Di Kerajaan Kaya, hiduplah bangsa gagak yang sangat bangga pada diri mereka sendiri. “Kami adalah burung yang paling cerdik di antara semua burung lain,” kata Kuka si gagak pada suatu hari pada Bon si ayam. “Senjata kami adalah otak yang cerdik dan brilian,” tambah Kuka. “Karena itulah kalian bekerja sama dengan manusia. Mereka menjadikan kalian pemungut harta,” kata Bon. “Benar sekali, tidak seperti kalian yang hanya dijadikan hewan ternak,” kata Kuka pada Bon.

Kuka adalah seekor burung gagak yang dipekerjakan oleh seorang manusia bernama Gobu. Sejak kecil, Kuka berbakat dalam mengambil emas, berlian, dan barang-barang berharga lainnya. Kuka mencari semua barang berharga itu dan memberikannya kepada Gobu, membuatnya hidup penuh kemewahan. Gobu hanya membalas Kuka dengan pujian, tapi itu cukup bagi Kuka, karena membuatnya bangga.

Suatu hari, terjadi kejadian yang membuat bangsa gagak terkejut. Seekor gagak  telah mengambil kalung emas milik Raja. Raja sangat marah. Walaupun kalung emas miliknya telah kembali, dia tetap ingin pelakunya dihukum. Si pemilik gagak dengan cepat mengatakan kalau si gagak sendirilah yang ingin mencuri. “Yang Mulia, gagak burung yang cerdas, tapi sayang sekali mereka terlalu cerdas sehingga bisa melawan manusia pemilik mereka,” kata si pemilik yang ingin mencari keselamatannya sendiri.

Raja yang mempercayai hal itu lalu menghukum semua gagak. Mereka tidak lagi boleh bekerja bersama dengan manusia. Dalam waktu singkat, burung-burung gagak yang memperoleh kebanggaan karena dipekerjakan manusia, menjadi burung-burung yang paling dibenci di Kerajaan Kaya.  Kuka diusir oleh Gobu pemiliknya, padahal burung itu sudah berbuat banyak untuk Gobu.

Kuka yang diusir dan kehilangan pekerjaan bingung harus berbuat apa. Dia hanya bisa bertengger di atas pohon sambil merenungi nasibnya. “Kuka!” suara Bon si ayam menyadarkan Kuka. “Aku ikut sedih mendengar apa yang terjadi denganmu dan gagak lainnya,” kata Bon dengan tulus. Mendengar kebaikan Bon, Kuka pun menangis. “Maafkan aku, Bon. Aku selalu menyombongkan diri padamu, tapi aku sadar sekarang kecerdikan tak ada artinya dibandingkan dengan kebaikan,” kata Kuka. “Maukah kau membantuku dan majikanku di peternakan?” tanya Bon. “Tentu saja!” jawab Bon.

Kuka kini bekerja di peternakan Bon. Dia membantu mengumpulkan jerami untuk kandang ayam. Suatu hari, dia menerima makanan dari majikan Bon, si pemilik peternakan ayam. Kuka terkejut. Selama ini dia tidak pernah diberikan apa pun oleh Gobu, hanya pujian saja. “Semua yang sudah bekerja keras wajib menerima pujian dan upah. Kalau kau mau kau boleh mengajak teman-temanmu untuk bekerja di sini,” kata si pemilik yang bijaksana.

Kuka yang gembira lalu mengajak gagak-gagak lain bekerja di peternakan Bon. Mulanya mereka menolak. “Jika kalian bangga dengan pekerjaan yang dulu kita lakukan, itu salah. Kita mengambil barang milik orang lain. Kini kita bisa bekerja dengan benar dan adil, serta menerima upah dari majikan baru yang bijaksana dan baik,” kata Kuka. Mendengar itu, gagak-gagak lain menjadi sadar dan mengikuti Kuka. Kini mereka adalah burung pekerja keras, sederhana, dan tidak sombong.

 

 

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *