Ketiga temannya kaget tetapi yang paling membuat mereka terperangah adalah teriakan Widi. ”Aduh!! Teriakanmu kencang sekali, telingaku sampai sakit tau!!” sahut pocong putih tersebut sedikit kesal. ”Hahaha… ternyata pocongnya manusia, dan lucunya dia takut sama teriakan Widi,” sahut Wahyu. Mereka pun tidak  takut lagi menelusuri sisa perjalanan mereka di rumah hantu.

”Wah, kamu hebat Widi! Kamu membuat pocongnya takut. Sekarang kita mau main apa lagi?”  tanya Neyla yang sekarang wajahnya sudah tidak terlihat pucat. ”Bagaimana kalau kita naik kincir raksasa, aku ingin lihat komplek ini dari atas,” seru Wigo. Mereka pun kembali menuju loket bianglala. ”Hmm… bianglalanya kecil, tidak seperti yang di Dufan,” kata Wahyu. ”Kalau begitu, kita berdua-dua saja ya. Wigo dengan Wahyu dan aku dengan Neyla,” lanjut Widi.

Usai bermain, Neyla merogoh sakunya untuk melihat berapa uangnya yang tersisa. ”Uangku sisa Rp 10.000,- Aku ingin jajan kembang gula tetapi aku juga ingin bermain lagi,” ucap Neyla. ”Mengapa kita tidak main komidi putar saja dulu baru kita beli kembang gula? Uangmu harusnya cukup kok,” ucap Widi memberikan solusi. ”Baiklah, kita main komidi putar saja. Ayo! sudah mau mulai tuh…” seru Wahyu. Mereka pun bergegas menuju komidi putar

Usai bermain komidi putar, mereka mencari penjual kembang gula. ”Aku mau yang berwarna merah ya,” ucap Neyla. ”Kalau aku yang hijau,” tutur Wigo. Sementara Widi membawa kembang gula berwarna putih dan Wahyu berwarna cokelat. ”Lain kali kita ke sini lagi ya!” ucap Neyla. ”Oke… Tetapi mulai besok kita nabung ya supaya bisa main lebih banyak permainan,” ucap Widi sambil mengunyah kembang gulanya. Mereka pun kembali ke rumahnya masing-masing dengan muka riang gembira usai bermain di Pasar Malam.

 

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *