Kunci Agar Tak Mudah Tersulut Emosi Hadapi Anak di Masa Pandemi

Merujuk pada survei yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada akhir Juli lalu, disebutkan bahwa kondisi pandemi memberikan beban yang sangat besar pada sosok ibu. Kondisi ini memaksa anak-anak harus melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara online di rumah. Ini membuat tugas ibu menjadi lebih berat. Selain mengurus rumah, keluarga, ia juga bertindak sebagai ‘guru’ di rumah, yang mendampingi anak belajar online. Keadaan menjadi semakin sulit saat si ibu juga bekerja. Beban pekerjaan, ditambah tugas menjadi istri, ibu sekaligus ‘guru’ tak jarang membuat para ibu menjadi stres dan gampang tersulut emosinya.

Hal ini sangat wajar terjadi, terutama di masa sulit seperti pandemi yang menimbulkan banyak tekanan. Demikian diungkapkan oleh Najeela Shihab, Head of Sekolah.mu pada acara webinar Kelas Pintar – Pendidikan dalam rangka 2nd Anniversary Sahabat Ibu Pintar yang diselenggarakan oleh Blibli, hari ini.

Kenali Kebutuhan Ibu

Meski begitu, ujarnya, orangtua sebaiknya memang harus bisa mengendalikan emosinya. “Tanpa disadari, orangtua jadi lebih mudah emosional karena kebutuhan diri sendiri yang belum terpenuhi. Jadi, kenali lebih dulu apa yang menjadi kebutuhan kita saat itu,” katanya.

Misalnya saja, Moms dalam keadaan lapar dan kurang energi, masalah pekerjaan kantor yang belum selesai, dan sebagainya. Ini membuat Moms jadi tidak sensitif dan responsif terhadap kebutuhan anak. “Kadang-kadang kita marah sama anak karena mereka tidak mengerjakan tugas. Padahal mungkin kita marah pada diri sendiri. Jadi hati-hati, jangan sampai anak jadi pelampiasan emosi kita,” ujarnya.

Baca Juga: Rayakan Ulang Tahun Sahabat Ibu Pintar Ke-2, Blibli Gelar Program Parenting Happy Hadapi Pandemi

Untuk itu, Psikolog yang juga dikenal sebagai penggiat pendidikan ini menganjurkan untuk melakukan break atau me time agar emosi tak gampang meledak. “Sisihkan waktu 15 – 30 menit untuk memanjakan diri sendiri. Minta waktu privasi yang tidak boleh diganggu sama sekali sama anak, entah itu tidur sebentar, menanam tanaman hijau, menonton, dan sebagainya,”

Seimbangkan Waktu On-screen dan Off-screen

Lalu, hal penting lainnya yang tak boleh dilupakan adalah menyeimbangkan antara waktu on-screen dan off-screen. “Harus ada keseimbangan. Kuncinya disiplin. Tentukan waktu kapan kita butuh pakai gawai dan kapan kita perlu melakukan aktivitas lain,” katanya.
Misalnya, bagi jadwal kapan Moms menemani anak belajar online, kapan meeting online atau melakukan pekerjaan kantor, kapan perlu bersosialisasi di media sosial. Di luar itu, sisihkan pula waktu untuk berkebun, memasak, atau hal-hal lain yang disukai oleh Moms.

Jangan Sungkan Minta Bantuan

Najeela juga menegaskan agar para ibu tidak sungkan untuk meminta bantuan bila merasa kesulitan mengurus anak. “Jangan merasa harus menjadi superwoman. Mintalah bantuan kepada support system terdekat entah itu suami atau orangtua. Banyak ibu-ibu yang cerita bahwa suaminya tidak mau turut berbagi peran padahal mungkin saja si ibu yang gengsi untuk meminta bantuan,” imbuh Kakak dari presenter kondang, Najwa Shihab.

Hal ini turut diamini oleh Donna Agnesia, Pekerja Seni dan Ibu Rumah Tangga. Ibu tiga anak ini mengaku dari dulu selalu membicarakan soal pembagian peran mengurus anak bersama sang suami tercinta, Darius Sinathrya. Ia tak merasa malu atau sungkan sama sekali untuk meminta bantuan suaminya itu bila dirasa perlu.

Ia juga setuju bahwa Ibu perlu mencari dukungan dari sekitar. ” Kita juga butuh tempat bicara, bisa suami, teman dekat. Selain berbagi masalah, juga berbagi cerita. Itu bisa menjadi stress release. Atau bisa pula memanfaatkan komunitas seperti Sahabat Ibu Pintar ini, dengan para Bubu lainnya, saling sharing tentang anak misalnya. Jangan sampai stres kita limpahkan kepada anak-anak kita. Mereka tidak tahu apa-apa sebab mereka belum pernah jadi orangtua. Tapi, kita sudah pernah merasakan menjadi anak-anak. Paling tidak, kita tahu jalan keluarnya. Misalnya cari ketenangan dulu, me time sebentar, misalnya tidur atau istirahat sehingga stres kita berkurang,” ujar Donna.

Selalu Komunikasikan dengan Anak

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dengan anak. Apalagi tiap anak punya karakter masing-masing. Kenali karakter anak dan ajak bicara pelan-pelan. “Saya sekarang jarang sekali bicara dengan nada tinggi. Kuncinya komunikasi. Menghadapi 3 anak itu tidak gampang. Ada saja masalahnya. Biasanya saya ajak bicara mereka satu persatu. Saya jelaskan duduk persoalannya, mengapa tidak boleh, mengapa saya marah, dan sebagainya. Tapi, bila saya yang salah, saya tak akan sungkan pula meminta maaf pada anak-anak,” lanjut Donna.

Acara webinar Kelas Pintar – Pendidikan yang diselenggarakan oleh Blibli ini turut dihadiri oleh para Bubu (sebutan ibu-ibu yang menjadi anggota komunitas Sahabat Ibu Pintar), serta sejumlah awak media.

Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian program “Parenting Happy Hadapi Pandemi” yang berlangsung secara livestream mulai 25 hingga 30 September 2020, sebagai bentuk perayaan ulang tahun kedua Sahabat Ibu Pintar.

Foto : Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *