Pada hari Kamis (03/02/22) lalu, Just For Kids dan beberapa awak media lain berkesempatan mengunjungi SOS Children’s Villages Semarang secara virtual. Agenda ini berlangsung sangat seru. Walau terbatas jarak, namun tak dipungkiri, kehangatan terbalur jelas di antara para penghuni, baik interaksi antar anak-anak, maupun anak asuh dengan ibu asuhnya.

Untuk diketahui, SOS Children’s Villages Indonesia sendiri merupakan organisasi yang fokus pada pengasuhan alternatif berbasis keluarga dan penguatan keluarga rentan, yang memiliki komitmen untuk aktif menyuarakan pemenuhan hak-hak anak Indonesia. Selama 49 tahun berdiri di Indonesia, SOS Children’s Villages memastikan anak-anak dibesarkan dengan pengasuhan berbasis keluarga dan didampingi untuk mendapatkan pendidikan serta peningkatan kapasitas yang mereka butuhkan. Dengan total 940 anak yang kehilangan pengasuhan orang tua dibesarkan di 8 lokasi SOS Children’s Villages di Indonesia. Selain itu, SOS juga memiliki program penguatan keluarga bagi keluarga rentan di 10 kota di Indonesia, salah satunya Semarang.

Kemeriahan peringatan 37 Tahun SOS Children’s Villages Semarang

SOS Children’s Villages Semarang telah berdiri sejak 31 Januari 1985 dan pendiriannya diresmikan langsung oleh pendiri SOS Children’s Villages, Hermann Gmeiner. Jadi, 37 tahun sudah usianya. Jika diibaratkan dengan usia manusia, sudah sangat dewasa.

Terletak di kota Semarang, provinsi Jawa Tengah yang berada di pesisir utara pulau Jawa, SOS Children’s Villages Semarang sejak awal berdiri hingga kini tetap memegang teguh komitmennya.Yakni, untuk memberikan anak-anak yang telah atau berisiko kehilangan pengasuhan orangtua kebutuhan utama mereka, yaitu keluarga dan rumah yang penuh kasih sayang.

Yuk, Lihat Lebih Dekat!

Kunjungan virtual ke SOS Children’s Vilages Semarang dipandu oleh Kak Galih dan Kak Shinta

Jadi penasaran kan seperti apa sih wujud SOS Children’s Villages Semarang? Nah, kunjungan virtual hari itu dipandu oleh Kak Galih Heru Garbo dan Kak Shinta langsung dari Semarang. Adapun area SOS Children’s Villages Semarang  terdiri dari 14 rumah keluarga, sebuah rumah pimpinan desa, rumah untuk Tante (asisten Ibu yang membantu Ibu SOS) dan berbagai gedung yang berdiri di atas lahan seluas lebih dari tiga hektar. Wah, cukup luas, ya!

Salah satu yang terdapat di sana adalah gedung kegiatan. Saat itu gedung kegiatan sedang lengang alias sepi. Diterangkan oleh Kak Galih, di gedung tersebut, umumnya anak-anak beraktivitas. “Biasanya menari,” katanya. Area tersebut dilengkapi pula dengan ruang komputer. “Nah, di sini, tiap hari Selasa, Rabu, Kamis, anak-anak les komputer dengan fasilitator,” lanjut Kak Galih.

Kak Shinta sedang menjelaskan kegiatan yang berlangsung di pendopo SOS Children’s Villages Semarang

Lantas, tour dilanjutkan oleh Kak Shinta yang sedang berada di area yang dinamakan pendopo.  Gadis manis tersebut menyebut area pendopo adalah jantung-nya SOS Children’s Villages Semarang. “Nah, ini pusatnya SOS Semarang. Arsitektur pendopo ini mengusung tema khas Jawa, yaitu joglo. Digunakan untuk berbagai kegiatan misalnya acara anak-anak, dan banyak lagi,” katanya.

Kebetulan saat itu, pendopo sedang dipergunakan untuk latihan pencak silat. Tampak beberapa anak lelaki maupun perempuan mengenakan seragam pencak silat. Mereka tampak serius berlatih, yang sesekali diiringi senda gurau. Hangat sekali! “Kebetulan nih sekarang sedang ada latihan pencak silat, ini biasanya dilakukan seminggu 2 kali,” terang Kak Shinta sambil menyapa anak-anak yang sedang berlatih.

Tampak anak-anak SOS sedang menikmati waktu sore hari dengan bermain bola di lapangan

Di area yang sama, terdapat lapangan. Kak Shinta berjalan sambil menyapa beberapa bocah lelaki yang sedang bermain sepak bola. Tak jauh di samping lapangan, terdapat pula Taman Kanak-Kanak SOS yang menyediakan 90 bangku dan terbuka untuk umum. “Murid-murid di TK ini berasal dari anak-anak di SOS maupun dari luar SOS (umum),” imbuh Kak Shinta.

Sementara untuk anak-anak yang telah duduk di bangku sekolah, mereka bersekolah di sekolah umum atau swasta yang berlokasi tidak jauh dari Village. Hal ini diharapkan dapat membantu mereka untuk berinteraksi sosial dengan masyarakat sekitar.

Wisma Bunda dan Rumah Keluarga

Lalu, Kak Shinta mengajak peserta virtual berkunjung ke area yang disebut Wisma Bunda. Ada 5 bangunan (rumah) di sana. Masing-masing rumah ditempati oleh ibu asuh yang sudah pensiun. Seperti yang tadi disebut, usia SOS Children’s Villages Semarang sudah 37 tahun, tentu sudah banyak pula anak-anak yang dulu dirawat, telah dewasa dan mandiri. Nah, ibu yang dulu merawat, kini pensiun dan hidup tenang di Wisma Bunda.

Wisma Bunda menjadi tempat tinggal para ibu asuh yang sudah pensiun

“Rumah didesain simpel supaya ibu-ibu mudah beraktivitas sehari-hari.Di waktu senggang, para ibu tersebut suka bercocok tanam,” terang Kak Shinta.

Namun, bukan berarti hubungan anak dengan ibu asuhnya berhenti begitu saja setelah mereka mandiri dan meninggalkan SOS Children’s Villages Semarang. Jika salah satu ibu berulang tahun, Wisma Bunda bisa menjadi sangat ramai. “Anak-anak yang kini dewasa suka berkumpul di rumah ini jika ibu mereka berulang tahun, mereka merayakan bersama-sama,” ujar Bapak Ardik Setiawan, Village Director SOS Children’s Villages Semarang. Wah, terbayang hangat dan serunya, ya!

Di akhir kunjungan, Kak Galih dan Kak Shinta mengajak untuk mengunjungi salah satu rumah keluarga. Tampak seorang ibu menyambut dengan ramah. Rumah tampak hangat dan rapi. Ada 4 kamar di sana, 3 kamar untuk anak-anak dan 1 kamar untuk si ibu. Ada ruang makan, ruang tamu, kamar mandi, dan lainnya. Semua tampak rapi dan terlihat nyaman ditempati.

Saat itu, sang ibu hanya ditemani oleh 2 remaja putri yang tampak malu-malu tersorot kamera. “Anak-anak yang lain sedang berkegiatan di luar,” jelas sang ibu tersenyum.

Ruangan makan di salah satu rumah ibu asuh dan anak-anak asuhnya

Siapkan Anak untuk Mandiri

SOS Children’s Villages Semarang tidak hanya sekedar memberikan pengasuhan berbasis keluarga, tetapi juga memberikan bekal bagi masa depan anak. Melalui berbagai kegiatan dan program, SOS Children’s Village Semarang mempersiapkan anak-anak untuk mandiri dan meraih masa depan yang cerah. Dalam mewujudkan hal itu, SOS Children’s Village Semarang banyak bekerja sama dengan berbagai pihak, baik dari pemerintahan maupun mitra perusahaan dalam memberikan edukasi dan pelatihan di berbagai bidang bagi anak-anak dan para remaja.

“Kami berkomitmen untuk membantu remaja mempersiapkan kemandirian. Dengan berbagai edukasi, pelatihan, dan kompetisi saya melihat langsung semangat anak-anak kami dalam meraih masa depan seperti yang mereka cita-citakan. Mereka tidak hanya berfokus pada hasil, tapi mereka juga fokus dalam menjalani proses kemandirian yang sesungguhnya. Saya berharap mereka dapat terus mengasah kemampuan mereka, pantang menyerah meraih cita-cita, dan apa yang sudah dipelajari dapat berguna bagi masa depan mereka. Itulah yang kami lakukan, membangun jiwa raga mereka dengan kasih sayang,” ungkap Bapak Ardik.

Tahun lalu SOS Children’s Village Semarang mengadakan “Kompetisi Perintisan Usaha Remaja” dengan peserta dari remaja SOS dan remaja dampingan yang terbagi dalam 6 kelompok usaha. Mereka diajarkan mengenai bagaimana memulai dan menjalankan usaha sekaligus didampingi langsung oleh profesional dan relawan dari mitra korporasi swasta. Di akhir kompetisi pada Desember 2021, terpilihlah “Yaminki” sebagai pemenang yang didirikan oleh 6 remaja putri SOS. Yaminki memproduksi serta menjual mie yamin yang terjangkau, lezat dan porsi yang pas, serta menyasar pasar masyarakat luas. Mereka memenangkan uang tunai sebesar Rp 2.500.000,- sebagai modal lanjutan untuk usaha tersebut.

SOS adalah Keluarga

Putri Puji Lestari, salah satu remaja putri SOS Children’s Village Semarang yang mencetuskan ide bisnis “Yaminki” sangat merasakan betul betapa SOS Children’s Villages telah mengubah hidupnya. “Bagi saya, SOS adalah rumah. Di sini saya bisa merasakan bahwa keluarga bukan hanya berasal dari ikatan darah. Tapi keluarga, juga adalah mereka-mereka yang mengulurkan tangan ketika kita terjatuh, terpuruk, putus asa. Mereka yang bisa menerima kita dengan keadaan apapun. Saya sangat bersyukur bisa tinggal di SOS dan bisa mendapatkan ibu yang selalu support saya,” katanya.

Putri Puji Lestari, Remaja SOS Children’s Villages Semarang

Putri juga berbagi kenangan manis saat berlibur ke kota Malang bersama keluarga asuhnya. “Kami berburu kuliner tiap hari, mencicipi makanan khas Malang. Kami belajar banyak di sana, mengunjungi museum, belajar rumah adat, pakaian adat. Kami juga bermain di taman bermain, mencoba berbagai wahana seperti rumah hantu, rumah kaca. Saya bahagia banget, merasa punya keluarga seutuhnya, saya bisa berlaku sebagai kakak yang menjaga adik-adik, bisa bercanda, berfoto, makan bersama, senang sekali,” ujar remaja manis tersebut dengan mata berbinar-binar.

Hal senada diungkapkan oleh Ibu Riri Wahyuwulan, salah satu ibu di SOS Children’s Village Semarang. “Menjadi salah seorang Ibu di SOS Children’s Villages Semarang merupakan suatu kebanggaan bagi saya. Saya melakukannya dengan sepenuh hati. Saya tumbuh besar dengan keluarga yang hangat dan mencintai saya, saya ingin membagikan perasaan tersebut untuk anak-anak yang belum seberuntung saya. Keluarga juga bukanlah semata-mata dinilai dari ikatan darah, tapi keluarga adalah sosok yang tiap hari mendampingi, mengayomi dan melindungi kita. Saya ingin menjadi berkah tersebut untuk anak-anak SOS Children’s Village Semarang,” ujarnya.

Riri Wahyuwulan, Ibu di SOS Children’s Villages Semarang

Lakukan Pendampingan

Dengan merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia sejak awal tahun 2020, SOS Children’s Villages Semarang memberikan perhatian khusus pada anak-anak yang kehilangan pengasuhan akibat pandemi Covid-19. Bekerja sama dengan Dinas Sosial dan Dinas PPPA Semarang, SOS Children’s Village Semarang menerima data anak-anak yang kehilangan orangtua akibat pandemi Covid-19, lalu melakukan assessment kepada setiap anak dan keluarga agar dapat memberikan bantuan yang tepat sasaran.

(kiri – kanan) Raissa (Host), Gregor Hadi Nitihardjo, National Director SOS Children’s Villages Indonesia, Novita Irawati Tandjung – Diputy Director Fund Development & Communications SOS Children’s Villages Indonesia dan Ardik Setiawan – Village Director SOS Children’s Villages Semarang dalam acara Virtual Media trip, Kamis (03/02/22)

Keluarga rentan yang didampingi dalam program penguatan keluarga dibantu untuk mendapatkan berbagai macam bahan pokok atau didukung untuk menghasilkan pendapatan tambahan. Dengan menghadiri lokakarya dan kelompok swadaya, keterampilan orang tua dan kesadaran akan hak-hak anak meningkat. Secara berkala, SOS Children’s Village Semarang juga menyediakan pemeriksaan kesehatan dan terapi fisik untuk setiap keluarga yang membutuhkan.

“Semua anak adalah anak kita. Ini sebuah prinsip yang terus kita pegang dari awal berdirinya SOS Children’s Villages Indonesia, termasuk di Semarang. Sebagaimana kita mengusahakan kepentingan terbaik bagi anak kita, setiap anak yang diasuh atau didampingi di SOS Children’s Villages juga diberikan kesempatan yang sama. Jiwa raga mereka dibangun dengan kasih sayang dari kehadiran ibu dan seluruh keluarga SOS. SOS Children’s Villages akan selalu hadir untuk setiap anak yang membutuhkan kasih sayang keluarga,” ujar Bapak Gregor Hadi Nitihardjo, National Director SOS Children’s Villages Indonesia.

Di masa depan, SOS Children’s Village Semarang berharap untuk dapat terus membangun keluarga yang kuat dan penuh kasih sayang bagi anak-anak yang ditinggalkan, rentan, dan kehilangan pengasuhan orangtua. “Harapan terbesar saya, anak-anak tidak boleh terpisah dari orangtua,” tutup Bapak Hadi.

Foto: Efa

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *