Kutukan Kursi Kayu

Lisa melihat jam, waktu menunjukkan pukul setengah enam kurang sepuluh menit. “Pak Mul, aku turun di sini saja, jalanan macet banget!” kata Lisa pada sopirnya. “Iya, Non,” jawab Pak Mul.

Lisa turun dari mobil dan segera berlari. Sudah tiga bulan, Lisa ikut les bahasa Inggris di dekat sekolahnya. Salah satu guru les-nya, Kak Wina, sangat tegas, Kalau ada anak yang terlambat sedikit saja, pasti kena marah. “Mudah-mudahan Kak Wina belum datang,” gumam Lisa sambil buru-buru naik tangga menuju ruang lesnya di lantai dua.

“Kamu beruntung, Kak Wina belum datang,” seru Edo, teman Lisa. “Aduh, capek banget!” kata Lisa duduk di kursi sambil mengatur nafasnya. “Nih, minum,” kata Edo sambil memberikan jus kaleng pada Lisa. “Terima kasih, Edo, kamu baik, deh,” kata Lisa. “Nanti pinjam catatannya, ya,” ujar Edo nyengir. Lisa cemberut. “Huh, payah!”

Lisa, Edo, dan murid les lainnya menunggu Kak Wina dengan tertib. Lima belas menit berlalu, Kak Wina tak kunjung tiba. Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka, seorang wanita masuk dan berkata, “Maaf anak-anak, hari ini Kak Wina berhalangan hadir karena sakit. Jadi, les hari ini, Ibu yang mengajar.”

Setelah les selesai, Edo tampak khawatir. “Kamu kenapa, Edo?” tanya Lisa. “Jangan-jangan, Kak Wina jadi sakit gara-gara kutukan kursi kayu itu,” gumam Edo. “Apaan, sih, aku nggak ngerti?” timpal Lisa. “Ayo, aku tunjukkan kursi kayu yang kumaksud!” seru Edo pada Lisa.

Lisa dan Edo pergi ke lantai empat yang sepi. Mereka berjalan terus sampai ke ruang kelas di ujung, yang hanya diterangi satu lampu. Di ruang kelas itu, ada sebuah kursi kayu berwarna cokelat yang sudah tergores-gores.

Edo menunjuk ke kursi kayu itu dan bercerita.  “Kata karyawan sini, kursi kayu itu dikutuk. Dulu, ada murid yang selalu duduk di kursi kayu itu, saat ujian, dia tidak lulus. Sedangkan teman-teman sekelasnya lulus. Sejak itu, si murid tidak pernah datang ke tempat les ini lagi. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya. Dia menghilang begitu saja,” tutur Edo. “Beberapa saat setelah si murid menghilang, ada murid lain yang duduk di kursi itu. Dia langsung jatuh sakit. Anak-anak lain yang duduk di kursi kayu itu juga ikutan sakit,” lanjutnya.

Bentuk kursi kayu itu sebenarnya biasa, tapi, entah kenapa ada kesan mengerikan. Mungkin karena sudah banyak goresannya. Kenapa tidak ada yang mau memperbaiki kursi kayu itu atau membuangnya? Apa benar karena mereka takut kutukan?

“Lalu, bagaimana Kak Wina bisa duduk di kursi kayu?” tanya Lisa. “Aku dan teman-teman membicarakan kursi kayu terus di kelas. Kak Wina kesal, dia lalu membawa kursi kayu ke kelas dan mendudukinya!” jawab Edo.

“Aku jadi penasaran!” ujar Lisa membuka pintu ruang kelas lalu berjalan dan duduk di kursi kayu yang dikutuk. “Lisa, kamu parah!” seru Edo ketakutan. “Wajahmu lucu banget,” seru Lisa sambil tertawa. “Tenang saja, selama kita berani, kutukan apapun tidak ada yang bisa mengganggu,” ucap Lisa tersenyum percaya diri.

Tiga hari kemudian, Edo pergi ke rumah Lisa untuk mengembalikan catatan bahasa Inggris yang dipinjamnya. Dia mendengar kabar yang mengejutkan. “Non Lisa masuk rumah sakit tadi pagi, Nak Edo, Bapak belum tahu sakitnya apa,” kata Pak Mul, sopir Lisa. Edo langsung pucat. Dia terbayang kursi kayu di ruang kelas lantai empat. Apa ini hanya kebetulan? Atau kursi kayu itu benar-benar punya kutukan? (Teks: Seruni/ Ilustrasi: Just For Kids)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *