Raut wajah Mom Tasya (35) kusut seharian. Bibirnya cemberut, kening berlipat-lipat. Sang anak yang mau mengajaknya bermain, langsung undur melihat bahasa tubuh sang Mama yang terkesan ‘tak mau diganggu’. Suami yang hendak bertanya menu makan malam, mengurungkan niat melihat istri seperti bermuram durja. Seisi rumah kalang kabut. Sampai akhirnya Mom Tasya berujar, “Duhhhh…. lari kemana aja ya uangnya, perasaan waktu itu saldonya masih ada deh lumayan banyak!”

Walah!!! Mom Tasya rupanya sedang kebingungan. Ia yang dasarnya pelupa, makin dibikin kewalahan. Tidak adanya catatan riwayat arus masuk dan keluar uang bulanan yang ia kelola, membuatnya pusing dan menambah beban pikiran.

Setiap bulannya, Mom Tasya selalu mendapatkan transferan uang bulanan dari Tio, sang suami. Meskipun ia juga seorang wanita bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, sejak awal menikah, Tio berkomitmen untuk bertanggung jawab atas semua kebutuhan rumah tangga. Uang gaji Tasya, mereka tetapkan sebagai dana darurat sekaligus tabungan. Setiap bulan, Dad Tio mentransfer sejumlah nominal dari penghasilannya secara bertahap, ke akun bank istrinya. Ia tak sekaligus mentransfer sejumlah uang, namun bertahap. Misalnya, transaksi pertama sejumlah uang misalnya 5 juta. Ia transfer dengan keterangan: biaya operasional hidup sehari-hari, sekolah anak dan hiburan. Transaksi kedua, ia transfer lagi sebesar 4 juta, dengan keterangan: cicilan rumah dan mobil.

Awalnya, Tasya mengambil semua uang yang ditransfer suami lalu memisah-misahkan uang tersebut ke dalam beberapa amplop dan menulis keterangan sesuai kebutuhan, misalnya: gaji pembantu, biaya sekolah anak, biaya listrik, biaya air, dan sebagainya. Ia bahkan hampir tiap bulan menukar uang pecahan kecil ke bank, seperti pecahan 5, 10 dan 20 ribu agar mudah mengelolanya. Namun, pencatatan detil arus uang masuk dan keluar tetap tidak ia lakukan. Terkadang, ia harus mengisi lagi jumlah amplop yang sudah kosong dengan  dana darurat di tabungan pribadinya.

Kerepotan itu membuatnya jenuh, dan akhirnya ia memilih untuk memisahkan uang ke dalam rekening akun bank yang berbeda. Ia hanya mengandalkan mutasi untuk ‘melacak’ kemana saja uang yang telah dihabiskan. Namun, informasi hanya berdasarkan mutasi rekening bank, tak banyak membantu. Berhubung informasi mutasi tidak detil, Mom Tasya hanya bisa mengingat jumlah pengeluaran yang besar, jumlah kecil tak terdeteksi lagi olehnya. Itulah mengapa ia pusing karena mengira saldo di akun rekening yang berisi biaya bulanan, masih cukup! Ternyata nol. Lagi-lagi, dana darurat dan tabungan dari rekening bank lain, terpakai lagi untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Bukannya menggendut, jumlah dana darurat maupun tabungan, semakin menipis.

Pentingnya Mengelola Keuangan

Pernah merasakan hal serupa Moms? Terlihat gampang, namun mengatur keuangan perlu kedisplinan. Dengan mengelola keuangan secara baik, kita bisa mengatur jumlah pengeluaran kita, serta meningkatkan kemampuan untuk berinvestasi dan menabung. Namun semua itu tak boleh asal, perlu perencanaan yang matang. Hal ini ditegaskan oleh Ghita Argasasmita, Financial Consultan and Founder & CEO of Integrita Financial, dalam acara kelas finansial bertajuk “Pengelolaan Keuangan yang Lebih Smart di Tahun 2022” yang digelar oleh perbankan digital, Jenius, beberapa waktu lalu.

Ghita Argasasmita, Financial Consultan and Founder & CEO of Integrita Financial

Mengelola keuangan, sangat penting dan tak boleh disepelekan. Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung kurang lebih 2 tahun mengubah segalanya. Situasi seperti berbalik 100 derajat. Tiba-tiba, kondisi keuangan banyak orang berubah. Ada yang tiba-tiba di PHK, ada yang mengalami kebangkrutan usaha, ada yang dipotong gajinya, dan sebagainya. Sebagian bisa bertahan karena memiliki tabungan atau dana darurat.  Namun bagi yang tidak siap, akan terpental. Tak adanya dana darurat dan tabungan, membuat mereka jatuh bangun untuk sekedar bertahan hidup.

Di sisi lain, banyak pula yang tiba-tiba langsung berkeinginan untuk mengambil jalan pintas. “Mereka berpikir, bagaimana caranya agar uang saya yang sedikit untuk bertahan hidup ini, bisa menghasilkan tambahan keuntungan langsung. Investasi apa yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan pemasukan yang besar. Padahal, untuk menjadi investor itu tahapannya sangat panjang, harus memiliki fondasi keuangan yang solid dulu,” ujar Ghita.

Fondasi! Ya, keuangan itu ibarat rumah, Moms. Perlu cakar ayam yang kuat, dan besi yang kuat sebagai penopang menghadapi banjir-badai. Namanya banjir-badai, ia bisa datang secara tiba-tiba tanpa diundang dan tanpa memberikan sinyal, contohnya situasi pandemi Covid-19.

Nah, untuk mencegah keuangan Moms dan Dads terjebak di tempat yang buruk tanpa jalan keluar, mulailah menciptakan situasi yang lebih baik. Caranya sederhana, lakukan komitmen untuk mengelola keuangan secara pintar dan bijaksana.

Buat Anggaran Bulanan yang Realistis, Pastikan Arus Kas Positif

Lantas, hal-hal apa yang bisa dilakukan untuk mengelola keuangan demi mencapai fondasi keuangan yang kuat?  Mulailah dengan membuat anggaran bulanan atau arus masuk dan keluar uang, pastikan arus kas tersebut positif di akhir bulan, bukan minus alias lebih besar pengeluaran daripada pendapatan.

Melakukan budgeting atau penganggaran merupakan salah satu proses terpenting dalam pengelolaan keuangan pribadi. Namun, banyak orang tidak melakukan penganggaran karena tak ingin melalui proses yang merepotkan dan membosankan. Mereka berpikir, membuang banyak waktu sekali untuk membuat daftar pemasukan dan pengeluaran. Padahal, budgeting penting karena membantu Moms untuk mengontrol pengeluaran, melacak pengeluaran, dan menghemat lebih banyak uang.

Sebagai langkah awal, penting  untuk membuat perencanaan anggaran yang realistis. “Langkah menuju fondasi keuangan yang kuat, awali dengan arus kas yang positif, yakni pemasukan lebih besar dari pengeluaran,” imbuh Ghita.

Agar anggaran dana realitis, sesuaikan standar hidup dengan pemasukan yang diterima, bukan sebaliknya, pengeluaran menyesuaikan standar hidup! Pemasukan biasanya terdiri dari pendapatan bulanan (misalnya gaji dan hasil usaha), serta pendapatan tahunan (misalnya THR, bonus, profit sharing dari bisnis). Nah, kesemuanya ini harus diperhatikan dan dianggarkan betul, agar tercipta arus kas (cash flow) yang positif setiap bulannya.

Ghita menyarankan, tentukan anggaran PENGELUARAN dalam cash flow bulanan dengan perhitungan 40 + 30 + 20 + 10. Artinya, dari nominal pemasukan yang Anda terima, sisihkan 40 persen pendapatan untuk kebutuhan primer (misalnya biaya operasi rumah tangga sehari-hari, transportasi, makan, pulsa, internet, biaya pendidikan bulanan anak, dan lain-lain), lalu maksimal 30% pendapatan untuk cicilan semua jenis hutang, 20% pendapatan untuk tabungan/investasi dan 10 persen untuk hiburan.

Untuk kebutuhan itu, Moms bisa memasukkan dana ke rekening yang berbeda. Misalnya rekening untuk kebutuhan primer tersendiri, rekening untuk tabungan/dana darurat tersendiri, rekening untuk biaya hiburan tersendiri, juga tabungan/dana darurat.

Untuk dana darurat, Ghita menyarankan perhitungan  sebagai berikut. Bagi mereka yang single (belum menikah), besarnya dana darurat sebaiknya minimal 3 x gaji. Sementara bagi yang sudah berkeluarga seperti Moms, setidaknya harus menyiapkan dana sebesar 12 x Post utama (pendapatan untuk kebutuhan primer) + Cicilan.

Dana darurat ini sangat penting digunakan sebagai jaring pengaman untuk digunakan pada hal mendesak atau penting. Dana darurat juga penting untuk mencegah kita agar TIDAK BERHUTANG. Sebab, berhutang bisa membuat kita lebih dekat menuju kebangkrutan.

Susah Melacak Pengeluaran? Gunakan Fitur Moneytory Jenius

Agar arus kas keuangan Moms positif, lakukan sesuai dengan anggaran yang telah direncanakan. Dan setelahnya, jangan lupa untuk melakukan financial check up secara teratur setiap bulannya. Penting untuk melacak aliran dana masuk maupun keluar secara terperinci.

Aduh, repot  banget! Tenang Moms, beruntunglah kita hidup di zaman serba digital. Salah satu langkah mudah yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan teknologi. Seperti Jenius, aplikasi perbankan digital dari Bank BTPN. Di sini, Moms dan Dads bisa melakukan aktivitas finansial seperti menabung, bertransaksi, atau mengatur keuangan serta memungkinkan nasabah untuk memiliki rekening bank. Cukup melalui gadget atau smartphone Anda.

Waasi B. Sumintardja, Digital Banking Business Product Head Bank BTPN

Memang, untuk disiplin mengelola keuangan butuh kemauan dan usaha yang besar. Hal ini diamini oleh Waasi B. Sumintardja, Digital Banking Business Product Head Bank BTPN. “Pengalaman pribadi saya dulu, membuat arus kas dengan mencatat di kertas, lalu pindahkan ke formal Excel di komputer. Melelahkan memang, karena dulu belum ada financial manager atau tools keuangan sebanyak sekarang. Namun bukan berarti tidak ada gunanya,” katanya.

Diungkapkan Waasi, untuk mengelola keuangan dengan lebih mudah dan simpel itu pula yang melatar belakangi lahirnya aplikasi perbankan Jenius. Sebab, Jenius memiliki beberapa fitur yang mendukung Moms dalam mengelola keuangan dengan lebih baik, salah satunya adalah Moneytory. Money Story adalah buku diary keuangan pribadi yang membantu Moms mengatur cash flow dengan lebih cerdas.

Melalui Moneytory, Moms bisa melacak pengeluaran (yang terkecil sekalipun) dengan lebih mudah. Kesulitan mengingat arus pengeluaran yang dialami Mom Tasya di awal, pun bisa terselesaikan. Sebab, pergerakan pengeluaran Moms sesuai tanggal dan nominalnya kini bisa dipantau dengan mudah menggunakan grafik yang periodenya bisa dipilih mengikuti kebutuhan (mingguan, bulanan, atau 3 bulanan).

Transaksi kita pun tercatat dan terkategori otomatis. Setiap transaksi di Saldo Aktif (m-Card), e-Card dan x-Card langsung tercatat di Moneytory, terpisah sesuai kategorinya, dan terangkum secara otomatis, sehingga bisa melihat kondisi terkini keuangan Moms dengan jelas. Kita pun bisa mengurutkan  pemasukan dan pengeluaran berdasarkan nominalnya (tinggi ke rendah/sebaliknya) atau sesuai waktunya (terlama ke terbaru/sebaliknya).

Saya sendiri sudah membuktikan fitur Moneytori Jenius ini, dan takjub! Dari saldo aktif yang saya punya di rekening Jenius, saya bisa melihat secara terperinci arus uang masuk dan keluar. Saya tak perlu mengolompokkan pengeluaran, atau pemasukan, karena sudah otomatis terpisah. Tak perlu pula mengambil kalkulator untuk menghitung berapa pemasukan dan pengeluaran saya. Semua sudah otomatis. Wah, benar-benar mempermudah hidup. Pengeluaran saya pun langsung terkategori ketika membayar sesuatu, misalnya top up e wallet, membeli makan/minum, dan sebagainya.

Ringkasan pemasukan dan pengeluaran terpampang jelas, pun selisihnya. Melihat hal ini, membantu saya untuk mengontrol pengeluaran. Saya jadi belajar untuk mengendalikan diri, terdorong untuk tidak membelanjakan uang melebihi pendapatan (saldo) aktif saya.

Yuk, Kelola Keuangan Sekarang!

Nah, untuk menyusun arus kas masuk dan keluar bulanan Moms, fitur Moneytory dari Jenius ini sangat saya rekomendasikan! Selain fitur Moneytory, ada beberapa fitur lain dari Jenius yang bisa Moms pergunakan, yakni Jenius debit card. Lewat fitur ini, Moms tak perlu membuka akun rekening bank berbeda untuk menampung dana primer, tabungan, dana darurat Anda. Sebab, Moms bisa memiliki hingga lima kartu debit yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

Selain itu ada pula fitur Save It yang memungkinkan nasabah termasuk Moms, untuk memiliki tabungan tambahan. Ada tiga jenis yakni Flexi Saver, Dream Saver dan Maxi Saver. Dan fitur terakhir berkaitan dengan investasi. Jika arus kas Moms positif, majulah selangkah untuk mewujudkan bebas finansial di masa depan dengan melakukan investasi. Tetap pelajari profil risiko setiap investasi yang Moms pilih. Dan, fitur Investasi Reksadana dari Jenius  bisa menjadi alternatif Moms untuk mewujudkan hal tersebut.

Nah, Moms, kini tak perlu susah bukan untuk mengelola keuangan? Kalau ada yang mudah mengapa dipersusah? Selamat mengelola keuangan, Moms!

Foto: Efa, Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *