“Mira, tolong beliin Mama gula sekilo ya, minyak goreng seliter, telur sekilo, sama bumbu kaldu ayam di warung-nya Bu Ranti. Kehabisan, nih. Mama mau masak…” ucap Mom Sinta pada putrinya yang berusia 12 tahun.

Moms pasti sering mengalami hal ini, ya? Kehadiran toko kelontong atau warung di dekat rumah, menjadi penyelamat dan mempermudah memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, terutama di tengah pandemi Covid-19 ini.   Apalagi kalau stok barang yang kita butuhkan semua ada, maka tak perlu repot-repot belanja ke pasar atau supermarket di saat darurat.

Namun, pasti Moms pernah juga mengalami kekecewaan, dimana barang yang dibutuhkan tak tersedia di warung. “Habis…” itu alasan yang kerap diucapkan pedagang. Sebagai pembeli, Moms terpaksa mengeluarkan tenaga ekstra (atau biaya) untuk mencari di tempat lain, yang mungkin jaraknya lebih jauh.

Ya, selama pandemi Covid 19, tak sedikit Pedagang Grosir dan Eceran FMCG (Fast Moving Consumer Goods) – termasuk Bu Ranti sebagai pemilik warung kelontong – terkena dampak akibat adanya pembatasan fisik yang menimbulkan kendala terhadap rantai suplai produk-produk FMCG. Akibatnya, stok barang terbatas atau tidak bisa dipenuhi dalam waktu singkat. Tentu ini perlu diatasi, mengingat produk-produk FMCG – termasuk di dalamnya kebutuhan bahan pokok – tetap sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Permudah Rantai Pasok

Menjawab kebutuhan itu, GudangAda, perusahaan startup yang bergerak di bidang aplikasi jual beli online pedagang grosir dan eceran FMCG B2B (Business to Business) Indonesia, menghadirkan solusi bagi para pedagang tradisional FMCG di era digital.

Stevensang, Founder dan CEO GudangAda

“Di masa pandemi ini, kami hadir sebagai solusi atas kendala rantai pasok FMCG akibat pandemi Covid-19. Sebagai e-commerce B2B, kami ingin membantu menjaga ketersediaan produk FMCG untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Di sini, tujuan kami adalah memberdayakan dan mengoptimalkan distribusi dan penjualan pedagang FMCG dengan teknologi. Sehingga dengan menggunakan GudangAda bisnis mereka tetap terjaga selama pandemi,” ujar Stevensang, Founder of GudangAda pada acara konferensi pers virtual hari ini (12/08).

Ya, kelangsungan aktivitas para pedagang tradisional memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan, berdasarkan data Euromonitor International 2018, mayoritas masyarakat Indonesia, India, dan Filipina berbelanja di toko kelontong. Dari nilai pasar ritel senilai Rp 7,5juta triliun, sebanyak Rp 6,85 juta triliun atau sekitar 92 persen di antaranya merupakan transaksi di toko kelontong.

Sayangnya, ada beberapa kendala yang mereka hadapi saat ini. Antara lain biaya logistik yang tinggi dan kesulitan mendapatkan barang laku tepat waktu, terutama akibat dari pandemi Covid 19 yang terjadi. Dengan demikian, penting untuk memastikan pemenuhan suplai sampai ke warung-warung sehingga masyarakat tidak kesulitan dalam mengakses barang dan tentu mencegah instabilitas harga.

Untuk itulah, kehadiran platform digital GudangAda sebagai B2B e-commerce atau marketplace bisa menjadi penyelamat. Bila para pedagang tradisional, contohnya Bu Ranti, mengambil peluang dengan memanfaatkan teknologi, maka ia mendapatkan beragam kemudahan dan keuntungan. “Pedagang akan bisa menjadi lebih mudah mengisi stok barang di toko. Tinggal beralih ke digital, buka aplikasi, pilih produk dengan harga terbaik, beli dan barang akan langsung dikirim ke toko/warung mereka. Jadi, mereka tak perlu pergi ke toko grosir atau agen lagi,” ucap Steven, demikian ia disapa.

Tentu hal ini sangat menguntungkan bagi para pemilik warung kelontong. Mereka tak perlu meninggalkan/menutup warung sementara saat akan pergi berbelanja stok barang ke toko grosir/agen, tidak membuang waktu/tenaga, praktis, ringkas, dan cepat. Apalagi tidak ada beban biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman barang. Mudah, bukan?

150 Ribu Lebih Anggota

Ditambahkan oleh Imelda Scherers, Sr. VP Marketing & Commercial of GudangAda, hingga saat ini, jumlah member (anggota) GudangAda sudah mencapai lebih dari 150.000 pedagang grosir dan eceran yang tersebar di seluruh Indonesia, atau sekitar 500 lebih kota di Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Pendampingan dan edukasi ke pedagang tradisional FMCG mengenai digitalisasi

Di GudangAda, tersedia berbagai kategori produk FMCG termasuk di antaranya bahan makanan pokok (gula, beras, dll), biskuit, cokelat, seasoning (bumbu), minuman kesehatan, minuman ringan, vitamin, produk perawataan kebutuhan rumah tangga (sabun cuci piring, pembersih lantai, dll), produk perawatan diri (sampo, sabun, sikat gigi, dll), produk kebutuhan bayi (popok, susu, dll),obat-obatan dan banyak lagi.

Dalam menjangkau pengguna-nya, GudangAda melakukan edukasi dan pendampingan. Ini sangat dibutuhkan mengingat tak semua pedagang melek teknologi. Jadi, ketika pengguna (dalam hal ini pedagang) mendaftar menjadi anggota, mereka akan diberi pengetahuan mengenai digitalisasi bisnis sehingga terbantu dalam memastikan ketersediaan stok tokonya, melalui transaksi yang lebih cepat dan bisa mendapatkan harga terbaik.

Steven menegaskan, sebelum sah menjadi anggota, maka GudangAda melakukan validasi secara ketat. Dalam hal ini termasuk pengecekan apakah benar pedagang memiliki toko secara fisik,  kelengkapan data, dan sebagainya. Dalam hal transaksi pun, GudangAda memastikan keamanan dan kepuasan  pembeli. “Waktu terjadi transaksi penjual – pembeli, kita memberikan garansi pengiriman produk, menjamin kualitas produk terpenuhi maupun masa kedaluwarsa yang belum berakhir. Jadi, pelanggan (pembeli) puas setelah mengecek barang yang diterima, pengiriman tepat waktu, barulah uang kita lepas ke penjual. Jadi, kalau ada keluhan (yang selama ini jarang sekali terjadi), kami tidak melepas uang ke penjual,” tegas Steven.

Untuk memudahkan pembeli, GudangAda juga menghadirkan beragam fitur seperti toko terdekat, toko termurah, dan sebagainya. “Namun untuk rating toko (pedagang grosir), saat ini sedang kami kembangkan,” ujarnya.

Dukungan Kesehatan untuk Pedagang

Kehadiran GudangAda sebagai e-commerce B2B, menurut Ahmad Heri Firdaus, Researcher at Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), sangat membantu para pedagang tradisional. “Di era digital, kegiatan transaksi online menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Peran B2B e-commerce menjadi penting. Hal ini sejalan dengan himbauan pemerintah untuk melakukan konversi ke digital di masa pandemi untuk mengatasi masalah pada rantai suplai. Digitalisasi mampu mengatasi hambatan pada sisi rantai pasok sehingga kendala pelaku usaha ritel konvensional dapat lebih  mudah teratasi,” katanya.

Program pembagian masker kain GudangAda ke para pedagang tradisional FMCG

Dukungan GudangAda terhadap pedagang tradisional FMCG selama pandemi Covid-19 juga dibuktikan dengan program GudangAda berbagi ratusan ribu masker kain gratis yang bertujuan melindungi para pedagang FMCG dan memutus rantai penyebaran virus. Program ini merupakan bentuk kepedulian GudangAda terhadap pedagang FMCG yang setiap hari masih harus melayani dan berinteraksi dengan banyak pembeli sehingga cukup berisiko terkena paparan virus. Sejak awal pandemi hingga sekarang, GudangAda juga tidak henti-hentinya mengingatkan mereka untuk selalu memakai masker, mencuci tangan, dan tetap menjaga jarak salah satunya dengan beralih ke transaksi online.

“Kami berharap akan semakin banyak lagi pedagang grosir/eceran yang bergabung di GudangAda sehingga rantai pasok FMCG bisa dilakukan lebih singkat, praktis, murah dan aman hingga akhirnya sampai ke konsumen (pembeli perorangan),” tutup Steven.

Foto: Ist

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *