Merah, kuning, dan hijau…pasti Kids sudah tidak asing lagi, kan? Lampu yang sering kita temui di perempatan jalan raya ini penting sekali, lho, Kids! Coba bayangkan bagaimana keadaan jalan jika tidak ada lampu lalu lintas. Wah, bisa kacau jadinya! Yuk, kita lihat asal mula terciptanya rambu lalu lintas.

Pada tahun 1868, seorang pria bernama Lester Farnsworth Wire di London, Inggris melihat kejadian tabrakan antara kereta kuda. Kemudian ia berpikir bagaimana cara mengatur lalu lintas agar tidak terulang kembali kecelakaan tersebut.

Maka akhirnya ia menciptakan lampu lalu lintas dengan 2 warna, yaitu merah dan hijau. Merah sebagai tanda berhenti dan hijau sebagai tanda jalan. Namun setelah setahun digunakan, lampu tersebut meledak dan melukai polisi yang sedang bertugas di sekitar lampu lalu lintas. Lampu itu pun tidak dipasang lagi.

Lampu Kuning

Kemudian seseorang bernama Garrett Augustus Morgan bereksperimen dengan lampu lalu lintas. Ia merancang agar lampu lebih aman dan efektif. Ia pun menambahkan lampu kuning untuk memberi jeda agar pengendara tahu kapan harus jalan atau berhenti. Lampu kuning juga memberi kesempatan pengendara untuk berhenti atau jalan secara perlahan.

Seorang polisi bernama William Potts berusaha menyempurnakan penemuan lampu lalu lintas milik Lester dan Garrett. Pada Maret 1922, lampu lalu lintas 3 warna tersebut dioperasikan secara otomatis menggunakan tenaga listrik, di Houston, Texas.

Terus Disempurnakan

Begitulah, penemuan rambu lampu lalu lintas pun terus berkembang dan disempurnakan. Setelah lentera, lampu biasa, dan lampu otomatis, pada tahun 1990 digunakan lampu khusus yaitu light emitting diodes (LEDs) yang memakai halogen. Lampu ini lebih hemat energi, lebih tahan lama, lebih terang, dan lebih cepat berubahnya. Lampu inilah yang sampai sekarang digunakan untuk lampu lalu lintas yang kita lihat setiap hari.

Foto: Istimewa

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *