JAKARTA, majalahjustforkids.com – Setiap orang berisiko terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD). Tak terbatas pada umur, jenis kelamin, lokasi tinggal, maupun gaya hidup. Melansir data dari Kemenkes RI, jumlah kasus Dengue dapat ditemukan pada seluruh kelompok usia, dimana pada rentang usia 5-14 tahun dan 15-44 tahun, masing-masing sebanyak 36,10% dan 38,01%. Sedangkan jumlah kasus kematian akibat Dengue paling banyak adalah pada kelompok usia 5-14 tahun, yaitu sebanyak 40,58%.

Melihat fakta bahwa DBD rentan menyerang anak-anak, Takeda Indonesia, perusahaan biofarmasi terkemuka, menilai perlunya sumber informasi terpercaya yang dapat menjadi referensi keluarga dan masyarakat mengenai pencegahan Dengue.

Hal tersebut disampaikan hari ini (19/07) secara daring dalam diskusi media bertajuk “Perlindungan Keluarga dari Bahaya Demam Berdarah Dengue” dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli.

Andreas Gutknecht, General Manager PT Takeda Indonesia

“Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan hiperendemi Dengue di mana kasus Dengue cenderung mengalami peningkatan saat peralihan musim hujan ke musim kemarau. Karena itu, orangtua perlu meningkatkan kewaspadaan akan gejala Dengue serta ciri yang menyertainya,” buka Bapak Andreas Gutknecht, General Manager PT Takeda Indonesia.

DBD merupakan penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dengan tingkat keparahan yang dapat merenggut nyawa dibandingkan dengan demam Dengue biasa.

Waspadai Tanda Bahaya Dengue!

Dengan tingginya jumlah anak-anak hingga remaja yang terkena bahkan meninggal dunia akibat Dengue ini, Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A(K), Ketua UKK Infeksi & Penyakit Tropis, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menegaskan bahwa orangtua berperan sangat penting dalam meminimalisir jumlah kasus Dengue.

“Para orangtua diharapkan mewaspadai adanya individu yang terjangkit dengue di lingkungan rumah, sekolah, tempat penitipan anak, maupun tempat bermain anak. Apabila anak demam, berilah banyak minum, istirahat, dan segera ke layanan kesehatan untuk memastikan apakah ia terinfeksi oleh virus dengue. Apabila anak Anda dengue, upayakan setiap hari dapat berkonsultasi ke dokter dan waspadalah apabila anak memasuki  fase penurunan demam yaitu di hari ke-3 sampai 7 sakit. Pada fase ini, anak mungkin menunjukkan tanda bahaya seperti muntah-muntah, nyeri perut hebat, perdarahan hidung atau tempat lain, tangan teraba lembab/anyep, gelisah, kejang, atau sulit dibangunkan. Apabila ditemukan tanda bahaya, segeralah membawa anak ke rumah sakit atau puskesmas dengan tempat perawatan karena kondisi dapat berlanjut menjadi berat (severe dengue) yang mengancam kehidupan, akibat terjadinya kebocoran plasma hebat, perdarahan berat dan kerusakan organ.” tambah Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A(K).

Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A(K), Ketua UKK Infeksi & Penyakit Tropis, IDAI

Sikap waspada sangat perlu dilakukan, mengingat kasus DBD di Indonesia cukup tinggi. Berdasarkan data dari Kemenkes RI selama semester 1 tahun 2022, secara kumulatif terdapat 52.313 kasus Dengue di kabupaten atau kota di 34 provinsi Indonesia. Angka tersebut merupakan peningkatan hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, sebesar 19.156 pada Juni 2021.

Luncurkan www.cegahdbd.com

Pencegahan, selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk itu, Takeda Indonesia mengambil langkah konkret untuk mendukung program Pemerintah dalam upaya pencegahan  penyebaran Dengue. Salah satu caranya dengan mengedukasi masyarakat secara aktif.

“PT Takeda Indonesia berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah menuju Zero Dengue Death pada 2030. Hal ini bisa tercapai dengan meningkatkan kesadaran orangtua maupun anak-anak akan bahaya Dengue,” ucap Bapak Andreas.

Upaya tersebut diwujudkan salah satunya dengan menghadirkan sumber informasi terpercaya yang dapat menjadi referensi keluarga dan masyarakat mengenai pencegahan Dengue.

“Kami memperkenalkan situs  www.cegahdbd.com sebagai platform informasi Dengue dan pencegahannya yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Selain itu, Takeda juga mengajak masyarakat untuk bergabung dalam kampanye “Jentik Jari”, yang menandakan semangat bersama untuk pencegahan Dengue yang komprehensif dan cermat, termasuk dengan motede pencegahan inovatif,” imbuh Bapak Andreas.

Pemerintah sendiri melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) terus berupaya menekan angka kejadian Dengue hingga kurang dari 10 per 100.000 penduduk pada tahun 2024 dan nol kasus kematian akibat Dengue pada tahun 2030.

Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., MARS, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI

Untuk mencapai target tersebut, dilakukan berbagai upaya, antara lain: melakukan penguatan sistem surveilans serta manajemen kejadian luar biasa, penguatan tata laksana secara komprehensif, meningkatkan partisipasi dari kemandirian masyarakat, meningkatkan komitmen pemerintah pusat maupun daerah serta partisipasi mitra dan multi sektor, dan mengembangkan kajian penelitian serta inovasi untuk penetapan kebijakan pengendalian Dengue ke depannya.

Langkah Takeda Indonesia untuk membangun kesadaran masyarakat terkait Dengue, disambut positif  oleh Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM., MARS, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI.

“Kami optimis bahwa Dengue dapat dikendalikan dan angka kejadian hingga kematian dapat ditekan secara signifikan. Hal ini tentunya dapat tercapai jika seluruh masyarakat dari berbagai sektor turut berpartisipasi dalam pencegahan Dengue dimulai dari lingkungan masing-masing. Oleh karena itu kami mengapresiasi Takeda Indonesia atas partisipasi aktifnya dalam membangun kesadaran masyarakat akan bahaya Dengue dan pentingnya pencegahan Dengue,” katanya.

Foto: Efa, Ist

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *