Zaman dahulu di sebuah desa bernama Aga, hiduplah seorang yatim piatu, pendiam dan sakit-sakitan bernama Lisa. Sejak kecil dia selalu sendirian karena tidak bisa bermain dengan anak-anak lainnya yang sehat. Karena itu Lisa mencari cara untuk membuat permainan sendiri.

Suatu hari, dia membuat sebuah boneka rakitan dari kayu yang bisa menari. Penemuannya ini membuat seorang bangsawan bernama Nire kagum dan mau menjadi sahabat Lisa. “Aku kenal seorang nenek yang sudah lama lumpuh. Dia tinggal sendirian dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Apakah kau bisa membantunya?” tanya Nire.

Lisa membuatkan kursi roda untuk si Nenek. Lalu, alat rakitan dari kayu yang bisa memasak sendiri, dan alat-alat lain yang bisa membantu si Nenek hidup tanpa kesusahan. Orang-orang mulai mengenal Lisa dan penemuannya. Mereka kagum dan ingin juga dibuatkan peralatan kayu hebat oleh Lisa.

Kehebatan Lisa juga sampai ke negeri peri. Seorang peri bernama Luana mengunjungi Lisa. “Kau bisa membuat alat yang sama dengan sihir di negeri kami,” kata Luana kagum. “Alat yang kubuat tidak seberapa,  tidak sebanding dengan sihir,” kata Lisa. “Kau rendah hati, dan itu membuatku ingin membantumu mencapai lebih dari kehebatanmu sekarang,” kata Luana.

Peri  Luana menetap di Desa Aga dan mengajari Lisa mengenai elemen-elemen alam dan apa yang bisa didapatkan darinya. Pengetahuan ini membuat Lisa bisa membuat alat-alat yang lebih hebat.

Waktu berlalu dan Lisa kini menjadi seorang  pengusaha kaya dan terpandang. Dia punya pabrik-pabrik besar  yang membuat peralatan untuk mempermudah hidup manusia. Tapi ada yang membuatnya sedih. Dia tidak pernah bertemu lagi dengan dua sahabatnya, yaitu Nire dan Peri Luana.

Suatu hari, Lisa mengadakan perjalanan ke Desa Aga untuk mencari Nire dan Peri Luana. “Apa yang terjadi?!” seru Lisa terkejut. Desanya yang indah sudah tak ada lagi. Yang ada hanya tempat gersang, kotor, dan penuh dengan sampah peralatan besar. “Desa tempat kelahiranku sudah jadi tempat pembuangan sampah dari alat-alat yang dibuat pabrik-pabrik milikku!” tangis Lisa sedih. “Itu benar Lisa,” kata sebuah suara yang dikenalnya. “Nire!” seru Lisa. “Aku berhenti mengunjungimu karena marah padamu. Kau tidak bertanggung jawab,” jelas Nire.

Nire bercerita bahwa Peri Luana pergi menetap di negeri peri karena Desa Aga sudah tercemar. “Maafkan aku! Mulai sekarang, aku akan melakukan sesuatu terhadap sampah-sampah alat dari pabrik milikku. Aku akan memperbaiki lagi lingkungan yang sudah kurusak,” janji Lisa. Dan dia berharap suatu saat nanti Peri Luana akan menetap di Desa Aga yang jadi indah lagi.

 

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *