Kalian pasti mendengar, setelah sempat mereda, virus COVID-19 kembali mengganas dengan adanya varian Omicron yang mudah sekali dalam penularannya. Nah, seperti apa sih Omicron itu? Yuk, kita kupas tuntas!

Omicron pertama kali terdeteksi di Indonesia pada 15 Desember 2021. Saat itu, dari 3 orang petugas kebersihan di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta yang terjangkit virus COVID-19, salah satunya terserang varian baru yaitu Omicron. Namun petugas tersebut merupakan OTG (Orang Tanpa Gejala), tidak ada demam, tidak ada batuk-batuk, alias sehat-sehat saja.

Apa itu varian Omicron?

Varian Omicron pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan. Berdasarkan laman covid19.go.id, Omicron sudah terdeteksi di beberapa negara sejak pertama kali ditemukan di Benua Afrika. Varian ini disebut sebagai salah satu yang sangat cepat dalam menularkan virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, varian B.1.1.529 atau Omicron pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November 2021. WHO pun menetapkan varian Omicron sebagai VOC (variant of concern) dimana merupakan varian virus Corona yang menyebabkan peningkatan penularan serta kematian dan bahkan dapat mempengaruhi efektivitas vaksin. Sebelum Omicron, WHO telah menetapkan varian Alpha, Beta, Gamma, dan Delta sebagai VOC.

Omicron, Varian of Concern (VoC) kelima ini muncul seiring kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksinasi meningkat di dunia. Omicron mempunyai masa penggandaan kasus yang lebih cepat dibandingkan dengan varian Beta dan Delta. Kasus penyebaran Omicron paling awal diketahui dari Afrika Selatan adalah pasien yang terdiagnosis COVID-19 pada 9 November 2021.

Di Afrika Selatan, jumlah rata-rata kasus COVID-19 per hari sebelum ditemukannya Omicron pada tanggal 9 November 2021 adalah 280 kasus per hari. Setelah Omicron ditemukan, kasus pada minggu selanjutnya meningkat menjadi 800 kasus per hari.

Di Inggris, uji acak menggunakan metode PCR untuk deteksi COVID-19 dilakukan terhadap 100.607 bahan uji (sample) pada kelompok usia lebih dari 5 tahun dalam rentang waktu 5-20 Januari 2022. Hasil menyatakan bahwa Omicron teridentifikasi pada 99,2% bahan uji dan tiga kali lebih menular dibandingkan periode sebelumnya yang didominasi oleh varian Delta pada bulan Desember 2021.

Pada studi ini ditemukan 65% orang yang terinfeksi Omicron pernah terinfeksi COVID-19 sebelumnya, menunjukkan kemungkinan untuk mengalami infeksi berulang (reinfeksi). Studi juga mengungkap jika dalam satu rumah terdapat enam orang anggota keluarga, maka terdapat peluang terkena COVID-19 meningkat 1,6 kali lebih besar.

Pada Anak-anak

Sementara untuk anak-anak, Omicron dapat menginfeksi mereka yang sudah maupun belum divaksin. Studi ini menegaskan bahwa orang yang sudah divaksinasi belum tentu tidak terinfeksi. Namun, vaksinasi dapat mengurangi gejala yang lebih berat dan kemungkinan perawatan di rumah sakit.

Sangat penting untuk menerapkan protokol kesehatan di dalam rumah, terutama jika anggota keluarga terdiri lebih dari enam orang.

APAKAH VARIAN OMICRON BERBAHAYA?

Hasil analisa data yang disampaikan Kementerian Kesehatan untuk studi di Afrika Selatan, Inggris, dan Kanada, risiko keparahan akibat Omicron adalah sekitar sepertiga dari varian Delta. Risiko keparahan artinya pasien dikategorikan sebagai kelompok ‘severe’ atau pasien rawat inap dengan kondisi dirawat di ICU, menggunakan oksigen dan ventilator, menerima oksigenasi membrane ekstrakorporeal (ECMO), mengalami sindrom gangguan pernafasan akut (ARDS), dan/atau meninggal.

Risiko perawatan pasien di rumah sakit di Afrika Selatan untuk varian Omicron sebesar 23,4%, sementara varian Delta sebesar 62,6%. Risiko perawatan Omicron yang lebih kecil dari pada Delta di rumah sakit juga dialami oleh 3 negara lainnya, yaitu Inggris, Skotlandia, dan Kanada.

Potensi Omicron mengakibatkan perawatan pasien di RS di sebagian besar negara menunjukkan angka yang lebih kecil dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya, maka perlu tetap waspada dan sangat penting untuk terus mendorong pelaksanaan vaksin lengkap dan booster serta keberlanjutan pelaksanaan protokol kesehatan.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *