“Ini dia Warung Penyet Gandhi!” teriak Indra saat melihat plang warung makan di pinggir jalan. “Berarti rumah Bu Inge ada di belakangnya,” timpal Neni. Keempat sahabat itu pun berjalan masuk gang persis di sebelah kiri warung makan tersebut. Tepat di belakang warung, ada sebuah rumah besar dengan halaman yang luas.

Neni pun memberanikan diri untuk menekan bel di pagar. Tak lama kemudian, seorang wanita keluar dari pintu rumah. Ia lalu berjalan menuju pagar. Wajah wanita yang nampak masih muda itu mengumbar senyum. “Ya, kalian mencari siapa?” tanyanya dengan ramah.

“Kami mencari Tante Inge,” jawab Emma. “Saya yang namanya Inge,” ujar wanita itu. Emma, Neni, Weli, dan Indra pun saling beradu pandang. Mereka terlihat lega telah menemukan orang yang dicari selama ini. “Ehhmm.. Ada apa, ya?” tanya Tante Inge dengan raut penasaran. “Sebenarnya, kami mau meminta tolong kepada Tante Inge,” jawab Indra. “Ohhh, ayo silakan masuk, kalian bisa cerita di dalam,” ajak Tante Inge.

Setelah duduk di ruang tamu, Weli langsung bercerita tentang kejadian kesialan yang selama ini terjadi sejak kedatangan Neni, siswi pindahan. “Lho, lalu hubungan dengan saya, apa?” tanya Tante Inge yang terlihat bingung. “Setelah kita ngobrol dengan Pak Dadang, penjaga sekolah. Ternyata kesialan yang selama ini kami alami, berasal dari kutukan yang pernah Tante Inge ucapkan pada 20 tahun lalu,” tutur Indra.

Tante Inge lantas terdiam sejenak. Ia nampak mengingat-ingat kejadian puluhan tahun silam tersebut. “Astaga, iya saya hampir lupa. Saya memang pernah menyumpahi SD Mutiara. Karena waktu itu, saya kesal dengan teman-teman yang sering mengejek,” kenang Tante Inge. “Tapi, saya nggak menyangka kalau kutukan saya itu menjadi sungguhan,” lanjut Tante Inge.

“Iya, Tante. Jadi kami berempat datang ke sini mau meminta tolong kepada Tante supaya mencabut kutukan tersebut,” kata Emma. “Betul sekali, Tante. Konon katanya, hantu penunggu SD Mutiara mendengar ucapan Tante itu dan mulai menampakkan diri menjadi hantu peniru sekaligus membuat kesialan,” timpal Indra.

“Hussh.. Memang begitu ceritanya, Ndra?” tanya Neni. “Itu yang aku dengar dari teman-teman sekolah,” bisik Indra. “Baiklah, saya mencabut kutukan dari ucapan 20 tahun lalu. Semoga tak ada lagi kesialan!” ucap Tante Inge dengan lantang.

Emma, Neni, Weli, dan Indra nampak senang mendengar ucapan Tante Inge. Setelah mengobrol beberapa saat, mereka berempat pun pamit pulang. “Sering-sering main ke sini, ya,” ujar Tante Inge. “Iya, Tante. Terima kasih sudah menolong kami,” timpal Neni.

Mereka berempat lantas berjalan melewati gang. Tiba-tiba, persis di depan gang, tak jauh dari Warung Penyet Gandhi, seorang anak cewek bertubuh gemuk berlari melintas di depan mereka. Anak cewek tersebut sempat berhenti di hadapan Emma, Neni, Weli, dan Indra. Ia tersenyum sebentar dan langsung berlari menjauh. “Hah, siapa anak itu? Kenapa tersenyum ke kita?” tanya Indra penasaran.

Indra lalu berlari menuju mulut gang. Ia menoleh ke arah kiri, tempat anak cewek itu berlari. Namun, tak ada tanda-tanda ada anak cewek. Saat itu tak ada orang di pinggir jalan. Hanya ada beberapa orang dewasa yang sedang makan di dalam Warung Penyet Gandhi. Keempat sahabat itu diam terpaku sambil kebingungan. (SELESAI)

 

Cerita: JFK      Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *