Kutukan Tarian Empat

Kriiing… Bel sekolah tanda kelas usai berbunyi. Dina, Lulu, dan Eva yang duduk di kelas 6 SD Melati, segera pergi ke ruang ekstrakurikuler tari. Di ruang tersebut, Bimba, adik kelas mereka sudah menunggu.

Tak lama kemudian, Kak Ferli, sang guru tari datang. “Untuk ulangtahun SD Melati yang ke-50 nanti, kalian akan mementaskan Tarian Empat,” kata Kak Ferli. Dina, Lulu, Eva, dan Bimba mendengarkan penjelasan Kak Ferli dengan serius.

Setelah itu, mereka berempat mencoba menarikannya. “Capek, ya! Gerakan tarinya pelan sekali,” keluh Bimba, Lulu, dan Dina. “Aku pernah membaca tentang Tarian Empat, tapi lupa dimana!” kata Eva.

Keesokan harinya, Lulu, Dina, dan Bimba yang sedang makan di kantin sekolah dikejutkan oleh cerita Eva. “Aku sudah ingat dimana aku pernah membaca tentang Tarian Empat, di internet! Menurut legenda, Tarian Empat diciptakan untuk seorang putri. Tetapi, sang putri meninggal sebelum sempat menari. Sejak saat itu, Tarian Empat terus dimainkan oleh tiga orang agar roh sang putri juga bisa ikut menari. Jika Tarian Empat dimainkan empat penari, sang putri akan marah, dan mengutuk salah satu dari penarinya!” papar Eva. Lulu dan Bimba ketakutan. “Itu kan cuma legenda. Belum tentu benar!” kata Dina.

Seminggu kemudian, Dina, Lulu, dan Bimba terkejut mendengar berita tentang Eva yang jatuh sakit. “Aneh sekali. Kenapa Eva bisa tiba-tiba jatuh sakit?” ucap Dina resah.

Tak lama, listrik padam. Ruang tari menjadi gelap. “Antarkan aku ke kamar mandi dong, seram!” kata Lulu. Dina lalu berdiri dan pergi bersama Lulu. “Kak Lulu, Kak Dina, tunggu! Aku juga ikut!” ujar Bimba yang takut sendirian berlari mengejar Lulu dan Dina.

Ketika mereka bertiga kembali ke ruang tari, Bimba terdiam. “Ada apa, Bimba?” tanya Lulu. “Se.. selendang tariku pindah tempat! Tadi aku menaruhnya di dekat tasku, kenapa bisa ada di bawah jendela?” tanya Bimba bingung. “Kejadian aneh di internet mirip dengan apa yang kita alami sekarang. Lalu ada anggota penari yang jatuh sakit!” keluh Lulu.

“Aku tidak percaya! Eva pasti akan segera sembuh. Ayo, kita latihan menari lagi!” ajak Dina. Lulu dan Bimba mengangguk pelan. Dua hari kemudian, Eva sudah masuk sekolah. Dina, Lulu, dan Bimba sangat gembira.

Hari Ulangtahun SD Melati tiba. Dina, Lulu, Eva, dan Bimba menari dengan indah di pentas. Para penonton kagum, Kak Ferli pun melihat mereka dengan bangga. Tiba-tiba, lampu panggung dan alunan musik mati! Kak Ferli segera berlari ke tempat pengaturan sound system.

Dina, Lulu, Eva, dan Bimba bingung saling berpandangan dalam kegelapan. Beberapa saat kemudian, lampu panggung mulai menyala. Suara Kak Ferli terdengar dari pengeras suara, “Kami mohon maaf. Karena kesalahan teknis, maka tarian ini akan diulang dari awal.” Musik mengalun kembali. Dina, Eva, Lulu, dan Bimba menari Tarian Empat dari awal. Kali ini, tarian mereka sempurna. Para penonton bertepuk tangan.

Dina, Eva, Lulu, dan Bimba membahas kejadian aneh yang baru saja dialami. “Tidak ada yang tahu mengapa sound system yang masih baru bisa mengalami gangguan,” kata Lulu. “Aku akan cerita pada kalian mengapa aku sakit. Aku mimpi seorang gadis pucat dengan pakaian kuno kerajaan, mengejar-ngejar diriku! Aku takut tidur lagi dan terjaga sampai pagi. Jadinya masuk angin, deh!” cerita Eva.

“Jangan-jangan ini semua karena kutukan sang putri!” ujar Bimba ketakutan. “Kutukan atau bukan, kita sudah menari dengan baik!” seru Dina. “Kalau ada apa-apa, hadapi saja dengan berani,” kata Lulu. Kejadian aneh itu pun masih menjadi misteri. (Teks: Seruni/ Ilustrasi: Just For Kids)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *