“Siapa kira-kira cewek berambut keriting tadi, ya?” tanya Weli sambil mengunyah bakso di mulutnya. “Mungkin hanya mirip saja,” timpal Neni. “Ahhh… Tak mungkin, aku kenal semua siswa-siswi di SD Mutiara ini, nggak ada yang berambut keriting keriwil kayak kamu,” ujar Emma.

Ketiganya lantas terdiam sambil makan bakso di kantin. “Hei, kalian makan bakso nggak ngajak-ngajak!” ucap seorang anak laki-laki yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. “Ahhh… Kamu, Indra! Bikin kaget saja,” jawab Weli.

“Indra, kamu sudah kenal dengan teman baru kita?” tanya Emma sembari melirik ke arah Neni. “Hah?! Ada siswi pindahan?” ucap Indra yang wajahnya berubah menjadi ketakutan.

Indra lalu menjulurkan tangannya mengajak Neni berkenalan. “Halo, namaku Indra Siahaan, aku asli Batak,” ujar Indra sambil menahan rasa takut di wajahnya. “Hahaha… Tiap kali kamu berkenalan dengan orang, pasti kamu selalu bawa-bawa margamu,” timpal Emma. “Ehmm.. Iya, dong, aku kan bangga menjadi orang Batak,” tutur Indra.

“Tapi, ngomong-ngomong kenapa tadi kamu langsung kaget dan takut pas tahu Neni itu siswi pindahan?” tanya Weli. “Ehmm.. Karena sejak 20 tahun lalu, sekolahan ini tidak pernah dan tidak boleh menerima siswa atau siswi pindahan,” bisik Indra.

“Lho, memangnya kenapa?” tanya Weli yang makin penasaran. “Nah, kalau itu, aku nggak tahu alasannya. Tapi katanya, sih, kalau dilanggar bakalan ada kesialan,” tutur Indra menakut-nakuti. “Ahh.. Masa, sih?” ucap Emma tak percaya.

Kriiing.. Kriiing.. Kriiing..

Bel pertanda istirahat selesai, berbunyi kencang. “Sudahlah, jangan dengarkan omongan Indra. Dia sering berbohong, lebih baik kita kembali ke kelas, yuk,” ajak Emma sambil menarik tangan Weli dan Neni. “Yaahhh.. Terserah, deh, kalau nggak percaya,” timpal Indra.

“Indra itu sering berbohong. Dia dulu cerita pernah naik helikopter keliling Jakarta, lalu punya perkebunan pisang, punya usaha ayam goreng. Tapi, dia nggak pernah kasih buktinya, kayak foto atau membawa hasil kebunnya,” papar Emma. “Ohh.. Gitu, ya?!” ucap Neni sambil berjalan kembali ke dalam kelas. “Iya, jadi kita nggak usah percaya sama dia,” ujar Weli.

Sepulang sekolah, Neni dijemput Bunda. Sedangkan Weli dan Emma pulang naik sepeda berboncengan. “Neni, jangan lupa nanti sore kita berdua main ke rumahmu, ya! Nggak jauh dari Puskesmas, kan?” teriak Weli yang memboncengi Emma. “Iya, di seberangnya!” jawab Neni dari dalam mobil yang dikemudikan Bunda.

Jam menunjukkan pukul 4 sore. Namun, Emma dan Weli belum datang juga ke rumah Neni.

Tak berapa lama kemudian, “Neni.. Ada temanmu, nih!” teriak Bunda dari ruang tamu. “Iya, Bunda,” timpal Neni sambil keluar kamar dan menuju ke ruang tamu.

“Lho, kok, kamu sendirian, Emma? Weli kemana?” tanya Neni penasaran. “Tadi dalam perjalanan setelah mengantarkan aku pulang sekolah, dia jatuh dari sepeda. Tangannya terkilir. Jadi, sekarang aku mau ngajak kamu buat menjenguk dia,” cerita Emma.

Tanpa berpikir panjang, Emma dan Neni berangkat menuju rumah Weli. Untung saja, rumahnya tidak terlalu jauh. Sehingga, mereka cukup berjalan kaki.

“Ehmm.. Aku jadi menduga, jangan-jangan apa yang dikatakan Indra itu benar. Ada kesialan kalau pantangan sekolah kita menerima siswa pindahan dilanggar,” tutur Emma. “Hah, masa iya?” ucap Neni kebingungan. (BERSAMBUNG)

 

Cerita: JFK      Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *