Luma dari Kerajaan Atura, sangat suka sop dan membuka restoran Sop.  Sop buatan Luma sangat lezat sehingga Raja dan Ratu Atura juga menyukainya.Suatu hari, utusan Istana Atura datang ke rumah Luma. “Raja dan Ratu Atura meminta Luma si koki sop untuk tinggal di istana dan memasak sop,” si utusan istana mengumumkan.

Semua pemilik restoran bergembira untuk Luma,  karena teman mereka bisa mendapat kehormatan ke istana. “Luma, berjuanglah di istana!” seru teman-teman Luma memberi semangat. “Terima kasih semuanya!” Luma menjawab terharu. Luma kini tinggal di istana, Raja dan Ratu khusus memintanya untuk memasak sop. “Enak sekali Luma, bisa jadi koki istana tanpa ikut ujian masuk,” gerutu seorang koki istana. “Dan dia hanya  bekerja pada jam tertentu,” tambah koki istana lain. Walaupun semua yang dikeluhkan koki-koki istana itu keputusan dari Raja dan Ratu, mereka tetap tidak suka pada Luma. Para koki yang iri itu kemudian menyusun rencana untuk membuat pekerjaan Luma susah.

Suatu malam, Luma terbangun mendengar suara mematuk, dan dia sulit untuk tidur lagi. Keesokan harinya Luma sangat mengantuk tapi dia tetap bisa memasak sop lezat. Malam berikutnya, Luma kembali mendengar suara mematuk! “Aku harus menghentikannya, kalau tidak, pekerjaanku akan kacau!” ucap Luma.Ternyata, asal suara itu dari seekor burung pelatuk yang kelaparan. Luma segera menyiapkan makanan untuk si burung pelatuk. “Kau manusia yang baik, namaku, Tuk,” kata Tuk si burung pelatuk berbicara bahasa manusia sebagai tanda terima kasih. “Aku dibawa paksa untuk mengganggumu oleh koki-koki jahat di istana. Aku punya sahabat baik, yaitu Dewi Air. Aku yakin dia murka karena aku hilang, dan dia akan membuat kekeringan di negeri ini!” jelas Tuk. “Kalau kekeringan terjadi, tak ada lagi tanaman subur! Bahan makanan akan lenyap!” seru Luma panik.

Dewi Air datang ke Istana Atura lalu mengancam Raja dan Ratu yang ketakutan. Luma dan Tuk  menemui sang Dewi  dan menjelaskan semuanya. “Aku ditolong oleh Luma si koki yang baik. Dia tidak seperti koki-koki jahat di istana yang menahanku di sini!” kata Tuk. “Koki jahat? Siapa mereka?” tanya Raja dan Ratu. Para koki yang membenci Luma dipanggil. Mereka ketakutan. “Koki istana lain iri padaku yang punya cara kerja berbeda. Mulai sekarang, aku akan bekerja seperti mereka  juga,” kata Luma. “Tapi Luma, kau adalah koki sop,” kata Raja dan Ratu. “Tak apa Yang Mulia, aku akan belajar memasak masakan lain,” tekad Luma. “Koki-koki  istana yang jahat tetap harus menerima hukuman, kalau tidak, aku akan membuat kekeringan!” tuntut Dewi Air.

“Luma akan menjadi kepala koki dan koki istana lain akan jadi bawahan Luma,” perintah Raja dan Ratu.  Luma pun menjadi koki yang serba bisa dan semua masakannya enak. Koki istana lain menyadari bahwa Luma yang baik, punya bakat dan mereka menjadi bawahan Luma yang selalu siap diajak bekerja sama. (Teks: Seruni/ Ilustrasi: Fika)

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *