“Assalamualaikum..” ucap Emma dan Neni berbarengan saat tiba di rumah Weli. “Wa’alaikumsalam,” jawab seorang wanita dari dalam rumah. Pintu terbuka perlahan, senyum tersungging di wajah seorang wanita yang nampak awet muda. “Kalian pasti temannya Weli, ya? Tante Bundanya Weli,” ujar wanita itu dengan ramah.

“Ehmm… Iya, Tante. Kami berdua mau menjenguk Weli,” jawab Emma. “Ayo, langsung masuk saja ke kamarnya di lantai atas,” ujar Bunda Weli.

Emma dan Neni pun bergegas naik tangga. Persis di depan tangga, ada sebuah pintu kamar bertuliskan nama Weli. Emma lantas membuka pintu dengan perlahan. Weli yang sedang berbaring di atas tempat tidur terkejut bukan main. “Aduuuh… Kalian bikin aku kaget saja,” ujar Weli sambil menahan rasa takut. “Ahh.. Masa cuma begitu saja, kamu sudah ketakutan,” ledek Emma.

“Kamu kenapa bisa jatuh dari sepeda?” tanya Neni penasaran. “Tadi siang setelah aku mengantarkan Emma ke rumahnya, aku melewati sebuah perempatan. Tiba-tiba, aku melihat cewek berambut keriting berlari tanpa melihat kanan-kiri. Aku kaget ngerem mendadak, akibatnya jadi jatuh, deh,” cerita Weli. “Cewek keriting itu beneran mirip kamu, Neni. Persis sama yang kita lihat di sekolah saat berjalan ke kantin,” tambah Weli sambil melirik Emma.

Wajah Emma dan Neni pun nampak kebingungan. “Tapi, tadi kan aku pulang ke rumah dijemput Bunda. Sepulang sekolah, aku nggak kemana-mana,” kilah Neni. “Nah, aku juga bingung. Kenapa ada penampakan cewek yang mirip kamu sejak kamu pindah ke sekolah kita, ya?!” timpal Emma.

“Ehmm.. Sepertinya apa yang dikatakan Indra, benar. Dia bilang kan bakalan ada kesialan bila pantangan menerima siswa pindahan dilanggar,” tutur Weli. “Buktinya, aku kena sial jatuh dari sepeda, nih,” imbuhnya lagi sambil menunjukkan tangan kiri berbalut kain yang terkilir. “Bagaimana kalau besok kita tanya ke Pak Dadang, si penjaga sekolah. Dia kan sudah menjadi penjaga sekolah, sejak 25 tahun lalu,” ajak Emma. Neni dan Weli mengangguk setuju. “Kamu besok nggak usah masuk dulu, kamu masih butuh istirahat, Weli,” tutur Neni menasihati.

Keesokan paginya, Emma dan Neni sudah sampai sekolah pukul 6 pagi. Suasana masih terlihat sepi. “Ayo, kita cari Pak Dadang,” ajak Emma kepada Neni. Keduanya pun lantas berjalan menuju belakang sekolah, tempat biasanya Pak Dadang berada. “Itu dia Pak Dadang sedang menyapu halaman belakang,” teriak Emma.

Emma dan Neni lantas menghampiri Pak Dadang. “Halo Pak Dadang,” sapa Emma dengan ramah. “Halo juga. Wah, tumben kamu sudah datang jam segini, Emma,” ujar pria paruh baya yang rambutnya sudah memutih tersebut. “Ahh.. Pak Dadang bisa saja mentang-mentang aku sering telat. Hahaha… Oh iya, kenalkan ini siswi baru, dia baru saja pindah ke sini. Namanya Neni,” ucap Emma sambil menunjuk ke arah Neni.

Tiba-tiba, wajah Pak Dadang langsung berubah. Yang tadinya ramah, berubah menjadi ketakutan. “Lho, Pak Dadang kenapa? Kok kelihatan takut?” tanya Emma bingung. “Ehmm.. Ehmm.. Pak Dadang takut sial. Katanya sekolah ini nggak boleh menerima siswa pindahan. Kalau dilanggar, orang-orang yang dekat dengan siswa pindahan tersebut akan mengalami kesialan,” cerita Pak Dadang sambil bergegas pergi dengan raut wajah ketakutan. Emma dan Neni tambah bingung. Keduanya terdiam sejenak sambil berjalan menuju kelas.

Sesampainya di kelas, “Aduuuuh…” teriak Emma yang duduk di belakang Neni sambil membuka tasnya. “Kamu kenapa?” tanya Neni. “Uangku Rp 300 ribu untuk membayar buku, hilang!” jawab Emma panik. (BERSAMBUNG)

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *